Anjing Sekolah
PART 1: Wali Kelas Baru
Udara di ujung belakang SMK Teknik Nusantara terasa pengap dan berat.
Bangunan gudang yang terpisah hampir seratus meter dari blok utama itu kini
menjadi ruang kelas 12 C kelas buangan yang paling ditakuti sekaligus dijauhi
seluruh sekolah.
Kelas ini dihuni 20 siswa laki-laki paling bandel. Guru dan wali kelas
sudah berganti berkali-kali, tak ada yang tahan. Akhirnya kelas ini sering
kosong dari guru. Siswa datang sesuka hati, hanya untuk nongkrong, merokok,
minum, dan bermain kartu. Kebisingan mereka yang luar biasa menjadi alasan
kelas ini dipindah ke bekas gudang.
Pagi itu, suasana kelas sudah seperti biasa. Asap rokok kretek tebal
menggantung di udara, bercampur bau keringat. Meja penuh coretan vulgar. Dari
20 siswa, 17 orang datang hari ini.
Jordi duduk di bangku paling belakang, kakinya naik ke meja, rokok menyala
di tangannya. Rambut silver undercut, wajah tampan penuh ejekan. Dia anak
konglomerat sekaligus penguasa tak resmi kelas ini. Di sekelilingnya, empat
pentolan Dika, Reno, Bagas, dan Fikri sedang tertawa keras.
“Guru baru katanya masuk hari ini,” kata Dika nyengir.
Jordi terkekeh arogan. “Biarin. Yang kemarin juga kabur dalam seminggu. Gua
sudah siapin rencana.”
Tiba-tiba pintu terbuka. Pak Soni berdiri di ambang pintu. Tubuhnya
memenuhi bingkai pintu. Tinggi hampir 190 cm, bahu lebar, dada bidang, lengan
penuh otot dan urat. Kulit putih bersih, wajah tampan dengan mata tajam garang.
Usianya 38 tahun, duda dengan satu anak laki-laki berusia 13 tahun.
“Selamat pagi. Saya Soni, guru Teknik Mesin sekaligus wali kelas kalian
mulai hari ini.”
Tak ada yang menjawab, Pak Soni melangkah masuk dengan langkah berat,
berdiri di depan papan tulis yang penuh coretan mesum. “Saya tahu reputasi
kalian. Tapi mulai hari ini, semuanya berubah. Saya akan mendispiplinkan kalian
mulai sekarang.”
Jordi berjalan kedepan dan tersenyum miring, lalu sengaja meniupkan asap
rokok langsung ke wajah Pak Soni.
Pak Soni tak berkedip. Matanya langsung terkunci pada Jordi. “Kau. Namamu?”
Jordi tertawa meremehkan. “Gak usah sok kenal, Pak. Lo cuma guru baru.
Besok juga kabur kayak yang lain.”
Teman-temannya langsung ikut tertawa dan berisik.
Tiba-tiba tangan Pak Soni bergerak cepat. Penghapus papan tulis melesat
keras DUAK! tepat mengenai pipi Jordi.
Jordi tersentak hebat. Rokoknya jatuh. Pipinya langsung memerah dengan
bekas kotak penghapus yang tercetak jelas.
“ANJING!!” teriak Jordi marah, “LO BERANI BANGET YA!”
Kelima pentolan langsung maju menyerbu: Jordi di depan, diikuti Dika, Reno,
Bagas, dan Fikri.
Mereka menyerang bersamaan.
Dika meninju duluan, tapi Pak Soni menghindar dan membalas dengan pukulan
keras ke perut hingga Dika terlipat jatuh. Reno ditangkap kakinya lalu
dipelintir hingga berteriak kesakitan. Jordi mendapat uppercut telak ke dagu
hingga bibirnya berdarah. Bagas dibenturkan kepalanya ke meja, Fikri ditendang
hingga terpental ke dinding.
Dalam waktu kurang dari dua menit, kelima orang itu sudah tergeletak di
lantai dengan muka memar, napas tersengal, dan tubuh kesakitan. Seluruh kelas
menjadi hening dalam campuran shock dan ketakutan.
Pak Soni berdiri tegak di tengah kekacauan, napasnya masih teratur.
Kemejanya hanya sedikit kusut.
“Kalian cuma anak kecil yang sok jago,” katanya dingin. “Mulai hari ini,
saya yang atur kelas ini.”
Dia mendekati Jordi yang masih duduk di lantai, lalu mencengkeram dagunya
keras, memaksa kepala Jordi mendongak. Wajah mereka hanya berjarak beberapa
inci.
“Mulai besok, kalian semua akan patuh. Atau aku akan buat kalian menyesal
lahir ke dunia ini.”
