BAB 13 Pengalaman Binal Rido: Obat Kuat
Pagi yang cerah menyinari desa, namun di pasar tradisional, udara terasa
lebih panas dan pengap. Rido merasakan angin sepoi-sepoi membelai kulit
putihnya yang hampir telanjang saat mengendarai motor Jono. Setiap lekukan
tubuhnya terlihat jelas di balik jersey ketat yang melekat erat di dada dan
perutnya.
Celana putih super pendek yang hanya menutupi seperlunya membuat paha
mulusnya yang tanpa bulu tampil memukau, menjadi kontras mencolok di antara
penduduk desa yang berkulit coklat dan menggunakan baju seadanya.
Di pasar, kehadirannya bagai kilat di siang bolong. Para ibu-ibu penjual
sayur dan ikan berhenti sejenak dari aktivitas mereka, mata mereka melebar, ada
yang tersenyum nakal, ada yang menggelengkan kepala tak percaya.
"haloo masss!" sapa seorang ibu penjual sayur dengan suara
melengking. "Wah, ganteng banget sihh"
Rido hanya menyeringai manis, merasakan panas di wajahnya yang bukan karena
matahari. Dia tahu persis efek yang ditimbulkan oleh penampilannya, dan dia
menyukainya. Setiap tatapan, setiap bisikan, membuat darahnya mengalir lebih
cepat.
"Mas, boleh pegang nggak?" goda beberpa cewek gatel sambil
menatap jendolan kontol rido yg terjiplak jelas “gede kayaknya yaa hiihihihi."
Rido hanya tertawa kecil, merasakan getaran nikmat di perutnya. Dia suka
menjadi pusat perhatian, suka dipandang.
Tanpa sadar kakinya membawanya ke area belakang pasar yang biasanya
dihindari para perempuan. Bau khas keringat bercampur dengan aroma kotoran
unggas dan asap rokok menyeruak hidungnya. Di sana, puluhan pria berkumpul di
sekitar arena sabung ayam dan deretan kandang burung. Suara kokokan ayam dan
kicauan burung jadi latar belakang percakapan mereka yang kasar.
Rido memperhatikan sekeliling. Pria-pria di sana kebanyakan bertelanjang
dada atau hanya mengenakan singlet kumel. Celana jeans robek atau celana bola
yang sudah kotor jadi pakaian standar di sini. Tubuh-tubuh mereka yang kasar,
berotot, dan maskulin membuat Rido merasakan gelora birahi yang tak bisa
disembunyikan.
Kontolnya yang memang sudah sensitif mulai berdenyut di balik celana
pendeknya, membentuk tonjolan yang jelas terlihat, membentuk tenda kecil yang
memalukan sekaligus membanggakan.
Tiba tiba ada salah satu pria yang mencolek pantat rido “wiiiih montok
bangett nih mbak, ehh mas hahahah kirain cewek, abis montok bener tu pantat, pake celana pendek banget kayak
lonte aja mas hahahah” ucap pria itu sambil berlalu.
"Mas, mau beli ayam?" tanya seorang pria paruh baya yang duduk di
atas tikar plastik sambil menjajakan berbagai botol obat berwarna-warni.
Rido menggeleng “nggak pak lagi liat liat aja” sambil mendekat. Pria itu
bernama Pak Yanto, dengan tubuh berotot dan kulit coklat keemasan yang masih
terlihat sehat meski usianya tak muda lagi. Dia mengenakan sarung dan singlet
ketat yang memamerkan otot-otot dada dan lengannya yang kekar.
"Ini obat kuat, mas. Dijamin tahan lama," jelas Pak Yanto kepada
beberapa calon pembeli dengan suara lantang. "dari bahan berkualitas, Jahe
merah, pasak bumi, purwaceng, semua alami. Bisa crot berkali-kali, ngacengnya
keras sampai pagi dijamin istri dirumah pada kualahan hahahah."
Beberapa pria tampak ragu. "Buktikan dong! Mana kita tahu bener atau boongan?"
