BAB 14 Pengalaman Binal Rido: Cabul di Desa
Part 1: Handuk miniku didepan pak kades
Pagi yang cerah di desa itu
terasa berbeda bagi Rido. Dia sudah terbiasa dengan rutinitas barunya di rumah
Trisno, rutinitas di mana pakaiannya adalah pilihan opsional.
Hari ini, rumah terasa sepi.
Trisno dan Joko, ayah dan anak yang selalu menjadikanya pelampiasan nafsu, sudah berangkat ke acara sejak
subuh. Rido baru selesai dari kamar mandi, Dia hanya membungkus pinggangnya
dengan sebuah handuk kecil.
Dengan susah payah, dia menarik
ujung handuk ke depan, tapi justru membuat paha dan bokong bagian belakangnya
terbuka lebar. Aduh, gimana nih jalannya, handuknya kekecilan banget.
Harus pegang mulu nih.
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu yang cukup
keras membuat Rido tersentak. Panik setengah mati, dia menghampiri pintu dengan
langkah cepat namun hati-hati, satu tangan sibuk menahan handuk yang nyaris
lepas.
"Siapa ya?" gumamnya.
Dia membuka pintu hanya sedikit, menyembunyikan tubuhnya di balik daun pintu. "Permisi, ada
apa?" tanyanya dengan kepala yang menjulur keluar.
Di depan pintu berdiri seorang
pria paruh baya dengan topi di kepalanya, senyum ramahnya terukir di wajah yang
sudah tak lagi muda. "Pak Kades?" seru Rido kaget.
Pak Kades mengernyitkan dahi,
matanya melebar tak percaya. "Rido? Kamu masih nginap disini? Kirain udah balik ke jakarta”
"Iya, Pak. Saya masih pengen lama lama di sini dlu hehe" jawab Rido cepat.
"Ohh... pantesan," kata
Pak Kades mengangguk. "Kenapa kok gak buka pintu? Lagi sibuk?"
Rido tersenyum canggung, wajahnya
memerah. "Ehm... barusan abis mandi, Pak. Masih handukan doang."
Pak Kades terkekeh
"Hahaha... waduh, Rido! Kita kan sudah besar, apa-apaan ini malu-malu.
Buka saja pintunya, santai. Bapak mau
ngasih undangan acara desa."
Rido ragu, tapi merasa tidak enak
menolak kepala desa. Dengan perasaan was-was, dia membuka pintu lebar-lebar dan
mempersilahkan Pak Kades masuk.
"Sila, Pak. Duduk
dulu," kata Rido sambil menunduk, berharap Pak Kades tidak terlalu
memperhatikan penampilannya.
Tapi harapannya sia-sia. Begitu
masuk, mata Pak Kades langsung terpana, tak berkedip memindai tubuh Rido dari
atas hingga ke bawah. Pandangannya mengerling pada handuk kecil yang hampir
tidak mampu menutupi paha yang padat dan berotot. “Waduh... ini anak Kok jadi begini ya? Badannya...
mantap banget. Putih mulus, padat lagi” Pak Kades menelan ludah, lalu duduk di kursi tamu dengan pandangan
yang tetap melekat.
"Mau minum apa, Pak?"
tanya Rido, berusaha memecah keheningan.
"Ya... kopi aja, Nak."
"Iya, Pak. Permisi ya, saya
ganti baju dulu," kata Rido berusaha kabur.
"Eh, tunggu!" Pak Kades
buru-buru mencegah. "Gak usah pakek baju, santai aja. Kan lagi di rumah,
gak ada siapa-siapa" katanya dengan senyum yang tidak bisa ditolak.
Rido terdiam, bingung, tapi dia tidak bisa menolak. Dengan ragu, dia berjalan ke dapur untuk
membuatkan kopi, perjuangan sesungguhnya baru
dimulai. Dia harus berjalan dengan satu tangan memegang handuk yang nyaris
lepas, sambil membawa gelas dan teko.
Saat hendak mengantarkan teh ke
ruang tamu, nasib sial menimpanya. Kakinya tergelincir di lantai yang sedikit
basah.
