Reksi Di Toko Baju
Hai,
kenalin aku Reksi, karyawan kantor biasa yang hobi jogging dan perawatan diri
ekstrem. Tubuhku terbentuk hampir sempurna: perut sixpack, dada bidang
menonjol, pinggang ramping, pantat bulat montok, kulit putih mulus tanpa bulu
sedikit pun. Yang paling aku banggakan adalah ukuran kontolku, dalam keadaan
lemas sudah 14 cm, dan saat tegang bisa mencapai 18 cm panjang tebal.
Bentuk
tubuh yang nyaris ideal itu membuatku doyan pamer. Semua pakaianku selalu
ketat, menonjolkan lekuk sexy-ku bahkan saat ke kantor. Tak heran jika di
kantor aku jadi bahan omongan: “Reksi punya kontol gede banget, pantatnya juga
sexy abis.” Dan saat jogging, aku memilih baju ketat atau longgar tapi terbuka,
dan jarang sekali pakai celana dalam.
Nafsu
ku yang tinggi membuatku mudah terangsang, sering coli di tempat umum: kafe,
warnet, bus, toilet umum, bahkan exhib di taman, bangunan terbengkalai, hingga
atap gedung kantor. Sayangnya, selama ini aku selalu melakukannya sendirian.
Belum pernah menemukan partner yang mau diajak melakukan hal-hal gila seperti
itu.
Sore
itu, langit mendung kelabu. Aku berniat jogging di taman kota. Aku mengenakan
singlet longgar dengan potongan samping terbuka lebar dan celana pendek putih
ketat yang panjangnya jauh di atas lutut hampir mirip celana dalam. Di depan
cermin, aku memutar tubuhku, tersenyum puas.
“Sexy
banget,” gumamku. Belum juga keluar rumah, kontolku sudah setengah tegang.
Untung singletku longgar di bagian depan, sehingga sedikit tertutup. Tapi
bagian belakang singlet itu pendek, mencetak sempurna bentuk pantat bulatku,
belahannya terlihat jelas.
Di
taman kota, aku langsung jadi pusat perhatian. Pantatku yang sekal bergoyang
naik-turun saat berlari terlihat kenyal dan pulen. Angin sesekali menyibak
singletku, memperlihatkan cetakan kontol tebal dari samping. Orang-orang yang
lewat melirik, beberapa berbisik sambil tersenyum.
Tiba-tiba
hujan turun deras. Aku buru-buru melipir berteduh di tenda besar yang menjual
pakaian bekas impor. Aku tak mau sekadar numpang teduh, jadi mulai
melihat-lihat koleksi.
Tenda
itu semi-permanen, luas sekitar 9x4 meter. Bagian belakang ditutupi tanaman
tinggi yang jadi pagar alami, sisi kanan-kiri ditutup plastik tebal agar
tempias hujan tak masuk. Di dalam ada tiga lelaki: Hasman sang pemilik, dan dua
pegawainya, Joko dan Asep, ketiganya bertubuh menggoda versi “tukang”.
Hasman
bertubuh besar berotot, kulit sawo matang, rambut cepak ala tentara. Ia memakai
kaos singlet ketat yang mencetak jelas bisep keras dan sixpack-nya, ditambah
celana jeans usang. Joko tinggi kurus berotot, kulit hitam kecoklatan, tak
berbaju hanya celana kolor bola tipis selutut.
Jendolan
di selangkangannya terlihat jelas, ia tak pakai celana dalam. Asep tubuhnya
proporsional, memakai kaos tipis dan celana jeans pendek sobek-sobek di pangkal
paha, bulu jembutnya sedikit menyembul saat duduk.
Aku
bertanya-tanya dalam hati: ini toko baju apa toko material? Tapi justru itulah
yang membuatku senang. Aku lebih suka tipe lelaki “tukang” kasar begini
ketimbang pria gym putih rapi seperti diriku. Bagi aku, aura maskulin mereka
jauh lebih sexy.
Sejak
masuk, aku jadi pusat perhatian. Pengunjung lain, Hasman, Joko, dan Asep semua
melirik takjub. Kaki aku mulus seperti perempuan, badanku putih tanpa bulu
ketiak, dada bidang dengan putting menonjol terlihat dari samping singlet
longgar. Hasman yang sedang duduk beberapa kali melirik pantat aku yang pulen,
juga cetakan kontol tebal di selangkangan.
Aku
berbincang dengan Asep yang melayaniku. Ternyata Hasman juga punya toko
material, dan hari ini Joko serta Asep membantu memperbaiki tenda. Pegawai
biasa sedang libur. “Pantesan pada kayak tukang,” batin aku sambil tersenyum
dalam.