Pak Yanto bingung wahh gimana cara kasi buktinya? Kalian beli aja dulu ntar
kalau gak manjur balikin deh”
“yahhh males bolak balik lah”
Pak yanto tiba tiba asal ngomong "Gini aja, kalau ada yang berani coba
dan buktiin, saya kasih gratis deh"
“lahh trus musti ngaceng disini dulu dong hahahah”
Pak yanto “hahahah yaa gimana lagi coba?, atau gini, kalau ada yg gak
sempakan, coba deh ntar kan ngaceng keliatan tuh nonjol, gimana? Ada yang
berani? Say kasih gratis nihh”
Tiba-tiba beberapa pria di belakang Rido menunjuk ke arahnya. "Ini nih
gak sempakan hahahah! Liat ni jelas banget gak pake sempak" celetuk salah
satu dari mereka sambil menunjuk pantat rido yang tercetak jelas di celana
pendeknya.
Rido kaget, wajahnya memerah padam. “ehhh nggak nggak malu ahhh”
Rido menolak dengan gerakan kecil. Tapi kerumunan terus mendesak rido agar
mencoba jadi tester obat kuat.
Pak yanto “ayokk mass gpp, itu celana pendek juga kayaknya tipis nanti
keliatan hasilnya kan, gak perlu buka celana kok gak usah malu lah”
Rido sedikit ragu tapi batinya mulai bergairah, enak juga kayaknya ngaceng
diliatin banyak orang pikirnya. Akhirnya, dengan jantung berdebar kencang, Rido
mengangguk dan melepas sandal jepitnya lalu naik ke atas tikar Pak Yanto.
Krumunan semakin ramai karena ada model yg mau mencoba obat kuat.
Pak yanto menyentuh pinggang rido, tangannya yang kasar dengan cepat
menarik sedikit celana pendek Rido untuk memeriksa. "Wah, beneran gak
pakai celana dalam!" seru Pak Yanto sambil tertawa mengejek. "Berani
banget mas, celana pendek begini malah gak pakai sempak. Hati-hati nanti
diperkosa orang baru tau rasa hahahaha!"
Tawa meledak di antara para pria. Rido hanya bisa menunduk malu, tapi di
dalam hatinya, rasa malu itu bercampur dengan sensasi yang tak bisa dijelaskan.
Kontolnya semakin berdenyut, belum meminum obat kuat bisa bisa ngaceng kalau
diterusin.
Pak Yanto memberinya sebuah pil berwarna coklat kecil. "Minum ini,
kita tunggu sepuluh menit pasti ngaceng keras."
Rido menelan pil itu dengan segelas air putih. Baru beberapa detik, panas
yang aneh menjalar di seluruh tubuhnya, mulai dari perut lalu menyebar ke
seluruh anggota badan.
Kontolnya yang sudah setengah tegang langsung mengeras penuh, membentuk
tenda yang sangat jelas di balik celana putihnya. Panjangnya 18 cm, dengan
kepala yang berwarna keunguan, tercetak sempurna di balik kain tipis yang
semakin ketat.
"Lho kok belum sepuluh menit udah ngaceng ya?" seru Pak Yanto
dengan nada takjub sambil menarik celana Rido sedikit untuk memperlihatkan ke
semua orang. "Nih lihat! Mujarab kan obat saya? Baru beberapa detik
langsung berdiri!"
Semua mata tertuju pada Rido yang malu-malu tapi tak bisa menyembunyikan
birahinya yang memuncak. Beberapa pria maju lebih dekat untuk memastikan.
"iya sihh, tapi Yakin tahan lama gak tuh? Jangan-jangan langsung
crot!" cecar seorang pria jangkung.
Pak Yanto terdiam sebentar, pikirannya berputar cepat, bibirnya tersenyum
nakal "Coba dikocok aja, lihat berapa lama sampai crot. Kalau bisa tahan
lama, baru kebukti!"
"Eh jangan Pak, malu saya, saya kocok di wc aja yaa nanti saya kasih
reviewnya" protes Rido dengan suara serak, tapi tangannya sendiri sudah
tak sabar ingin menyentuh batangnya yang sudah sakit karena terlalu keras.
“ehh gak bisa dong, biasa aja kalian kerjasama kann, haru jelass kocok
disini” ucap salah satu pria yg dari tadi memperhatikan rido
"iyaa mass, harus di sini biar semua lihat! Lagian udah kayak gini,
nanggung, disini laki laki semuaa, ngapain malu?, nihi Celana udah basah
precum, pasti sange banget kan hahahah" ucap pak yanto sambil menyentuh
kepala kontol rido dibalik celana putih yg mulai basah precum.
Tangan kasar Pak Yanto mengelus kepala kontol Rido yang masih terbungkus
celana, merasakan cairan precum yang membasahi kain putih itu. "Tapi...