"Akh!" Rido terjatuh ke
depan, tengkurap dengan kencang. Gelas kopi terlempar ke atas, cairan hangatnya tumpah tepat di pantatnya, dan handuk
kecilnya terlepas total, membuatnya telanjang bulat di lantai.
Pak Kades yang menyaksikan
kejadian itu langsung melotot,
dan tertawa, tapi dia berusaha menahannya. "Hahaha... aduh,
Rido! Kamu ini kok ceroboh sekali!" katanya sambil
berdiri, menolong Rido untuk bangun.
Wajah Rido semerah cabe, matanya
berkaca-kaca karena malu. "Maaf, Pak... tadi... tadi kepleset."
"Ya sudahlah, gak apa-apa.
duduk di sofa sana," kata Pak Kades sambil menggiring Rido.
"Tengkurap di sofa Nak. Biar
bapak bersihkan pantatmu yang kena kopi."
Dengan perasaan malu yang sudah
di ubun-ubun, Rido nurut saja. Dia tengkurap di sofa, memamerkan bokongnya yang
putih mulus ke arah Pak Kades.
Pak Kades mengambil handuk yang
terlepas tadi, lalu mulai mengelap pantat Rido dengan perlahan. Tapi
sentuhannya tidak sekadar mengelap, jarinya sengaja "tidak sengaja"
menelusuri lekukan pantat Rido yang sempurna.
Anjiiirr ada ada aja sih, malu bangett, gila telanjang gini dihandukin sma
pak kades,. Rido mulai merasakan
getaran aneh di tubuhnya. Dia diam diam menikmati sentuhan Pak Kades yang semakin berani.
"Rido, coba nungging
dikit," perintah Pak Kades suaranya sedikit serak. " bagian belahan
pantatnya juga kena kopi, biar bapak bersihin."
Rido menolak dalam hati. Nungging?
Di depan Pak Kades? Gila! "Gak usah, Pak. Nanti saya mandi lagi
aja," jawabnya lirih.
"Harus dioles obat, Nak.
Nanti kulitmu melepuh kena air panas. Pak Kades ambilkan obatnya, kamu nurutin
aja ya," Pak Kades memaksa.
Terpaksa, dengan malu-malu, Rido
menyangga tubuhnya dengan kedua tangan dan menaikkan bokongnya. Posisi nungging
itu membuat segalanya terbuka. Pak Kades menelan ludah lagi. "Wah...
pantatmu bagus sekali, Rido. Mulus,
putih, padat"
Rido hanya bisa menggelengkan
kepala, wajahnya tertanam di bantal sofa. Aduh... jangan bilang gitu,
Pak. Malu aku... sialann selalu sange kalau
gini ahh anjirr please kontrol jgn aneh aneh ridooooo. Rido berusaha biasa saja tapi Kontolnya di bawah mulai mengeras.
Pak Kades semakin leluasa,
jari-jarinya bermain di belahan pantat Rido, membersihkan sisa-sisa cairan kopi yang sudah mengering. Tiba-tiba, jari Pak Kades berhenti tepat di depan
lubang bool Rido yang sudah terbuka lebar karena posisinya. Pak Kades takjub,
matanya berbinar melihat lubang berwarna pink muda yang tidak berbulu sama
sekali itu.
Tanpa bisa menahan diri, jari
telunjuk Pak Kades mulai mengelus-ngelus pelan pinggiran lubang bool Rido. Rido
yang tadinya hanya menahan malu, kini mendesah tak karuan.
"Ahhh... Pak..."
desahnya pelan, tubuhnya bergetar.
Setelah merasa puas
"membersihkan", Pak Kades berdiri. "Diam dulu di sini ya, Nak.
Jangan kemana-mana. Pantatmu ini perlu dioles obat biar gak melepuh. Pak Kades
ambil dulu ya," katanya sambil berjalan ke pintu.
"Eh, Pak, gak usah
repot-repot!" seru Rido, mencoba bangkit.