Mataku
tertuju pada celana pendek jaring-jaring transparan. Awalnya malu bertanya,
tapi aku berpikir: ini kesempatan menggoda mereka. Belum sempat menunjuk, Asep
sudah sigap mengambilnya.
“Bang,
ini koleksi cuma satu. Badan Abang sexy, pasti bagus pakai yang kayak gini,
hahaha,” katanya sambil nyengir nakal.
Aku
tertawa, jantungku berdegup kencang.
“Beneran
transparan banget ya? Jadi kelihatan dong, haha.”
“Iya
Bang, kayak celana Abang sekarang nerawang, cuma nggak jaring-jaring aja,”
jawab Asep sambil menyolek pelan pantat aku.
Aku
tak marah malah kontolku berkedut, mulai terangsang.
Hasman
mendekat, ingin melihat aku dari dekat.
“Ini
impor bekas tapi kualitas bagus, Bang. Kalau ragu, cobain aja di sini.”
Aku
tertantang. Kontolku sudah setengah tegang, pikiranku melayang liar. Asep
menambahkan, “Ambil singlet jaring yang senada juga, Bang. Dijamin sexy abis,
haha!”
Aku
mengambil keduanya.
“Kamar
gantinya mana, Bang?”
Hasman
tersenyum nakal.
“Nggak
ada kamar ganti, Bang. Cobain langsung di sini aja, gapapa. Daripada nanti
nggak pas, nggak bisa kembalikan.”
Aku
yang memang exhibitionist sejati justru senang. Kontolku semakin keras. Aku
mulai membuka singlet lamaku. Kini aku hanya memakai celana pendek ketat,
cetakan kontol tegangku sangat jelas. Hasman dan Asep melongo, mata tertuju ke
selangkangan.
Aku
berpura-pura memeriksa singlet jaring dulu, memutar-mutarnya lama sebelum
memakai. Singlet itu kekecilan, bagian bawah hanya sampai pusar, sehingga ada
celah terbuka antara singlet dan celana. Cetakan kontolku kini tak lagi
tertutup.
“Gimana,
Bang? Bagus nggak? Kayaknya kekecilan ya,” tanya aku sambil pose ala model.
Asep
menyentuh bagian bawah singlet, berusaha menarik ke bawah, tangannya tak
sengaja beberapa kali mengenai kontol aku. Hasman ikut mencoba, hanya untuk
memastikan kekerasan kontol itu. Mereka terkejut, benar-benar tegang keras.
Aku
akhirnya melepas singlet itu. Sebelum memakai baju lama, Hasman menahan
tanganku.
“Jangan
dipakai dulu, Bang. Pilih yang lain aja biar nggak repot lepas pasang.”
Asep
menambahkan, “Atau coba celana jaringnya dulu, Bang.”
Aku
ragu ini tempat umum. Tapi hujan masih deras.
“Mmm…
tapi kalau aku coba di sini, aku telanjang bulat, Bang. Gapapa?”
“Gapapa
lah, lagi hujan, nggak ada orang. Cuma kita aja,” jawab Hasman semangat.
Aku
semakin terangsang. Pre-cum mulai membasahi celana pendekku.
“Beneran
gapapa ya? Aku nggak pakai celana dalam loh.”
Hasman
tertawa.
“Santai
aja, laki semua di sini. Kalau ada orang datang, paling malah kagum lihat badan
sexy kayak gini, haha!”
Joko
yang tadinya diam di belakang bangkit, mendekat dari belakang, lalu tiba-tiba
menurunkan celana pendek aku sampai lepas.
“Udah,
santai, lepas aja, Bang.”
Slorooottt
baaaa, aku telanjang bulat dengan kontol ngaceng di toko baju dan dikelilingi 3
pejantan.
Aku
kaget tapi tak melawan. Kini aku telanjang bulat, buru-buru menutupi kontol
tegangku.
“Sorry,
Bang… dingin soalnya hujan.”
Ketiganya
tertawa lepas. Joko menarik tangan aku.
“Gpp,
Bang, santai aja. Jangan ditutup.”
Aku
akhirnya menurut, mengambil celana jaring untuk dicoba. Saat membungkuk, pantat
bulatku menyentuh selangkangan Joko, aku merasakan kontol Joko juga sudah
tegang.
Setelah
memakai, celana jaring itu kekecilan, bagian pantat tak tertutup sempurna,
seperti thong.
“Wah,
kecil banget, Bang. Ini sih udah kayak celana dalam aja.”