Pak... ahhh..." desah Rido tanpa bisa menolak, tubuhnya bergetar kecil
karena sentuhan itu.
Pak yanto yang menyadari itu langsung menarik celana rido sampai ke lutut,
kontolnya jelas mengacung bebas dihadapan kerumunan pria pria desa yang tertawa
melihat kekonyolan rido.
Dengan dorongan birahi yang sudah tak terkendali, Rido melepas celana
sepenuhnya, melemparkannya ke samping. Kontolnya yang 18 cm berdiri tegak,
membusur ke atas dengan kepala yang mengkilat karena basah oleh cairan precum.
Rido mulai mengocoknya dengan gerakan perlahan, matanya tertutup separo,
menikmati sensasi menjadi pusat perhatian puluhan mata menatapnya dengan lekat
sambil tertawa.
"Ahhh... shhhh... uhhh... anjirr... sange banget!" gumam Rido
dalam hati. "Gilaaa, gue ngocok di pasar ditonton rame-rame... ini yang
gue pengen!"
Para pria mulai berkomentar dengan suara keras yang tak lagi sungkan.
"Anjing sange banget tu orang hahaha!" "Mantep juga nih,
kulitnya putih mulus njirr! Paha nya sexy banget cokk!" "Pantatnya
montok bener dah, pantat cewek aja gak semontok itu!"
Rido semakin bernafsu mendengar ejekan mereka. Setiap kata kotor yang
mereka lontarkan adalah bahan bakar yang membuat api di dalam dirinya membara
lebih besar.
Dengan penuh gairah rido melepas kaosnya dengan gerakan dramatis,
memamerkan dada putih mulus dengan puting susu yang merah muda dan sudah
mengeras.
“anjing telanjang dia hahahahah ayoo kocok terusss ampe muncrattt” "Gila
susunya montok juga cokk! Mulus sialan pengen gue kempot tu putting!"
"Gila kulit mulus montok gini, kenapa laki laki dah hahahahah!"
"Anjing telanjang pula dia, sange bener kayaknya hahahah!"
Tangannya kirinya langsung memainkan putingnya, memilin-milin dan
mencubit-cubitnya ringan, sementara tangan kanannya terus mengocok kontolnya
dengan gerakan semakin cepat. “wahh gilaa mainin putting diaa, mantap anjing,
kocok terossss”
Rido berlutut di atas tikar, posisinya sedikit membungkuk sehingga
pantatnya yang bulat dan mulus semakin terlihat jelas. Belahan pantatnya yang
terbuka menampakkan sedikit bayangan lubangnya.
Pak Yanto tak bisa menyembunyikan nafsunya lagi. Tangannya yang kasar
dengan sengaja menyentuh pantat Rido yang mulus itu, meremasnya pelan.
"Anjing bener-bener mulus ni pantat, bikin sange hahaha!" seru
Pak Yanto sambil tertawa.
Sentuhan itu seperti listrik yang mengalir di tubuh Rido. Dia mengerang
nikmat, tangannya di kontol semakin cepat. Setelah lima belas menit mengocok
tanpa henti, Rido merasakan gelombang kenikmatan yang tak bisa ditahan lagi.
"Ahhh... ssshhh... uhhh... mau crott... ahhh aku mau crott... uhhh gak
kuatt... yahhh... enakkk... ahhh!"
CRROOOTTTT! CRROOOTTTT! CRROOOTTTT! Semburan sperma Rido yang kental dan
banyak diarahkanya ke samping, mengenai kaki beberapa pria yang menonton.
Beberapa ada yang sampai terkejut dan melompat mundur.
"Anjing banyak banget pejuhnya cokk!" "Sial kena pejuhnya
aku!" "Wowww mantapp tembakannya hahaha!"
Rido terduduk lemas, napasnya tersengal-sengal. Tapi kontolnya masih tegak
berdiri, bahkan masih berdenyut-denyut. "Gimana? Mantapp kann?" tanya
Pak Yanto dengan bangga, sambil menepuk-nepuk bahu Rido.
"Anjir baru 15 menit udah crot, gak nyampe sejam ini," kata
seorang pria yang skeptis.
"Tenang bapak-bapak, reaksi perorang beda-beda," jelasnya dengan
percaya diri. "Tapi lihat, abis crot kontolnya masih ngaceng! Ini baru
permulaan!"