"Jangan berdiri! Tetap
nungging di situ! Jangan pakai celana dulu ya! Nanti bapak oleskan obatnya," perintah Pak Kades tegas sebelum keluar rumah,
bahkan tidak menutup pintu.
Rido terdiam dalam posisinya yang
memalukan. Dia telanjang bulat, nungging di sofa ruang tamu, dengan pintu rumah
masih terbuka lebar. Kontolnya ngaceng keras, menggantung di bawah, menandakan betapa terangsangnya dia.
Apa-apaan ini aku? Kenapa aku
nurut saja? Ada orang masuk gimana? Tapi... kata Pak Kades harus nurut... ah,
aku bingung!
Tak lama kemudian, dari arah
pintu yang terbuka, muncul seorang pemuda seusia Joko. "Joko! Joko! Main yuuk!" teriaknya.
Pemuda itu terhenti langkahnya
saat matanya bertemu dengan pemandangan tak terduga di ruang tamu. Seorang pria
dewasa, telanjang bulat, dalam posisi nungging di sofa, dengan pantat montok
yang menonjol ke arahnya.
Yanto, pemuda itu, bengong.
Mulutnya menganga, matanya tak berkedip menatap Rido. "Mas... Mas?"
katanya pelan.
Rido panik, jantungnya berdegup
kencang. anjirrr! Ada orang! Sialann ahh ke kamar aja kali yaa! Tapi... Pak Kades bilang jangan
kemana-mana... ah, anjirrr aku harus gimana! Dia dengan bodoh tetap di posisinya, wajahnya memerah karena malu.
"Ma... maaf," kata Rido
dengan suara serak. "Tadi... tadi saya kepleset, ketumpahan kopi ii ini lagii ngelap ajaaa"
Yanto masih bengong, tapi
pandangannya mulai berubah dari kaget menjadi... tertarik. Dia melangkah masuk,
matanya terus menatap pantat Rido. "Sakit?" tanyanya polos.
"Iii iyaa... agak panas," jawab
Rido.
Tanpa pikir panjang, Yanto
mengulurkan tangannya dan menyentuh kulit pantat Rido yang mulus. Gila...
mulus banget. Kenyal... pikirnya, wajahnya sedikit ngiler.
"Kenapa gak pakai celana sih, Mas?" tanyanya lagi, sambil terus
mengelus pantat Rido.
Rido mendesah pelan. Aduh,
sentuhannya... kenapa jadi berbeda ya?
Tiba-tiba, suara Pak Kades
terdengar dari pintu. "Loh, Yanto! Kok kamu di sini?"
Yanto tersentak kaget, tangannya
langsung ditarik. "Pa... Pak Kades! Saya... saya mau ngajak Joko
main," jawabnya gugup.
Pak Kades masuk membawa sebuah
botol kecil, tertawa melihat keadaan di ruang tamu. "Hahaha... kamu ngapain tadi? Jangan aneh aneh loo,
Dia lagi sakit, tadi kopi
tumpah di pantatnya," jelas Pak Kades sambil mengelus kepala Yanto.
Mata Yanto tidak lepas dari
pantat Rido yang masih menantang. "Oh... gitu ya," katanya singkat.
Pak Kades melihat Yanto yang
masih menatap Rido, lalu menatap Rido yang masih nungging patuh. "Kenapa
kamu tetap gini do? Ada Yanto datang loh, gak malu kh?"
Rido menjawab dengan suara kecil,
"Tadi... tadi bapak suruh nunggu di sini sambil
nungging kan."
Pak Kades tertawa puas, tangannya
meremas pantat Rido cukup keras. "Hahaha... pintar! Anak baik, nurut sama
yang tua"
“Waduh... gemesin juga ni anak” Geram pak kades melihat kepatuhan rido.
Pak Kades membuka botol obatnya,
menuangkan cairan ke telapak tangannya. Lalu mulai mengoleskan obat di pantat Rido, tangannya bergerak perlahan,
menikmati setiap sentuhan.
Yanto juga ikut menikmati
pemandangan dari dekat. Matanya jelalatan, dari pantat, paha, hingga kontol
Rido yang ngaceng keras di bawah.