Ketiga
lelaki itu sudah terangsang berat, tapi saling pandang dan sepakat: jangan
buru-buru, nikmati dulu permainan ini.
Joko
membenarkan celana jaring itu dengan mengangkatnya tinggi, jari tengahnya
sengaja menelusup ke belahan pantat aku. Tangan kirinya meremas pantat bagian
bawah. Aku secara refleks mengangkat pantat sedikit, nungging kecil.
“Ahh,
Mas… kayaknya nggak bisa dipaksa, ahh…” desahku.
Hasman
dan Asep ikut memeriksa dari samping, tangan mereka bergantian menyentuh kontol
aku yang kini keras maksimal.
Akhirnya
mereka serempak menurunkan celana jaring itu lagi. Aku telanjang bulat kembali.
“Kalau
mau celana dalam bekas aja bang, ada yang bagus dan sudah disterilkan,” kata
Hasman.
Asep
mengambil tumpukan celana dalam sexy dari bawah. Aku memilih sambil nungging,
memamerkan pantat montokku.
Joko
langsung berdiri di belakang, memeluk dari belakang seolah membantu memilih.
Kontolnya yang tegang menekan belahan pantat aku.
“Ahhh…
Bang, yang mana yang bagus ya, ahhh… sssh…”
“Ini
mantap nih,” kata Joko sambil mengambil jockstrap yang belakangnya terbuka
total.
“Iya,
Bang… aku pilih yang ini aja, ahhh…”
“Hahaha,
anjing, emang mau pamer pantat kan?” Joko berbisik di telinga aku sambil
menekan kontolnya lebih keras ke pantat aku.
“Aaah
iya, Bang… aku coba dulu ya…”
Aku
memakai jockstrap itu. Bagian depan terlalu kecil untuk kontol 18 cm-ku yang
tegang, sehingga menonjol keluar. Pantatku kini benar-benar terbuka lebar.
Hasman
“Hahaha bagus, makin sexy! Tapi kontol lu ngaceng banget, nggak muat ya. Dasar
sangean hahahah.”
Asep
“Gila, kontolnya merah banget kayak mau crot.”
Joko
“Hmmm… musti dilemesin dulu nih. Kocok sampe crot, baru coba lagi.”
Aku
“Ahh malu, Bang… masa ngocok di sini?”
Hasman
“Anjing, dari tadi telanjang nggak tahu malu, masih nawar lu!”
Joko
“Nurut aja biar beres.”
Aku
“Ahh oke… iya, Bang…”
Aku
mulai mengocok kontolku di depan ketiga lelaki idamanku. Mereka tertawa,
mencolek-colek putting, pantat, dan kontolku sesuka hati.
Joko
“Hahaha nurut banget lu, bangsat!”
Hasman
“Enak banget kayaknya sampe mendesah gitu, lonte anjing!”
Asep
“Ayo crot cepet!”
Aku
“Ahhh uhhh ya… enak ahhh… anjing coli ditonton orang, ahhh…”
Hasman
“Fetish lu ya dipermaluin gini?”
Aku
“ahhh iyaa bang ahh shhh”
Aku
semakin liar, memasukkan jari ke lubang pantatku sendiri.
Joko
“Hahaha anjing, beneran homo! Coli lewat bool!”
Aku
berlutut, desahanku semakin keras.
Joko
melepas celana kolornya, menyodorkan kontol jumbo 19 cm berbau khas lelaki ke
mulut aku.
“Anjing
berisik, makan kontol gw aja!”
Aku
langsung melahap dalam-dalam. Bau dan rasa itu membuatku gila.
“Ahhh
Bang… enak kontol… ahhh ya… uhhh… crooooooot… crroooooottt… crooootttt!”
Pejuh
aku muncrat hebat ke lantai. Ketiganya tertawa kagum baru diberi kontol
langsung crot.
Joko
“Lu nggak boleh berhenti. Hisap sampe gw puas, bangsat!”
Asep
juga membuka celana, menyodorkan kontolnya. Aku kini berlutut, menyepong dua
kontol bergantian.
“Ahhh
anjing… dapat dua kontol… uhhh…”
Mereka
berdua bergantian mengentoti mulut dan bool aku, Hasman dengan kontol
ngacengnya di dalam celana jeans masih menggosok dengan tangannya menikmati
bokep secara langsung. Asep sudah crot dua kali, dan lemas, langsung memakai
pakaiannya lagi dan duduk di sebelah Hasman menikmati tontonan Joko yg masih
mengentoti aku, Joko sendiri sudah crot sekali namun kontolnya masih tegang dan
terus mengentoti aku.