"Suruh ngocok lagi kita mau liat sekuat apa efek obatnya!"
"Iyaaa ngocok lagi sampai teparrr!" rido yg mendengar itu makin panas
tanganya memainkan biji kontolnya sambil menunggu perintah pak yanto.
"Oke oke, hahahah anjing main main biji pula diaa, mas ayok kocok
lagi, kontolnya crott lagi sampe puass hahahah!" seru Pak Yanto sambil mengelus
paha Rido.
"Ahhh iyaaa Pakk siapp uhh yahhh ngocokk ngontol ahhhh," Rido
langsung mengocok lagi, kali ini sambil duduk mengangkang. Semua kembali
bersorak menyemangati, beberapa bahikan menyentuh tubuh rido sambil tertawa.
Rido semakin sange, lalu berbaring di tikar sambil mengangkat kakinya
tinggi-tinggi hingga kedua pahanya menempel di dada. Dalam posisi itu, lubang
pantatnya yang pink kencang terbuka lebar, menjadi pemandangan menggoda di
depan semua orang.
Hatinya berdebar memamerkan lubang boolnya “ahhh sini kalian liatt lubang
bool gue ahhh please mau kontol” ucapnya dalam hati namun dirasakan beberapa
orang yang memahami gelagat rido, termasuk pak yanto.
Rido terus mengocok kontolnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya
sibuk memainkan puting susunya. Sambil menggeliat mengangkangkan kakinya dan
menggoyangkan pantatnya.
"Anjing pantatnya mulus sampe lubangnya juga pink cokkk!"
"Gilaaa siii ini gak tau malu banget malah pamer lubang bool, kayak homo hahahahah!"
Pak Yanto tak bisa menahan diri lagi. "Wowww pulen yaa pantatnya
hahahahah, ayok mass kocok terusss sampai crott, mau saya bantu gak?"
"Ahhh iyaaa pak bantuin please ahhhh sssh uhhh," desah Rido
sambil menggeliat liar di atas tikar, tubuhnya bergerak seperti pelacur yang
sedang birahi. Matanya yang sayu memandang Pak Yanto penuh ajakan.
"Anjing kayak lonte kesangean malah hahahah," canda Pak Yanto,
tapi di balik sarungnya, kontolnya sendiri sudah mengeras 25 cm karena melihat
pemandangan tubuh Rido yang putih mulus itu. Beberapa pria lainnya juga
terlihat menyesuaikan posisi kontol, mencoba menyembunyikan tonjolan di celana.
Tanpa ragu lagi, Pak Yanto mengangkat tubuh Rido dan memeluknya dari
belakang. Tangannya yang kasar langsung menggantikan tangan Rido, mengocok
kontol Rido dengan gerakan memutar yang membuat Rido mengerang nikmat.
Rido pasrah, tangannya kini memainkan kedua puting susunya sendiri, sambil
menyandarkan kepalanya di dada Pak Yanto.
"Ahhh iyaaa pakk enak uhhh sssshhhh yahhh" desah Rido sambil
menggoyangkan pantatnya ke belakang, menyenggol kontol Pak Yanto yang sudah
ngaceng di balik sarung.
Pelahan tapi pasti, Pak Yanto menyingkap sarungnya keatas. Batang kontolnya
yang kekar, berurat, dan berukuran besar langsung menempel di belahan pantat
Rido yang mulus tanpa halangan. Air liur Rido yang terus menetes saat mengocok
kontolnya perlahan mengalir ke bawah, membasahi lubang pantatnya hingga menjadi
licin.
"Uhh anjing hot banget ni anak sialannn," geram Pak Yanto di
telinga Rido, napasnya terasa hangat, pelukanya semakin vulgar. Tanagn kirinya
meremas pantat rido dibawah.
"Anjing hot parah cokk, kayak liat bokep homo jadinya
hahahahaha," celetuk seorang pria di kerumunan sambil mengocok kontolnya
sendiri.
Rido merasakan kepala kontol Pak Yanto yang besar dan panjang menekan
lubang pantatnya. Dengan gerakan refleks yang dipicu oleh birahi yang
meluap-luap, Rido mengangkat pantatnya lebih tinggi dan mencoba menyesuaikan
posisi hingga... BLESSS! Kepala kontol Pak Yanto meluncur masuk ke dalam lubang
pantat Rido yang sudah basah.