Pak Soni melepaskan cengkeramannya kasar, lalu berbalik dan keluar dari
kelas, meninggalkan ruangan yang porak-poranda.
Jordi menyeka darah di bibirnya. Senyum dingin penuh dendam muncul di
wajahnya yang memar.
“Lo tunggu aja, Soni…” bisiknya pelan.
PART 2: Pembalasan Dendam
Sore itu langit di atas SMK Teknik Nusantara sudah mulai merah jingga, tapi
di dalam hati Jordi api dendam masih membara lebih panas. Dia duduk di bangku
belakang mobil mewah ayahnya yang diparkir di pinggir jalan belakang sekolah,
rokok kretek di tangan, mata menyipit penuh rencana gelap. Dika, Reno, Bagas,
dan Fikri mengelilinginya, wajah mereka masih memar-memar bekas pukulan Pak
Soni pagi tadi. Tapi bukan sakit fisik yang mereka rasakan sekarang melainkan
rasa terhina yang dalam.
“Gue gak terima,” geram Jordi, suaranya rendah tapi penuh arogansi. “Guru
Teknik Mesin sok kuat itu harus dibikin kapok. Bukan cuma di kelas. Gue mau dia
ngerasain apa artinya jadi orang lemah di depan gue.”
Dika nyengir sadis. “Lo serius, Jor? Kita sewa preman?”
Jordi mengangguk, menghembuskan asap dengan sombong. “Udah gue transfer.
Lima preman paling kejam di kota ini. Mereka nunggu di belakang gudang. Begitu Soni
keluar sekolah, langsung disikat”
Empat temannya tertawa serempak. Mereka bukan siswa bandel biasa, dan
sekarang mereka siap membalas dengan cara yang paling kejam.
Pak Soni keluar gerbang sekolah pukul empat sore, masih memakai baju dinas
yang ketat di tubuh kekarnya. Wajahnya tetap garang, tapi di dalam dada ada
sedikit ketegangan. Dia baru saja menghajar lima anak kemarin termasuk Jordi,
anak konglomerat yang dia tahu berbahaya.
Tiba-tiba dua preman bertubuh besar menyergap dari belakang. Kain basah
berbau obat bius menutup mulut dan hidungnya. Pak Soni meronta kuat,
otot-ototnya menegang, tapi obat itu bekerja cepat. Matanya berkunang-kunang.
Tubuh kekarnya ambruk ke tanah. Preman-preman itu langsung mengangkatnya ke
mobil hitam yang sudah menunggu. Tak ada yang melihat. Semua berlangsung dalam
hitungan detik.
Sepuluh menit kemudian, Pak Soni sadar dalam kegelapan.
Kepalanya pusing berat. Tubuhnya berdiri tegak, kaki dan tangannya diborgol
besi tebal, dirantai ke tiang besi di tengah ruangan kosong bertingkat. Kakinya
mengangkang lebar, tak bisa digerakkan. Tangan diangkat ke atas, borgol
menggigit pergelangan tangannya. Ini markas rahasia Jordi tempat mereka biasa minum, judi, dan melakukan
hal-hal yang tak boleh diketahui orang tua mereka.
Air dingin menyiram wajahnya tiba-tiba. BYURRR!
Pak Soni tersentak, menyemburkan air dari mulutnya. Di depannya berdiri
Jordi, memegang ember kosong, senyumnya lebar penuh kemenangan. Di belakangnya,
Dika, Reno, Bagas, dan Fikri berdiri menyeringai, plus lima preman bertubuh
kekar yang berdiri di sudut ruangan seperti penjaga.
“Bangun pak” kata Jordi manis tapi penuh racun. “Selamat datang di neraka
hahahah.”
Pak Soni mengumpat kasar, suaranya parau. “Kurang ajar! Lepasin gue
sekarang juga! Kalian gila ya? Gue guru kalian!”
Jordi tertawa. Lalu tinju pertamanya mendarat keras di perut Pak Soni BUGH!
tepat di otot perut yang keras. Pak Soni
meringis, napasnya tersendat. Kemudian giliran Dika, Reno, Bagas, Fikri
bergantian, masing-masing memukul perut guru itu dengan sekuat tenaga. Bunyi
pukulan daging keras bergema di ruangan kosong. Pak Soni menggeram kesakitan,
tapi masih melawan dengan kata-kata.
“Kurang Ajar Kalian, ini udah kriminal, saya bakal lapor polisi”
Jordi menyeka tangannya yang memerah, tertawa lepas. “Lapor? Lo siapa? Gue Anak
konglomerat. Ayah gue bisa beli polisi. Gue bisa bunuh lo sekarang juga dan
mayat lo gak akan ketemu selamanya. Ngerti?”
