---------------------------------------------------------

-------------------------------------------------------------

Johan: Di Caffe

 



Udah lebih dari sebulan ini gue cuma bisa ekshib sambil coli. Biasanya kan gue ekshib, pasti ada yang kegatelan dan langsung minta di ewe. Tapi kali ini bener-bener sepi. Gue udah kebelet banget pengen ngentot lubang pantat boti yang binal.

Akhirnya gue buka app dating malam itu. Jari gue udah gatal ngeswipe kanan-kiri, nyari mangsa yang pas. Terus gue nemu satu profil, namanya Rendi. Fotonya imut-imut, senyumnya manis, badannya keliatan ramping. Gue kirim pesan, dan dia langsung balas. Langsung gas, mau ketemuan malam ini juga di sebuah cafe di daerah Kemang.

Gue dandan rapi banget, pake kemeja hitam pendek yang ketat banget di badan, sengaja biar otot dada dan perut six-pack gue keliatan. Celana jeans panjang tanpa sempak, biar bulge gue keliatan jelas. Kontol gue udah setengah ngaceng aja karena excited, jadi keliatan banget nongol di celana. Gue semprot parfum, keliatan banget gue udah siap perang.

Sesampainya di cafe, gue masuk dan langsung nyari Rendi. Gue liat ada cowok yang duduk di meja pojokan, ngangkat tangan. Gue mendekat, dan itu dia Rendi. Dia agak pendek, wajahnya tampan banget, kulit putih bersih, mata sipit khas Chindo. Dia pake celana pendek selutut yang nunjukin paha mulusnya, dan baju oversize.

Rendi ngangkat tangan sambil nyengir, "Bang Johan kan? Gue Rendi."

Gue balas nyengir, "Iya, hmmm, Lucu juga ya lu hehe"

Rendi langsung ngajak gue naik ke lantai dua, bagian balkon. Begitu masuk, gue langsung sadar. Cafe ini kebanyakan cowok-cowok imut modelan Rendi. Hanya ada beberapa cewek. Bahkan barista dan waiters-nya keliatan manis-manis, beberapa ada yang senyum-senyum ke gue. Rendi bahkan menyapa beberapa temannya sambil lewat, mereka nyapa dengan panggilan beb.

Kami duduk di balkon. Hanya ada dua meja di sana, sofa panjang mengelilingi meja. Kami pilih yang paling ujung. Suasana di atas remang-remang, hanya ada lampu kecil di setiap meja. Dari sini gue bisa liat pemandangan kota yang kelap-kelip.

Rendi nyengir sambil nyenderin badanya ke sofa, celana pendeknya naik memperlihatkan paha mulusnya yg udah gak sabar pengen gue raba dan jilat jilat

"Cafe ini memang sarang homo Bang. Sengaja kesini biar ngobrolnya lebih santai hehe” ucap rendi sambil nyengir.

“hmm keliatan sih hahahah”

Lagi asik ngobrol, tiba-tiba datang tiga cowok mendekat ke meja kita. Mereka keliatan udah kenal sama Rendi.

Rendi "Eh maaf Bang, gue lupa bilang. Gue ngajak temen-temen juga, gpp kan?"

Tiga temannya itu Teo, Juno, dan Hadi. Teo yang paling tinggi, rambutnya keriting, badannya ramping. Juno yang paling imut, pipinya tembam, matanya besar. Hadi yang kulitnya sawo matang, badannya atletis. Semuanya masih muda, imut-imut, tipe boti yang gue suka banget.

Gue gak keberatan, malah seneng. "Gak apa-apa, makin rame makin seru."

Mereka duduk mengelilingi gue sama rendi. Selama ngobrol, gue sadar mereka berempat sering melirik selangkangan gue. Jeans ketat tanpa sempak bikin bulge gue keliatan jelas, kontol gue yang masih lemas tercetakjelas memanjang di paha kanan gue. Gue sengaja ngangkang dikit, biar mereka makin jelas liatnya. Sensai diliatin secara vulgar bikin kontol gue mulai kedut kedutan.