Birahi Rido sudah tidak
terbendung lagi. Dia mendesah-desah, tubuhnya bergerak-gerak kecil menahan
nikmat. Ah... ah... ini tidak uhhh
"Kenapa kontolnya ngaceng,
Mas?" tanya Yanto tiba-tiba, suaranya nakal.
Rido panik, tangannya langsung
bergerak ke belakang mencoba menutupi kontolnya. "Eh... iya... gak... gak
tau," jawabnya gugup.
Pak Kades tertawa. "Diam
kamu, Yanto! Jangan banyak nanya, bikin Rido malu aja!" katanya, tapi
matanya terus mengamati kontol Rido.
Setelah puas mengoles pantatnya,
Pak Kades menyuruh Rido berbalik. "Sekarang telentang, do. Biar
selangkangannya juga dioles."
Rido menolak dalam hati. “Telentang? Di depan Yanto? Kontolku ngaceng gini? Gila makin maluu, gak bisa gak bisaaa”
"Jangan malu nak rido. Dari tadi kita kan udah liat semuanya,"
bujuk Pak Kades.
Dengan perasaan malu dan birahi
yang bercampur aduk, Rido perlahan membalikkan badannya. Dia sambil menutupi
kontolnya dengan kedua tangan.
"telentang di atas meja," perintah Pak Kades.
Rido nurut, dia naik ke atas meja
kaca ruang tamu dan telentang. Pak kades
memegang kedua kakinya, mengangkatnya ke atas, membuat selangkangan Rido
terbuka lebar.
Pak Kades mulai mengoleskan obat
di selangkangan dalam Rido, jarinya
bermain-main di sekitar pangkal paha.
Rido semakin panas melihat
ekspresi Yanto yang senyum-senyum nakal. Kontolnya makin merah dan mengeras.
Pak Kades mengangkat tangan Rido yang menutupi kontolnya. "Jangan
ditutup-tutup, nanti obatnya gak kering."
Kini, kontol Rido yang ngaceng
parah terekspos di depan Pak Kades dan Yanto. Keduanya menahan tawa.
"Wah... keras banget
nih kontolnya!" komentar Pak Kades sambil
menahan tawa”
Yanto ikut nimbrung, matanya
berbinar nakal. "Iya, Mantep banget mas badanya sexy, susunya juga besar melenting gitu hahahah”
Mereka berdua tertawa bersama,
menertawakan kemaluan Rido yang sudah tidak bisa dikendalikan. Rido hanya bisa
menutup wajahnya dengan tangan, tapi juga mendapatkan rangsangan yang luar
biasa. “anjiiirr diketawain gini malah makin sange ahhh
gak kuatt gilaaa”
Pak Kades, yang sepertinya sudah
tidak sabaran, mulai bertindak lebih jauh. Tangannya yang mengoles obat di
selangkangan Rido perlahan-lahan bergerak turun, mendekati lubang bool Rido yang sudah basah karena cairan obat tadi.
"bagian ini kyaknya perlu dioles juga, takut kopinya masuk kelubangmu"
ucap Pak Kades sambil jari telunjuknya mulai menekan-nekan lubang bool Rido.
"Ah... Pak...jangan uhhhh" jawab Rido terbata-bata, desahannya semakin
jelas terdengar.
Pak Kades tertawa puas.
"Wah... kamu ini semangat banget yaa, sange yaa
diginiin hahahahah" Jarinya mulai menusuk pelan ke dalam lubang
bool Rido. "anget banget disini, bersih lagi hahahah"
Rido hanya bisa diam, tubuhnya
menegang merasakan jari Pak Kades mulai bergerak maju mundur di dalamnya. “Ah... ini... ini nikmat sekali... Pak Kades... ah...”desahnya dalam hati
Jari Pak Kades semakin liar, yang
awalnya mengoles kini lebih ke colok-colok bool. Bahkan Yanto ikut mendekat,
matanya melihat dengan sangat dekat bagaimana lubang Rido di colok-colok pakai
jari Pak Kades.