"Ahhh anjing enak banget sempitt uhhhh," erang Pak Yanto sambil
menahan napas, merasakan kehangatan dan sempitnya lubang rido.
"Ahhh sssh enakk uhhh yahhh pakkk terusss ahh lebih dalamnmmm,"
Rido semakin liar, menggoyangkan pantatnya maju mundur, sementara tangan Pak
Yanto terus mengocok kontol Rido dari belakang dengan gerakan yang semakin
cepat.
"Anjing hott bangettt pengen remas susunya cokk kasian dia mainin
putting sendiri hahahah," kata seorang pria yang tak tahan lagi. Dia maju
ke depan, meremas payudara Rido yang padat dan memilin-milin putingnya yang
sudah keras, tangannya kini terentang kesamping.
Melihat itu, pria lainnya ikut maju. Tangan-tangan kasar mulai menjamah
seluruh tubuh Rido. Ada yang mengelus paha mulusnya, ada yang meremas pantatnya
dari samping, ada yang nekat menciumi lehernya dan menghisap putting susunya.
Rido menjadi objek permainan nafsu pria pria yang tak sadar dihadapanya juga
seorang pria.
"Ahhh ssssh enakk pakk truss ahhh sukaaa ahhhh yahhh gak kuattt uhhh
entot terusss pakk ahhh," teriak Rido tak peduli siapa yang mendengar.
Salah satu pria yang penasaran dengan pantatnya mencoba menyentuh lubang
Rido dan terkejut saat merasakan ada sesuatu yang keras dan bergerak di sana.
"Anjing apaan nih?" katanya sambil mengangkat kaki Rido lebih lebar.
"Wahhh! Dientot sama Yanto cokk, homo ni anak hahahahah!"
"Sialnnn diem-diem malah ngentot anjing!" seru yang lainnya.
Pak Yanto yang sudah ketahuan langsung beraksi lebih liar. Dia mengangkat
tubuh Rido hingga posisinya nungging di atas tikar. “udah telanjur arghhh sini
kalian liat nihh keenakan dia dientott hahahah”
Dengan gerakan cepat, Pak Yanto mulai menggenjot Rido dari belakang. PLAKK!
PLAKK! PLAKK! Suara pantat Rido yang dipukul oleh pangkal paha Yanto mengiringi
erangan Rido yang makin lantang.
"Ahhh iyahh pakk entot rido pakk ahhh ssshh enak kontolnya pakk gedeee
ahhh gak kuattt ahhh ssshh” Crroootttt Crroootttt Crroootttt Crroootttt Crroootttt
teriak Rido sambil menggoyangkan pantatnya dan menembakan pejuh di tikar.
“anjing ngecrott lagi dia hahahahah, entot terosss abis ini aku juga mau
ngentotin ni homo”
"Anjing homo murahan, pantesan mau telanjang ngocok, emang homo binal,
lonte murahan ahhhrghh anjingg enak bangett ni lubang," maki yanto sambil
terus menggenjot.
"Sialnnn sange banget liat kalian anjing!" kata seorang pria
sambil mengeluarkan kontolnya dari balik celana dan mengocoknya di depan wajah
Rido.
"Ahhh sini saya jilat pakk ahhh," Rido langsung membuka mulutnya
dan melahap kontol pria itu dengan rakus. Lidahnya berputar-putar di kepala
kontol sementara mulutnya menghisap kuat.
Situasi itu menjadi pemicu bagi pria lainnya. Satu per satu mereka
mengeluarkan kontolnya, ada yang langsung maju ke depan wajah Rido, ada yang
mengocok sambil menonton adegan itu.
seorang pria mencoba memasukkan jari ke lubang pantat Rido yang sudah penuh
dengan kontol Pak Yanto.
"Sabar-sabar! Giliran nanti!" jawab Pak Yanto sambil terus
menggenjot.
Rido sekarang berada dalam posisi nungging, mulutnya bergantian menghisap
dua kontol yang ada di depannya, sementara Pak Yanto terus mengentotnya dari
belakang. Tangan pria lainnya tak berhenti menjamah tubuhnya, meremas
payudaranya, mencubit putingnya, atau menampar pantatnya yang sudah mulai
memerah.
"Ahhh enakk... ahhh kontolnya besar-besar semua... ahhh," gumam
Rido di sela-sela menghisap.
"Anjing mulutnya juga enak cokk!" "Coba masukin lebih
dalam!"