Obrolan malam, makin intim. Mereka cerita tipe cowok idaman mereka, hampir semua sama: badan berotot, agak coklat, dan kontol besar. Gue makin ke PD an, jelas tipe mereka itu gue hahahah.

Mereka ngomongin pengalaman mereka sama cowok-cowok, kadang sampe ngomongin detail ukuran kontol yang pernah mereka rasakan.

Rendi "Kita emang suka yang kontolnya gede, Bang. Kayak lu mungkin hahahah" katanya sambil melirik ke selangkangan gue.

Mereka tertawa centil, gue ikut tertawa. "hahahah kalau gue suka yg kayak kalian gini, imut imut kalau dihentak meringis kesakitan behh mantepp tuu hahahah." Mendengar itu mereka seperti malu malu dan salah tingkah.

Rendi yang duduk di sebelah gue tiba tina langsung lendotan di bahu gue, tangannya grepe-grepe dada gue pelan bikin gue sedikit terangsang.

Gue tegur sambil nyengir, "Jangan gini lah, ntar abang sange, bahaya lo"

Mereka berempat ketawa, Juno yang paling imut malah ikut duduk disebelah kiri sambil nyenderin kepalanya ke lengan gue.

Rendi "Sange ya tinggal dicrotin aja, Bang hahahah, mau dibantuin gak?"

Mereka semua ngelihat ke arah selangkangan gue dengan mata berbinar, seakan-akan udah gak sabar pengen liat kontol gue yang udah mulai ngaceng.

Gue ketawa, api birahi gue udah menyala-nyala. Ini yang gue cari. Perhatian mereka, hasrat mereka yang terpancar dari mata mereka, itu membuat fetish ekshibisionis gue mekar sempurna.

Gue suka banget diliatin, apalagi sama sekumpulan boti binal kayak mereka. Dengan gerakan pelan tapi penuh dominasi, jari-jari gue mulai buka kancing teratas kemeja gue. Klik. Klik. 

Dua kancing terlepas, ngekspos sebagian dada berotot yang membulat di antara kain hitam yang terbuka. “ehmm panas yaa”

Mereka melotot kaget melihat keberanian gue. Gue tarik tangan Rendi yang udah nggak sabaran, nempelin telapak tangannya yang lembut dan agak dingin ke dada gue yang hangat dan berotot.

"Nah, biar lebih mantepp hahahah" goda gue dengan suara serak.

Mereka langsung heboh. Mata Teo, Juno, dan Hadi yang tadinya cuma melirik sekarang melebar, ngeliatin tangan Rendi yang mulai meremas-remas pelan dada gue.

Teo yang udah gak tahan maju selangkah duduk di meja depan gue "Wah bang, buka baju sekalian dong! Pengen liat ih hahahah" katanya dengan suara yang hampir bergetar.

Gue nyengir, enteng aja. Gue buka sisa kancing kemeja gue satu per satu, pelan banget, klik... klik... klik, sambil tatapan mata gue nelanjangin mereka satu persatu dengan senyum penuh arti.

Gue nikmatin banget ekspresi mereka yang gak sabar, mulut mereka yang nganga, mata mereka yang berbinar. Akhirnya, dengan satu gerakan, gue lepas kemeja gue, dibuang sembarangan ke sofa sebelah. Mereka kaget, tapi mata mereka langsung berbinar liar ngeliatin tubuh gue yang polos.

Otot dada yang terpahat, perut six-pack yang keras di bawah sinar lampu remang, ketek gue yang berbulu lebat, semuanya jadi pemandangan gratis buat mereka.

"Gilaa... bang, beneran dibuka awwww badannya kekar banget," desah Rendi dengan suara lirih, matanya ngeliatin gue penuh nafsu, dari dada sampe ke perut.

“uhhh bang ihh nakall” goda juna sambil berusha merasakan ketek gue yg masih tertutup. Gue dengan PD langsung mengangkat tangan gue ke belakang kepala memamerkan seluruh bulu ketek gue ke mereka.