Pak Soni diam. Untuk pertama kalinya, ada kilatan ketakutan di mata
tajamnya yang biasanya garang. Dia merasakan dingin di tulang punggung. Tubuh
kekarnya yang biasa ditakuti sekarang terikat tak berdaya. Anak-anak ini bukan
lagi siswa bandel. Mereka monster.
“Maaf…” suara Pak Soni bergetar untuk pertama kali. “Gue… gue gak akan
ulangi lagi. Lepasin gue… gue gak akan masuk kelas 12 C lagi. Gue janji.
Tolong…”
Tawa meledak dari mulut Jordi dan keempat temannya. Suara mereka bergema,
penuh kepuasan yang dalam. Melihat Pak Soni pria besar, garang, arogan yang
pagi tadi menghajar mereka sekarang memohon-mohon seperti anak kecil, membuat
darah mereka berdesir nikmat.
“Wah, lihat tuh,” ejek Reno. “Singa kemarin sekarang jadi kucing.”
Jordi melangkah mendekat, tangannya membuka borgol kaki sedikit, cukup
untuk membuat Pak Soni bisa berlutut tapi rantai masih terpasang ketat di
tangan. “Berlutut. Mohon maaf yang bener. Sujud di lantai. Kalau lo mau hidup.”
Pak Soni ragu namun ketakutan sudah menguasai jiwanya. Dia berlutut.
Lututnya menyentuh lantai yang dingin. “Maaf… maafkan saya… saya salah…”
Jordi tak puas. “Lebih rendah. Sujud yang lama. Kepala ke lantai.”
Pak Soni menurut. Tubuh kekarnya membungkuk, dahi menyentuh lantai. Dia
sujud berkali-kali, suaranya bergetar. “Ampuni saya… saya mohon… saya masih
punya anak… tolong jangan bunuh saya…”
Kepuasan di hati Jordi membuncah. Dia merasa seperti dewa. Tapi dendamnya
belum selesai. Dia ingin Pak Soni benar-benar hancur.
Tiba-tiba Jordi membuka resleting celana abu-abunya. Kontolnya yang besar
keluar bahkan saat lemas pun panjangnya 17 cm, tebal, bergelantung berat di
antara pahanya yang kurus. Jordi mengangkat kepala Pak Soni dengan kasar
menggunakan sepatunya.
“Lihat ini,” katanya sambil tertawa. Lalu dia mengencingi kepala Pak Soni.
Air kencing hangat menyembur deras, membasahi rambut pendek guru itu, mengalir
ke wajah, mata, dan mulutnya. Bau menyengat langsung menyerang hidung Pak Soni.
Yang lain ikut tertawa keras. Pak Soni tersentak, matanya terbuka lebar.
Dia menatap kontol Jordi yang besar itu, kaget melihat ukurannya. Tapi saat
sadar bahwa yang menyiram kepalanya adalah kencing, amarahnya meledak.
“ANJING! KURANG AJAR! GILA KAMU KENCING DIMUKAKU?”
Jordi marah. Kakinya langsung menginjak kepala Pak Soni keras, menekannya
ke lantai. “Diam! Lo bisa apa emang hmm?”
Pak Soni tersadar betapa tak berdayanya dia. Tubuh kekarnya gemetar. Malu
yang dalam membakar dadanya. Tapi Jordi belum selesai. Dia menyuruh
teman-temannya mengencangkan rantai lagi hingga Pak Soni berdiri mengangkang
tak berdaya seperti semula.
“Sekarang… telanjangi dia. Ambil kamera. Gue mau foto telanjangnya biar dia
kapok selamanya.”
Pak Soni meronta hebat. “Jangan! Lepasin! Kalian gila!”
Tapi tak ada gunanya. Gunting besar muncul. Dika dan Reno memotong kemeja
dinas biru tua itu satu per satu. Potongan kain jatuh ke lantai. Lalu sampai
celana dalam. Hingga Pak Soni benar-benar telanjang bulat.
Tubuhnya luar biasa: dada bidang, perut six-pack, lengan dan paha penuh
otot, kulit putih bersih. Tapi saat mata mereka turun ke selangkangan… tawa
meledak lebih keras.
Kontol Pak Soni kecil sekali. Saat lemas hanya sekitar 3 cm, seperti kutil
kecil yang menggantung malu-malu. Bahkan kontol anak kecil terlihat lebih
besar.
“HAHAHA! Lihat tuh! Maco banget badannya, tapi kontolnya kayak kutil!”
teriak Bagas sambil menunjuk.
“Badan hercules kontol mungil cute HAHAHAHA!” ejek Fikri.
Pak Soni memerah total. Malu yang tak terperi membakar wajahnya. Dia
memejamkan mata, tubuhnya gemetar.