Joko
“anjing enak banget bool lu bangsatt ahhh sempit banget anjing uhhh”
Aku
“ahhh bang yahhh enak bang entot terus bang ahhh yahhh”
Hujan
mulai reda, sedang asik-asiknya adegan ngentot Joko dan aku tiba-tiba seorang
pelanggan bapak-bapak masuk memilih baju. Aku panik, tapi Joko menarikku ke
belakang, bersembunyi di balik tumpukan baju tinggi. Asep menyambut pelanggan
dengan suara lemas.
Pelanggan
itu melirik ke arah gerakan aneh di belakang.
“Wah,
itu lagi ngentot ya, Mas?”
Asep
tergelak gugup.
“Hah,
nggak kok, Pak. Lagi olahraga aja, iseng-iseng.”
Pelanggan
mendekat.
“Kelihatan
banget dari jauh kalian lagi ngentot, hahaha.”
Aku
panik.
“Hah…
maaf, Pak… maaf sekali…”
Pelanggan
tertawa ramah.
“Gpp,
santai aja. Lanjut aja ngentotnya. Homo sekarang makin berani ya.”
Joko
nyengir.
“Maaf
ya, Pak. Ini pelanggan kita tadi kesini minta dientot. Modelan gini, pantat
semok, mana bisa nolak, haha.”
Pelanggan
“Boleh nonton nih?”
Joko
“Boleh banget!”
Joko
menggiring aku ke depan lagi, melanjutkan entotan di hadapan pelanggan, Hasman
dan Asep.
“Ahhh
Bang… malu… ahhh ya… uhhh… enak… ahh malu… crooottt… crroooooot… crooootttt!”
Aku
crot lagi di depan pelanggan. Joko pun menyusul.
“Ahhh
anjing ni homo binal bangsat!” dan muncratkan sperma untuk kedua kalinya di
dalam bool aku.
Pelanggan
tertawa puas.
“Haha
ya udah, saya lanjut milih baju. Gila kalian ini. Hati-hati loh, takutnya yang
datang petugas keamanan, wkwk.”
Sambil
ditemani Asep pelanggan itu memilih baju, Joko memakai lagi celana bolanya, aku
masih lemas di lantai tengkurap dengan pejuh yg mengalir dari lubang boolku.
Hasman
yang sejak tadi hanya menonton sambil mengocok kontolnya sendiri, kini sange
berat matanya memerah. Ia bangkit, mengangkat aku yang lemas agar berlutut lagi
di depannya. Dengan gerakan kasar, Hasman membuka resleting jeans-nya plakkk!
Kontol
jumbo sepanjang 23 cm dengan diameter 5 cm tebal langsung menghantam wajah aku.
Kepala kontolnya yang merah membengkak menggores pipi aku, bau amis kuat
langsung menusuk hidung.
Aku
terbelalak ini kontol terbesar yang pernah aku lihat secara langsung. Antara
sange berat dan takut, mulutku menganga sendiri.
“Lu
musti puasin gw juga, anjing,” geram Hasman suaranya dalam.
“Uhh
Bang… kontolnya gede banget… takut…” rengek aku, tapi mataku tak bisa lepas
dari batang tebal berurat itu.
“Anjing,
gw nggak peduli. Lu bakal gw hajar sampe gw puas, dasar lonte binal!”
“Ahhh
siap Bang… tapi pelan-pelan ya, Bang… ahhh sakit banget ini kontol kegedean…”
“Udah,
jangan banyak bacot. Hisap cepat, anjing!”
Joko
dan Asep yang sudah lemas hanya bisa nyengir dari samping.
“Mampus
lu, kontol Bos paling gede di sini, hahaha!” kata Joko.
“Tamat
udah ini mah, hahaha,” tambah Asep sambil mengelap keringat.
Aku
membuka mulut lebar-lebar, tapi tetap kesulitan. Hasman langsung
memaju-mundurkan pinggulnya secara brutal, kontol tebal itu menyodok
tenggorokan aku hingga beberapa kali aku tersedak dan hampir muntah, air mata
mengalir di pipiku.
Jam
menunjukkan pukul 13.00 siang. Tiba-tiba hujan deras lagi, air mengguyur tenda
dengan keras. Dengan gairah memuncak, Hasman menjambak rambut aku dan
menggiringku ke batas depan toko tepat di ambang pintu tenda yang terbuka
menghadap taman kota.
Aku
berlutut telanjang bulat, pantat montokku mengarah ke luar, sementara Hasman
masih berpakaian lengkap hanya kontolnya yang keluar dari celana jeans.