Mereka saling lirik, dan sedikit panik mengecek kondisi cafe lantai dua bagian dalam, lalu kembali dan langsung meraba raba tubuh gue dengan binal. Juno dan rendi disebelah gue langsung mendekatkan wajah mereka di ketek gue, lidah mereka menyapu bulu ketek gue dan hidungnya terus menghirup bau ketek dengan ekspresi menggatal kayak pelacur.

Hadi dan teo yg sedang duduk di meja, langsung turun dan duduk di lutut gue satu satu, lidah mereka langsung memainkan putting susu gue, rasanya hangat dan merinding. Gilaa enak banget di jilatin 4 boti di balkon cafe ahhh anjiiing.

Kontol gue udah ngaceng parah di dalam celana jeans. Bentuknya jelas banget keliatan, memanjang di paha, menekan kain yang ketat. Gue desah keenakan diraba empat orang, jilatan dan sentuhan mereka di mana-mana bikin gue mabuk kepayang.

"Aduh, cukup ahh, kalau gini abang bisa gak tahan uhhh” mereka menyudahi jilatan lalu menatap wajahku dengan mata liar. “Liat, udah ngaceng banget nihh" kata gue sambil nunjuk ke selangkangan gue yang menonjol.

Mereka langsung ngiler liat gundukan gede di celana gue. Rendi yang paling berani, tangannya langsung meraba selangkangan gue dari luar jeans. Jemarinya nge-trace bentuk kontol gue yang masih terbungkus jeans.

"Astaga... gede banget anjing ahhh" desah Rendi sambil meremas-remas kontol gue. Tangan juno juga ikut meraba "Keras lagi. Jadi pengen ahhh"

Birahi gue udah di ubun-ubun, anjiing mereka bener bener bibnal, sialnn gue niatnya gak sampe eksib di cafe juga njirr, tapi udah sange parah, gue mikir apa gue telanjang aja sekalian atau gue ajak emreka ke kos aja kali.

Rendi ngeliatin gue dengan mata penuh harap. "Aduh Bang, kalau di kamar udah gue telanjangin lu bang ahhhh"

Mendengar itu, gue yg awalnya ragu langsung buka kancing dan resleting jeans gue. Zrrrpp! Bunyi resleting yang keras terdengar di tengah desahan mereka. Kontol jumbo gue yang udah ngaceng full 29 cm langsung melompat keluar, menegang bebas di udara balkon cafe yang sejuk.

Kepala kontol gue yang besar berwarna ungu kemerahan, urat-uratnya menonjol di batangnya yang kekar. Beberapa tetes pre-cum udah keluar dari lubangnya, mengkilap di bawah cahaya lampu.

Mereka panik, toleh kanan-kiri, takut ada orang yang liat.

Rendi "anjirr bang, gak disini juga ihhh, woww gedeee" juno juga ikut melotot “uhh gpp kali hisap bentar ahhhh” teo dan hadi masih sedikit ragu dan mengecek kondisi cafe sebentar.

Tapi hasrat mereka lebih kuat dari rasa takut. Mereka gak bisa nahan, mata mereka terpaku pada kontol gue. Mereka langsung meraba dan mengocok kontol gue bergantian.

Gue mendesah keenakan, "Ahh sshh enak banget, gimana kontol abang? Suka kan kalian? Hmmm”

Rendi yang udah gak tahan, jongkok di depan gue. Tanpa ragu, mulutnya langsung nyedot kepala kontol gue. "Ahhh... hisapp terusss anjiiing ahhh sialnnn mulut luu mantep banget," desah gue sambil menjambak rambutnya. Tangannya meremas-remas buah zakar gue yang gede. Teo ikut nimbrung, dia jilatin batang kontol gue dari bawah sampe atas, lidahnya bermain di urat-urat yang menonjol. Seolah rendi dan teo berebut menghisap kontol gue.

Uhhh anjing enak banget kontol gue jadi rebutan ahhh. Juno dan Hadi gak mau ketinggalan, hadi bergerak ke samping gue dan langsung menjilati leher, ketek dan putting susu gue, begitu juga juno di sebelah kiri, ini benar benar kenikmatan luar biasa.

