---------------------------------------------------------

-------------------------------------------------------------

Binalnya Si Polos

 


Rafi tergopoh-gopoh memasuki kamarnya, tangan gemetar memegangi laptop yang baru saja ia pinjam dari Rian, sahabatnya di sekolah. "Ini bagus banget, bro. Dijamin bikin kamu mabuk kepayang," kata Rian sebelumnya dengan senyum jahil.

Malam itu, setelah semua anggota keluarga tidur, Rafi menutup pintu kamarnya. Ruangan gelap, hanya cahaya laptop yang menerangi wajahnya yang penuh antusias. Video itu dimulai dengan adegan seorang wanita yang sedang mandi, lalu berlanjut ke adegan yang lebih panas. Jantung Rafi berdegup kencang, darahnya terasa mengalir lebih cepat ke seluruh tubuhnya, terutama ke bagian bawah.

Tanpa sadar, tangannya merayap ke celana pendeknya. Ia mulai mengeluarkan kontolnya yang sudah tegang dengan gerakan refleks remaja pria yang sedang terangsang. Gerakannya semakin cepat seiring dengan adegan di laptop. Namun, anehnya, meskipun sudah hampir setengah jam ia melakukan aktivitas itu, tidak ada tanda-tanda ia akan mencapai klimaks.

"Gila, kenapa gak keluar-keluar ya pejuhku?" gerutu Rafi sambil menghentikan gerakannya.

Ia membuka browser baru, mencari video-video lain. ia tonton satu per satu. Gairahnya semakin memuncak, namun tetap saja kontolnya gak ngecrot, dia merasa nikmat tapi gak klimaks.

Dengan rasa frustrasi, Rafi mengetik di mesin pencarian: "Kenapa susah keluar saat coli?" Beberapa artikel muncul, dan ia membuka salah satu yang paling lengkap. Artikel itu menjelaskan berbagai teknik masturbasi yang bisa membantu mencapai orgasme.

Rafi membaca dengan seksama. "Oh, jadi harus begini," gumamnya saat membaca bagian tentang memainkan biji pelir dan menggesek kepala kontol dengan lembut. Ia mencoba mengikuti instruksi itu, mengubah irama kocokannya dari yang cepat dan kasar menjadi lebih bervariasi.

"Nah, ini dia," desahnya saat merasakan sensasi yang berbeda. Ia semakin asyik melakukan aksinya, mata terpejam menikmati kenikmatan yang mulai merambat di seluruh tubuhnya. Gerakannya semakin liar, napasnya memburu.

Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka dengan sedikit suara berderit. "Kak, aku mau tidur disini ya" kata adiknya yang masih kecil sambil menguap.

Rafi terkejut bukan kepalang. Dalam kepanikan itu, tubuhnya menegang, dan tiba-tiba... crott! Pejuhnya menyembur dengan kuat, membasahi baju dan celana dalamnya. Untung saja ia dalam posisi membelakangi pintu.

"Tunggu bentar ya. Kakak mau matiin laptop dulu," kata Rafi dengan suara bergetar.

Ia segera memakai celananya, merasakan kain sempak yang basah oleh pejuhnya sendiri. Laptop dimatikan dengan cepat, lalu ia membawa adiknya ke kasur. Jantungnya masih berdegup kencang, campuran antara kenikmatan yang baru saja ia rasakan dan rasa takut karena hampir ketahuan.

"Besok-besok harus lebih hati-hati," pikirnya sebelum tertidur.

Beberapa hari berikutnya, Rafi menjadi ketagihan. Setiap ada kesempatan, ia pasti melakukan aksinya. Namun, lama-kelamaan ia merasa coli mulai kurang memuaskan. Ia penasaran dengan seks sungguhan, tapi masih takut untuk melakukanya.

Kali ini, ia benar-benar sendirian di rumah. Orang tuanya sedang pergi ke acara pernikahan, adiknya ikut serta. Rafi membuka laptop dan mulai mencari cara coli yang lebih nikmat. Ia menemukan artikel tentang stimulasi prostat.

"Coli dari belakang? Apa-apaan ini?" batinnya, namun rasa penasarannya lebih besar. Ia membaca artikel itu sampai selesai. "Jadi, dengan memasukkan jari ke lubang pantat dan menyentuh titik prostat, kenikmatannya bisa lebih dari coli biasa?"

Awalnya ragu, tapi Rafi memutuskan untuk mencoba. Tangannya merayap ke pantatnya yang montok dan mulus. Jari telunjuknya menyentuh lubang pantatnya, dan ia merasakan gairah yang lebih dari biasanya.

"Ih, aneh... tapi enak," desahnya.

Ia mencoba memasukkan jarinya pelan-pelan. "Aww, sakit!" jeritnya pelan saat jari itu menembus lubangnya yang masih sempit.

Tepat saat itu, pintu kamarnya terbuka. "Rafi, kamu ngapain? Udah sore nih mandi cepat" tanya kakak perempuannya yang ternyata tidak ikut ke acara pernikahan.

Rafi menarik tanganya dengan cepat dan pura-pura membuka buku pelajaran. "Nggak, Kak. Cuma belajar."

Kakaknya basa-basi sebentar, lalu keluar kamar. Rafi segera menuju kamar mandi, mencoba lagi di sana. Kali ini, ia membasahi lubang pantatnya dengan sabun hingga terasa licin. Setelah jarinya masuk, ia tetap merasakan sakit saat memaksakan masuk lebih dalam.

"Ahh, anjirrr sakitt cokk, udah ahh boong kali itu yg nulis," pikirnya, lalu menyudahi aksinya dan melanjutkan mandi.

Keesokan harinya di sekolah, Rafi mendengar obrolan teman-temannya saat sedang nonton bokep bareng di bangku belakang. "Gila, katanya sih yaa, cewek perawan kalau pertama ngentot pepeknya bakal sakit berdarah, gak kayak di bokep ini, tapi lama lama baru keenakan tu cewek"

Logika Rafi langsung terhubung dengan pengalamannya tadi malam. "Mungkin aku harus menahan sakit dulu ya, kayaknya gitu," pikirnya.

Baca Cerita selengkapnya di Lynk ID, hanya 5.000, klik link: https://lynk.id/sancasado

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Gangbang Bocil bocil sepak bola (Spin Off Diperbudak Junior)

Diperbudak junior

BAB 11 pengalaman Binal Rido: Kurir Paket, COD sex dulu