"Mas Rido ini emang cabul
yaa, diginiin sama kita malah keenakan hahaha," goda Yanto.
Pak Kades ikut tertawa.
"Iya, kan. Lihat itu, mukanya kayaknya mau pingsan saking nikmatnyaa."
Rido makin malu, apalagi Yanto
dengan nekatnya meniup-niup lubang bool Rido sambil bilang, "Biar obatnya
cepet kering, Mas." Sambil tertawa
"Hah... jangan... Yanto...
ah..." desah Rido. Perutnya berbunga-bunga, rasa sange parah menderanya.
Rasanya mau ngocok aja tapi masih ditahan.
Pak Kades sendiri sudah sange
berat. Kontolnya ngaceng di balik celananya, begitu juga dengan Yanto. Tapi
mereka masih ragu, karena ini mungkin pertama kalinya mereka sange berat
melihat pria telanjang di siang bolong.
Yanto, yang sudah tidak bisa
menahan keingintahuannya, lalu menyentuh ujung kontol Rido dengan jari
telunjuknya, ditoel toel pelan seperti mainan.
"Eh... jangan...
Yanto..." seru Rido.
Yanto tertawa sambil terus
menelusurinya. "Kenapa bisa sengaceng ini sih, Mas? Padahal cuma dioles
obat."
Rido langsung mendesah keras,
"Ahh... gak tauu... jgn disentuh please..."
Pak Kades ikut tertawa, tangannya
masih main-main di lubang bool Rido, sambil menunjuk-nunjuk kontol Rido yang
ngaceng keras. Mereka berdua tertawa puas melihat reaksi Rido.
Rido sudah tidak tahan lagi.
Rangsangan seperti ini memang kelemahannya. Dia mendesah lagi, "Ahhh...
Pak... uhh... Yanto... udah... jangan please... gak tahan... ahhh...
yahhh..."
Croooott... Croooott.. Croooott..
Croooott.. Croooott.. Croooott.. Croooott.. Croooott.. Croooott.. Croooott.. Croooott..
Tanpa bisa ditahan lagi,
kontolnya muntahin pejuh yang sangat banyak, membasahi perut dan dadanya.
Beberapa cipratan bahkan sampai ke wajahnya.
Rido menutup mukanya dengan kedua
tangan, merasa malu yang tak terkira. Pak Kades dan Yanto tertawa puas
melihatnya. Mereka mengelap tubuh Rido dari pejuhnya sendiri menggunakan tisu
yang ada di meja.
"Ya sudah, Rido. Jangan
pakai baju dulu ya, biar obatnya kering dulu," kata Pak Kades sambil
membetulkan pakaiannya. "bapak
pamit ya." Pak kades pergi sambil tertawa puas, menjahili
rido dengan vulgar.
Rido hanya bisa mengangguk lemah.
"I-iya, Pak."
Rido menjelaskan ke yanto "Joko lagi ada acara sama bapaknya sampai
besok, To."
Yanto mengangguk, matanya masih
menatap tubuh telanjang Rido. "Oke, Mas. Aku pamit ya, lain kali biar aku bantu oles obatnya juga boleh mas hahahahah” yanto
pergi sambil mengolok olok rido.
Akhirnya Rido ditinggal sendirian
di ruang tamu, dalam keadaan telanjang bulat. Perasaan malu bercampur dengan
puas dan rasa sange yang masih tersisa. Dia terbaring di meja kaca, tubuhnya
lengket dengan keringat dan pejuhnya sendiri.
Part 2: bocil bocil penasaran
Part 3: Dare, main kartu bersama teman masa kecil
Part 4: Gangbang di Pos ronda
Part 5: Anjing Penjaga rumah
Part 6: Exhib di warung makan mbok
Part 7: Diobral di Warkop
Part 8: Petani Cabul
Part 9: Pesta Sex, Panen kontol di Ladang
Part 10: romantisme diatas bukit
Akses cerita lengkapnya part 2-10 di Lynk ID, klik link: http://lynk.id/sancasado/4xvexmww02dx/checkout
.png)
Komentar
Posting Komentar