"Anjing... kalian semua jago ngisap yaa ahhh teruss nikmatin tubuh guee, puja terusss tubuh sempurnaku ahhhh anjing boti binal sialnnn," kata gue sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Empat mulut mungil itu bekerja sama memuaskan tubuh gue. Gue pegang kepala Rendi, dorong masuk sampe kontol gue nyantol di tenggorokannya.

Rendi sampai mual, tapi dia gak mundur. Matanya yang sipit berair, tapi dia tetap lanjut ngisap kontol gue, lidahnya berputar-putar di kepala kontol gue. Ekspresinya kayak orang kesurupan, bener bener lahap. Sedangkan teo di bawah rendi menghisap dua biji kontol gue kanan kiri, benr bener kenikmatan.

"Ahh... dasar lonte... hisap teruss kontol guee arghhh anjiing," maki gue sambil nge-dorong kepala Rendi lebih dalam lagi.

Saking sengenya, gue udah gak tahan. Otot-otot perut gue menegang. "Ahhh... gue mau keluar... gue mau crot... ahhhh aaanjiiing ngentottt arghhh" Crooooooottttt Crooooooottttt Crooooooottttt Crooooooottttt

Gue menyemprotkan sperma gue yang banyak banget ke mulut Rendi. Beberapa cipratan yang kuat mengenai wajah Teo dan Juno yang ada di dekatnya.

Rendi langsung menelan semua sperma gue. "uhhh enak banget kontolnya bang" katanya sambil menjilat sisa sperma di bibirnya dengan mata sayunya. Teo, Juno, dan Hadi langsung berebut menjilati sisa sisa pejuh yg ada di dekitar kontol dan perut gue. Seketika bersih, pejuh gue habis dinikmati, mereka saling memandang dan menelan pejuh gue.

Tepat saat itu, suara langkah kaki mendekat. Seorang waiter datang bawa tagihan karena cafe sudah close order. Tertulis di dadanya, nama mwaiters itu fendi. Dia masih muda, badannya ramping, wajahnya manis. Dia langsung membeku di tempat, matanya melebar kaget liat gue yang setengah telanjang dengan kontol ngaceng yang masih basah dan mengkilat. Rendi, Teo, Juno, dan Hadi panik dan langsung berdiri, coba nutupin gue dengan badan mereka.

Fendi “kaa kaaliannn? Woww, anjirrr” matanya melotot setelah sadar, celingak celinguk dan salah tingkah, bingung haru melakukan apa.

“hehe sory yaa gak tahan soalnya” ucap gue sambil tersenyum.

Rendi menambahkan “udah jangan bilang siapa siapa yaa, mau isap juga gak? Liat tuh gede banget fen” ternyata rendi juga mengenal fendi.

Gue berdiri dengan santai, kontol gue masih ngaceng keluar dari resleting celana jeans. Juno. Teo dan hadi ikut menghampiri fendi dan membujuknya untuk diam. Gue berdiri didepan fendi dan yg lain, gue tersenyum nakal dan dengan gerakan pelan, gue plorortin celana panjang gue sampe telanjang bulat. Mereka berlima melotot dan makin panik.

Rendi “bang aduh makin gila ini, aduh jangan disini atuh”

“yakin gak mau?” kata gue sambil ngocok kontol jumbo gue menghadfap mereka semua.

Mereka lalu saling pandang, fendi menatap kontol gue dengan penuh nafsu. Gue tarik dia ke sofa, lalu gue berbaring telanjang bulat. Kaki gue gue angkat, ditaruh di atas meja, nunjukin seluruh tubuh gue yang kekar dan kontol gue yang udah siap tempur lagi.

"Nah, nikmatilah, dan puja tubuh gue ini" perintah gue dengan suara yang dominan.

Rendi, Teo, Juno, Hadi, dan Fendi langsung menghampiri gue. Mereka berlima mulai menjelajahi tubuh gue lagi. Rendi kembali menjilat puting gue, Teo menjilat ketek gue, Juno dan Hadi menjilat perut dan paha gue, sementara Fendi mulai menghisap kontol gue.

"Ahh... enak banget... terus... jangan berhenti anjiiing" desah gue.

Mereka makin berani. Tangan mereka meremas-remas otot gue, menjilat setiap inci kulit gue yang berkeringat.