Pak Yanto merasakan kontraksi di lubang pantat Rido yang semakin kuat.
"Ahhhrghh ssshh enak anjing sempitt cokk, gak tahan pulen bangettt!"
serunya sambil mempercepat sodokannya.
"Ahhh iyaa pakk keluarin di dalam ahhh ahhh," desah Rido.
"Anjing mau dikasih pejuh ya lonteee homo!" kata Pak Yanto sambil
menyemprotkan sperma panasnya ke dalam lubang Rido. "CROOTT! CROOTT!
CROOTT!"
Rido merasakan hangatnya sperma Pak Yanto memenuhi lubangnya, membuatnya
makin bergairah. Kontolnya yang masih dipegang Pak Yanto juga ikut
menyemprotkan sperma ketiga kalinya. "CROOTT! CROOTT!"
"Yanto udah keluar! Giliran gue yang entot!" seru seorang pria
lain sambil menarik Rido.
Rido sekarang ditelentangkan di atas tikar. Kakinya diangkat tinggi oleh
dua orang pria, membuka lebar akses ke lubang pantatnya yang sudah berlumuran
sperma Pak Yanto. Seorang pria dengan kontol besar dan berbulu lebat langsung
maju dan menancapkan kontolnya ke lubang Rido.
"Ahhh sssh enakkkk!" teriak pria itu. "Bener-bener pulen
lubang ni homo!"
Rido hanya bisa mendesah nikmat sambil matanya setengah terpejam. Dua pria
di sampingnya sudah tak tahan lagi, mereka mengarahkan kontol mereka ke mulut
Rido yang sudah terbuka lebar. Rido dengan rakus bergantian menghisap kedua
batang kontol itu, lidahnya bermain liar di kepala dan batangnya, membuat kedua
pria itu mengerang nikmat.
"Anjing mulutnya jago banget hisapnya!" "Coba masukin sampe
tenggorokan njing!"
Pria yang sedang mengentot Rido dari depan mulai mempercepat gerakannya.
Kontolnya yang besar dan berurat itu terasa menggosok dinding lubang Rido yang
sudah basah oleh sperma Pak Yanto. Setiap sodokan dalam membuat Rido mengerang
keras, meski suaranya tertahan oleh kontol yang sedang dihisapnya.
"Ahhh... ahhh... enakk... ahhh entot terusss ahhh," desah Rido di
sela-sela hisapan.
"Anjing ini homo bener-bener sange liatnya!" kata seorang pria
sambil mengocok kontolnya dan menunggu giliran.
"Gue juga mau coba lubangnya!" kata yang lain.
Setelah beberapa menit mengentot Rido, pria di depannya akhirnya mencapai
puncaknya. "Ahhh... ahhh... gue mau crott... ahhh... CROOTT! CROOTT!
CROOTT!" Sperma panasnya menyemprot ke dalam lubang Rido, bercampur dengan
sperma Pak Yanto.
"Sebentar! Giliran gue!" kata pria lain sambil segera
menggantikan posisi. Tanpa basa-basi, dia langsung menancapkan kontolnya ke
lubang Rido yang sudah penuh cairan sperma.
"Ahhh... enakkk... bener-bener basah lubangnya ni homo!" serunya
sambil mulai menggenjot.
"Ahhh... ahhh... enakk... ahhh... jangan berhentii... ahhh,"
desah Rido tak henti-hentinya memohon. Matanya sudah terpejam karena kenikmatan
yang terus-menerus.
Pria yang keenam mengentot Rido dari belakang sambil menarik rambutnya.
"Anjing homo! Rasain nih! Loe emang pantas dientot rame-rame!"
katanya sambil terus menggenjot.
"Ahhh iyaa pakk... ahhh... entot rido... ahhh... rido homo... ahhh...
rido lonte... ahhh," jawab Rido sambil menikmati setiap sodokan.
Waktu terus berlalu, tapi Rido tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan.
Obat kuat Pak Yanto benar-benar membuatnya menjadi mesin seks yang tak kenal
lelah. Dia sudah melayani lebih dari sepuluh pria, tapi birahinya tak kunjung
padam.
"Mantep banget obatnya Yanto! Ini homo udah dientot berapa orang masih
sange terus!" kata seorang pria yang baru saja mengocok kontolnya dan
menyemprotkan sperma ke wajah Rido.