Jordi menampar kontol kecil itu dengan telapak tangan. PLAK! Pak Soni
meringis, rasa mules menjalar ke perutnya.
Tapi tiba-tiba… kontol Pak Soni mulai mengeras. Meski hanya mencapai 8 cm,
tegak kecil dan pendek, ujungnya sudah basah.
Ruangan hening sejenak. Jordi dan teman-temannya terdiam, terkejut.
“Eh? Ngaceng?” tanya Jordi heran. “ngacengnya seginia? Kenapa kontol lo
ngaceng, Homo Lu ya?”
Pak Soni memejamkan mata lebih erat. Hatinya kacau. Marah. Malu. Tapi ada
gelombang aneh di perutnya sama seperti saat dia mengentoti mantan istrinya
dulu. Nafsu yang tak masuk akal. Tubuhnya mengkhianatinya.
Jordi tertawa keras. “Wah, ternyata lo masokis ya? Kontol kecil suka
disiksa! Homo mesum!”
Dia menampar lagi kontol yang sudah ngaceng itu. PLAK! PLAK! “Usah ngaceng
aja Kecil banget! Mirip jari kelingking! HAHAHAH”
Jordi menyuruh teman-temannya naik ke bangku mengelilingi soni. Lima orang
itu mengeluarkan kontol dari resleting, kontol lemas yang masih lebih besar
dibanding milik soni yang sudah ngaceng, mereka lalu mengencingi Pak Soni bersamaan.
Air kencing hangat mengguyur tubuh kekarnya dari kepala sampai kaki. Jordi
merekam semuanya dengan ponsel. Di layar hanya terlihat tubuh Pak Soni yang
telanjang, kontol kecilnya yang berdenyut-denyut, dan air kencing yang
mengalir.
Pak Soni marah, malu, tapi kontolnya semakin keras. Precum menetes dari
ujungnya.
“Gila… dia sange beneran,” bisik Reno.
Jordi tertawa sambil terus merekam dan memukul pelan kontol itu. “Masokis
kontol kutil! Suka lu ya dikencingin anak laki laki?”
Tiba-tiba Pak Soni merasakan lonjakan nafsu yang tak tertahankan. Tubuhnya
mengejang saat tangan jordi menepuk nepuk kontol kecilnya. “Ahhh bukan gitu
ampun ahhhh ssshhh Crooottt… croootttt… croootttt!!”
Pejuhnya menyembur deras, mengenai dada dan perut Jordi. Putih, kental,
banyak.
Semua terdiam sesaat… lalu meledak tawa paling keras dan ngakak.
“Dia crot gara-gara dikencingin! Beneran masokis cokk cuihhh anjing!”
Jordi mengirim rekaman itu ke email pribadinya. Dia membungkuk, wajahnya
tepat di depan wajah Pak Soni yang pucat.
“Video ini aman di gue. Kalau lo macam-macam, gue sebarkan ke seluruh guru,
orang tua murid, bahkan mantan istri lo. Semua akan tahu lu ngecrot gara-gara
dikencingi muridnya Hahahahaah.”
Pak Soni terdiam. Mentalnya hancur berkeping-keping. Dia yang biasa garang,
kuat, arogan… sekarang hanya sosok telanjang yang gemetar, kontol kecilnya
masih meneteskan sisa sperma.
Jordi dan teman-temannya melepas rantai. “Duduk di lantai. Tetap telanjang.
Jangan berani pakai baju sampai kami pergi.”
Mereka berbalik, tertawa puas, dan meninggalkan bangunan kosong itu.
Pak Soni sendirian. Dia merosot ke lantai, meringkuk seperti anak kecil.
Tubuh kekarnya yang penuh otot sekarang gemetar hebat. Air mata mengalir deras
di pipinya yang biasanya tegas. Hatinya kacau total, marah, malu, benci pada
diri sendiri, dan yang paling menyakitkan… ada sedikit getaran aneh yang masih
tersisa di selangkangannya.
“Kenapa… gue… seperti ini…” bisiknya parau di antara isak tangis. “Gue… normal,
gue bukan gay, tapii tapiii kenapa? Kenapa gini?”
Di dalam bangunan kosong, Pak Soni menangis seperti bayi. Jati dirinya yang
dulu garang sudah hancur. Dendam Jordi baru saja membuka pintu ke dunia yang
jauh lebih gelap.
PART 3: Lapor Polisi
PART 4: Jati Diri
PART 5: Ketagihan
PART 6: Di ruang Kelas
PART 7: Budak satu Kelas
PART 8: Polisi Cabul
PART 9: Budak satu sekolah
PART 10: Dua Anjing Sekolah

Komentar
Posting Komentar