"Badanmu gila banget bang," kata Teo sambil menjilat dada gue. "Ototnya keras banget."

"Kontolnya gede banget... panjang banget... gue gak pernah liat yang segini besarnya," ucap fendi sambil menumpahkan air minum kami ke kontol gue dan menghisapnya lagi.

Anjiing sensasi dingen kena es matcha latte di kontol gue, trus angetnya liodah fendi menghisap kontol guee behhh mantepp bangett. Melihat kelakuan fendi, rendi dan yg lain ikut menumpahkan minuman mereka ke tubuh gue, dan pelan pelan menjilati setiap inci sambil menyapu bersih minuman mereka.

"Ahh... anjiing dasar boti boti binal ahhhhghh," gerutu gue sambil menarik napas dalam. "Terus jilat! Gue belum puas anjing!"

Fendi tiba tiba mengeluarkan HP nya dan selfie sambil menghisap kontol gue. “bang foto bentar yaa” gue langsung pose jempol sambil tersenyum.

"Ahhh... shit... enak banget... kalian emang lonte-lonte profesional ya," desah gue. "Badan gue bikin kalian sange berat kan anjing"

"Iya bang... ahhh enak bangett baang uhhh," jawab Teo dengan mulut penuh.

"gue pengen banget dientot bang ahhh" tambah Juno dari bawah.

Gue makin sange denger pujian mereka. Gue angkat pinggang gue naik turun ngentotin mulut fendi.

Mereka semua bekerja lebih giat. Suara desahan, lidah yang menjilat, dan tangan yang mengocok memenuhi balkon cafe. Gue pegang erat sofa, otot-otot gue menegang.

"AHHHH... ANJING... GUE CROOOOT... LEBIH DALAM LAGI... AHHHHHH BANGSATTT!" CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT

Kali ini gue crot lebih banyak lagi. Sperma gue menyemprot keras, mengenai wajah Fendi dan Teo yang ada di dekatnya. Beberapa cipratan sampe ke dada gue sendiri. Mereka berlima langsung berebutan menjilat dan menelan sperma gue yang keluar.

"Rasain! Telan semua! Jangan ada yang tersisa!" perintah gue sambil nafas masih ngos-ngosan.

Setelah gue crot, mereka gak berhenti. Mereka masih lanjut mainin tubuh gue yang basah sama keringat dan sperma. Tapi gue udah gak sabar. Birahi gue udah di ubun-ubun. Gue butuh lubang. Gue butuh ngenjot.

Gue dorong mereka semua pelan. "Udah! Udah cukup main-mainnya!"

Mereka pada kaget, mundur sebentar. Gue duduk di sofa, kontol gue yang masih ngaceng keras menatap mereka satu per satu.

"Rendi! Sini lu! Gue entot lu anjing! Cepet!"

Rendi yang udah sange berat langsung nurut, dia buka celana pendeknya, nunjukin pantatnya yang putih mulus. Dia nungging di sofa, menyangga badannya dengan tangan.

Gue tampar pantat montoknya plakkk plakkk plakkk "Gue entot lu dari anjing, dasar lonte!" kata gue sambil berdiri di belakang Rendi.

Tanpa basa-basi, gue masukin kontol gue ke lubang pantat Rendi. "AHHHHH... KONTOLMU BESARR BANGET BANGGG!" jerit Rendi kesakitan, tangannya mencengkeram sofa.

Gue langsung genjot dengan brutal. Setiap hentakan gue bikin sofa bergetar. "Ahh... anjingg gue hajar pantat murahan lu anjing!" kata gue sambil tarik rambut Rendi.

"Ahh... ah... ah... terus bang... entot yang keras... gue pengen rasain sampe dalam," desah Rendi di antara desahan dan jeritan.

Gue hajar pantat Rendi tanpa ampun. Tangan gue meremas-remas pantatnya yang montok. "Dasar lonte! Lo suka kan dientot kontol gede?"

"Iya bang... suka banget... gue lonte milik bang Johan ahhh" jawab Rendi sambil menangis keenakan, air matanya keluar karena nikmat dan sakit yang bercampur jadi satu.