"Anjrit! Wajahnya udah belepotan pejuh semua!" "Gila
badannya mulus begini malah jadi lonte di pasar hahahah!"
Rido sekarang berada dalam posisi berdiri, berpegangan pada tiang penyangga
atap. Kedua tangannya dipegangi oleh dua pria, sementara seorang pria
mengentotnya dari belakang dengan posisi berdiri. Dua pria lainnya berdiri di
depannya, mengarahkan kontol mereka ke digesekanya di paha mulus rido.
"Ahhh... ahhh... enakk... ahhh... ahhh entott lagii mau kontol lagi
ahhhh," desah Rido tak henti-hentinya.
"Gilaaa! Dia masih minta lagi!" "Obatnya emang mantap
Yanto!"
Pria yang mengentot Rido dari belakang akhirnya menyemprotkan spermanya.
"CROOTT! CROOTT! CROOTT!" Dia lalu digantikan oleh pria lain tanpa
jeda.
Rido sudah kehilangan hitungan berapa banyak pria yang telah mengentotnya.
Wajah, dada, perut, paha, dan pantatnya sudah berlumuran sperma. Tikar di
bawahnya sudah basah oleh campuran sperma.
"Ahhh... ahhh... enakk... ahhh... terusss... ahhh," desah Rido
lemah.
Hari semakin larut, matahari mulai tenggelam, pasar yang tadinya ramai mulai
sepi. Tapi di area belakang, aksi gangbang masih berlangsung. Rido masih pasrah
dientot oleh beberapa pria yang masih menunggu giliran sejak siang tadi.
"Ahhh... ahhh... capekk... ahhh," desah Rido lirih.
"Tahan homo! Masih ada yang belum puas!" kata seorang pria sambil
terus menggenjot.
Akhirnya, setelah beberapa jam non-stop. Satu per satu mereka beranjak
pergi setelah membersihkan diri. Beberapa di antara mereka membeli obat kuat
Pak Yanto dengan yakin.
"Mantep banget obatnya Yanto!" kata seorang pria sambil tertawa.
Rido ditinggal sendirian di tikar yang sudah basah sperma, yanto pulang
membawa uang yg cukup banyak. Sedangkan rido, tubuhnya telanjang bulat,
berlumuran sperma. Kontolnya masih ngaceng keras, menunjukkan bahwa obat kuat
itu masih bekerja di dalam tubuhnya. Tanpa obat kuat saja rido sudah biasa di
gangbang, ditambah obat kuat, rido benar benar sepertio mesin sex yg haus
kontol.
Dengan susah payah, Rido berdiri. Dia merasakan seluruh tubuhnya pegal
pegal, tapi di saat yang sama dia merasakan kepuasan yang luar biasa. Tanpa
memedulikan penampilannya yang kacau.
Dengan langkah gontai, Rido berjalan menuju motornya. Dia masih merasakan
kenikmatan tadi dan masih sangat bergairah. Di kepikirannya, dia masih
menginginkan kontol di boolnya yang kini kosong hanya cairan sperma pria pria
yg tak dia kenal.
Rido mengendarai motor kembali ke rumah dengan telanjang bulat, beruntung
desa selalu sepi dimalam hari. aksinya hanya terlihat oleh beberapa orang yang
tidak terlalu peduli.
Sesampainya di rumah Jono, Rido langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Joko, Jono
dan Pak Trisno yang sedang duduk sambil menanyakan kemana perginya rido yg gak
pulang pulang, langsung terkejut melihat rido telanjang bulat berlumur sperma
masuk dengan kontol yg masih ngaceng.
"anjing abis dientot siapa kamu do? Pantess gak pulang pulang
sialannn” ucap jono yg khawatir sekaligus geram melihat sahabatnya membinal
diluar. Joko dan pak trisno hanya tertawa geleng geleng melihat kondisi rido.
Tapi Rido tidak menjawab. Dia langsung baring dan ngangkang, memamerkan
tubuhnya yang masih berlumuran sperma.
"ahhh please entot rido lagii mau kontol ahhh”
Jono, joko dan Pak Trisno saling pandang. Mereka menyimpan pertanyaan dikepala
mereka dan langsung menghajar rido di teras rumah mereka sampai rido benar
benar tepar dan pingsan. Pagi harinya rido bangun kesiangan dan mencertikan
pengalamanya di pasar kemarin kepada joko, jono dan pak trisno.

Komentar
Posting Komentar