Hasman
semakin ganas. Sambil menjambak rambut aku kuat-kuat, ia memaju-mundurkan
kontolnya hingga bunyi “glug-glug-glug” terdengar jelas di antara deru hujan.
Aku tersedak berulang kali, air liur dan pre-cum menetes ke lantai. Joko dan
Asep berdiri di kanan-kiri, mengawasi sekitar sambil sesekali tertawa pelan.
“Anjiiing
mulut lonte enak banget, anjing bangsat… ahhh ssshh… anjiiing makan ni pejuh
gw, dasar homo murahan!”
Hasman
mengerang keras, pinggulnya bergerak semakin cepat.
Crooottt…
croooottttt… crooooootttt… croooottttt… croooootttt!
Pejuh
kental panas Hasman memuntah deras ke mulut dan tenggorokan aku, sampai meluap
ke dagu dan dada.
Aku
batuk-batuk.
“Uhuuuk…
uhuuuk… uwoook… uhhh Bang… anjing enak banget kontolnya… ahhhh…”
Hasman
tertawa puas.
“Hahaha
dasar lonte binal, lu dikasarin malah kesenengan. Nungging, anjing! Gw mau
ngentot, bangsat!”
“Ahhh
iya Bang…” aku yang semakin birahi langsung nungging, menggoyang-goyangkan
pantat montokku yang sudah licin.
“Ahhh
ayooo Bang… entot Reksi please… pengen kontol jumbo Abang… ahhh…”
Hasman
tak menunggu lagi. Ia memegang pinggul aku erat-erat, lalu mendorong kontol 23
cm-nya perlahan ke lubang yang sudah basah oleh pejuh Joko dan Asep. Aku
menjerit kecil saat kepala kontol tebal itu membuka lubangku lebar-lebar.
Kini
aku dientot menghadap langsung ke taman kota. Hujan deras masih mengguyur,
kabut air membuat adegan kami agak samar dari kejauhan, tapi tetap berisiko
tinggi. Aku terus mendesah keras mengikuti entotan brutal Hasman setiap
dorongan membuat tubuhku maju sedikit ke depan, hampir keluar tenda.
“Ahhhh
ampuuunn Bang… ahhh kontol Abang gede banget sumpah… uhh anjiiing… ahhh enakkk…
ahhh udah Bang… ahhhh!”
“Anjing
lonte lu berisik banget cokkk!”
Hujan
mulai reda perlahan. Orang-orang di taman mulai lalu-lalang lagi, mencari
tempat teduh yang lebih dekat. Beberapa mata mulai melirik penasaran ke arah
tenda terlihat jelas ada lelaki telanjang bulat bergerak-gerak seperti sedang
dientot dari belakang.
“Ahhh
Bang… hujannya reda lagi… ahhhh mereka lihat kita Bang… ahhh ampuuunnn… ahh
yaahhh…” aku panik tapi nafsuku justru memuncak.
Crooottt…
croooottttt… crooooootttt… croooottttt… croooootttt!
Pejuh
aku muncrat deras hingga nyaris keluar dari ambang tenda, mengenai lantai basah
di luar. Joko dan Asep hanya bisa tertawa ngakak melihat wajah aku yang campur
antara malu dan nikmat ekstrem.
Hasman
tak peduli.
“Ahhh
anjiiing enak banget cokkk… ngentot di depan taman gini bangsattt… ahhhrghhh
lonte kontol ngentottt!”
Crooottt…
croooottttt… crooooootttt… croooottttt… croooootttt!
Hasman
memuntahkan pejuh kedua kalinya, lebih banyak dan lebih dalam, hingga terasa
hangat mengisi aku sampai penuh.
Aku
akhirnya ambruk lemas, terduduk di lantai tenda dengan napas tersengal. Hasman
menarik kontolnya keluar, memasukkannya kembali ke celana, lalu kembali ke
belakang dengan wajah penuh kepuasan. Joko dan Asep membantu mengangkat aku
yang lemas ke bagian belakang tenda.
Setelah
semua reda dan napas kami kembali normal, Joko, Hasman, dan Asep meminta nomor
kontak aku sambil tersenyum nakal.
“Lain
kali kita ulang lagi ya, gangbang lebih lama,” kata Hasman sambil mengelus
pantat aku sekali lagi.
Aku
mengenakan pakaian basahku yang sudah kotor, tersenyum lemas tapi bahagia. Aku
pamit pulang dengan langkah pelan, merasakan sperma hangat ketiganya masih
menetes perlahan di pahaku, bercampur air hujan yang dingin.
.png)
Komentar
Posting Komentar