“kalian longgarin lubang bool kalian, tunggu gue entot satu satu anjing” gue nunjuk mereka berempat yg menonton aksi ngentot gue yg brutal. Mereka langsung melepas celana dan memainkan lubang bool masing masing menunggu giliran.

Setelah beberpa saat gue entot rendi, dia mendesah gak karuan “ahhh bangg uhh ampunn ahhh gak tahan bang aahhhh yahhh uhhh mau kluar ahhhh” CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT

Setelah Rendi crott dan lemas, gue cabut kontol gue dengan satu gerakan. Plup!  "Juno! Telentang lu di meja, ngangkang gue hajar lubang lu sini!"

Juno langsung telentang di sofa, mengangkat kakinya lebar-lebar, nunjukin lubang pantatnya yang udah basah sama lendir. "Ayo bang... entot lubang gue, ahhh" katanya dengan suara yang menggoda.

Gue berdiri sedikit menekuk, posisikan kontol gue di depan lubang juno. Gue masukin kontol gue perlahan. "Ahhh... juno lubangmu masih rapet banget anjing," kata gue sambil mulai menggenjot pelan.

"ahhh anjing sakit bang pelannn ahhh yahhh," jawab juno sambil memeluk punggung gue, wajahnya meringis kesakitan.

Gue genjot Juno dengan posisi misionaris, sambil cium bibirnya yang basah. Lidah gue masuk ke mulutnya, main-main sama lidahnya. "Enak kan? Rasain kontol gue njingg ahhh," desah gue di sela-sela ciuman.

"Enak banget bang... mentokinn ahhhh," jawab Juno sambil matanya terpejam. Sampai gak lama juno ngecrott di tengah goyangan gue, “ahhh bang sumpah gede banget ahhh gak kuattt uhhh yahhh” CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT

“teo, hadi fendi, nungging kalian di sofa, pamerin bool kalian, gue entot satui satu sampe ngcrott anjing” ucap gue sambil mencabut kontol gue di bool juno.

Mereka bertiga berjejer di sofa menghadap dinding pantat nungging, gue entot satu satu bergantian, tak lama teo dan handi ngecortt waktu gue masih genjot brutal, kini tinggal fendi, gue entot fendi dilantai menghadap tangga, gue peluk dari belakang sambil meju mundur.

“ahhhhghh anjingenak banget pantat kalian sialannn” fendi hanya mendesah kesakitan

Tiba tiba beberapa pegawai dan sisa pengunjung datang, mereka melihat gue lagi ngentotin fendi. Rendi dan yg lain panik langsung memakai celana, gue dengan PD terus genjotin fendi didepan teman temanya.

Manager cafe meju “wowww anjing lu fen gak nunggu nunggu”

Ternyata foto selfie fendi tadi dikirim ke group cafe, dan selesai bersih bersih dan menutup cafe, mereka berniat menonton dan bergabung.

“ahhh anjiing, mantappp lu fenn bawa lubang lebih banyak hahahahah”

Manager “abis ini entot guee yaa bang ahhh gilaa jantan banget sihh ahhh”

“anjingg lonte kalian semua sini maju gue entot semua anjing ahhhh bangsattt cafe boti sialannn ahhhhh” CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT Gue ngecrott di lubang bool fendi, bersamaan dengan fendi yg juga crottt.

Gue duduk dengan kontol masih ngaceng di sofa, menghidupkan rokok sambil menatap keramaian yg baru datang itu. gue suruh meneger itu menghisap kontol gue, lalu  beberapa karyawan dan sisa pengunjung yg ternyata dari tadi mengintip ikut bersama sama menonton aksi gue.

Gue bener bener puas ngentotin si meneger depan karyawanya, sampai beberapa dari mereka menyodorkan pantat buat gue entot. Malam itu gue ngentot sampai subuh. Terakhir gue udah lemes sampai kering, pejuh gue bener bener gak bisa keluar lagi.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Gangbang Bocil bocil sepak bola (Spin Off Diperbudak Junior)

Diperbudak junior

BAB 11 pengalaman Binal Rido: Kurir Paket, COD sex dulu