BAB 12 Pengalaman Binal Rido: Pulang Kampung
PART 1: Kabar
Pernikahan Sahabat
Rido sedang
rebahan santai di sofa apartemennya yang mewah. Tubuhnya telanjang bulat tanpa
merasa kedinginan meski AC dingin menyala pelan. Lampu kamar redup berwarna
kuning keemasan menciptakan suasana hangat.
Tangan kanannya
sibuk scroll HP sementara tangan kirinya sesekali meraba kontolnya yang sudah
setengah ngaceng. Tiba-tiba, HP-nya berdering keras. Ada telepon masuk.
Rido menjawab
dengan suara santai. “Halo?”
Jono berseru
riang di seberang. “Brooo! Ini Jono! Gimana kabarmu di Jakarta?”
Rido langsung
duduk tegak di sofa. Jantungnya berdegup kencang. Suara Jono yang serak, keras,
dan penuh tawa itu masih persis seperti dulu. Langsung membanjiri dirinya
dengan kenangan masa kecil di kampung.
Rido balas
dengan nada senang. “Oooh Jono? Apa kabar kamu?”
Jono tertawa
lepas. “Hahahah baik joon, ini aku mau ngabarin. Aku bakal nikah tiga hari lagi
nih. Kamu harus dateng ya, jangan bilang sibuk! Kamu satu-satunya sahabat aku
yang masih single dan gak punya istri hahaha!”
Rido terkejut
tapi langsung antusias. “Hah? Serius? Wah selamat bro! Mantap! Oke-oke, aku
dateng. Aku berangkat malam ini juga deh.”
Jono terdengar
sangat senang. “Beneran? Mantapp, aku jemput di terminal pagi ini ya. Jangan
lupa bawa oleh-oleh dari Jakarta yang enak. Aku tunggu kamu bro, kangen
banget!”
Telepon ditutup.
Rido meletakkan HP di meja. Matanya melotot ke langit-langit apartemen yang
putih bersih. Nafasnya agak tersengal. Tiba-tiba semua kenangan masa kecil di
kampung balik lagi seperti film lama yang diputar ulang.
Dulu di desa,
dia dan Jono selalu bareng dan akrab banget. Meski Rido tidak suka main bola,
dia selalu ikut Jono, menemaninya bermain bola di lapangan. Sering mereka
gulat-gulatan di tanah sambil tertawa bersama teman-teman lainnya.
Jono orangnya
agak jahil. Dia sering mencubit susu Rido sambil geram mengatakan kalau susu
Rido besar kayak cewek. Bercandaan Jono dan teman-teman lainnya kadang juga
kelewatan. Mereka suka mendorong pinggul ke pantat teman sambil teriak “ahh
ahhh ahhh!”.
Bagi mereka itu
hanya candaan biasa. Namun saat Rido merasakan jendolan kontol mereka di
pantatnya, ia merasa terangsang. Pelecehan yang dibalut candaan itu diam-diam
dinikmati Rido.
Ingatan Rido
terus mengenang kejahilan mereka di kampung dulu. Lemparan sempak basah pas
lagi mandi di sungai yang nyangkut di muka Rido. Dia hanya tertawa sambil
pura-pura marah. Padahal dalam hati ia kesenangan.
Kontolnya
langsung ngaceng. Rido harus mengenakan sempak dobel agar tidak terlihat
ngaceng saat bermain dengan mereka. Hampir tiap hari Rido menahan semua itu.
Birahinya semakin meningkat.
Itu salah satu
alasan Rido pergi ke Jakarta. Hasrat binalnya yang sudah terbangun sejak kecil
selalu ditahan. Hingga di Jakarta, Rido benar-benar membinal dan liar.
Bertahun-tahun
dia menyembunyikan jati dirinya. Takut ketahuan. Takut diusir dari desa. Takut
Jono dan teman-teman membencinya. Tersiksa banget.
Tiap colekan,
tiap bercanda mesum, tiap melihat kontol teman lagi kencing bareng di pinggir
sawah… Rido harus menahan semua itu. Harus pura-pura normal.
Sekarang? Rido
tersenyum. Sepeninggal orang tuanya, Rido beralasan kepada teman-temannya
pindah ke Jakarta agar tidak terus bersedih. Faktanya, Rido jadi lonte murahan
yang ngemis kontol sana sini.
Rido mulai
membayangkan jika dia benar-benar bisa menikmati kontol teman-temannya itu.
Perawakan mereka rata-rata kekar perkasa dengan kontol yang besar-besar.
Imajinasi itu membuat kontolnya ngaceng.
Rido bergumam
pelan. “Ahh… sange banget tiba-tiba… Jono… kamu gak tau aja, aku sekarang udah
jadi budak sex pemuas nafsu kontol pejantan ahhh…”
Rido
mengurungkan niat untuk ngocok. Ia segera memesan tiket bus lewat aplikasi
travel. Jam 10 malam ini dia akan berangkat. Rido segera mandi.
Acara nikahan
Jono tiga hari lagi. Sebelum Jono benar-benar menikah, Rido ingin mentraktir
Jono dan teman-teman lainnya makan-makan.
Rido membuka
lemari besar di kamar. Tas travel ukuran besar ia tarik keluar. Pertama dia
masukkan baju-baju seksi: celana pendek jaring transparan, singlet tipis,
singlet putih berjaring transparan. Lalu kotak sex toys yang baru dibeli
kemarin dari marketplace.
Rido berbisik
kepada mainan seksnya. “Di kampung gak ada yang bisa puasin aku… jadi kalian
harus nemenin kesepianku di malam-malam nanti.”
Setelah mandi,
dia memakai pakaian spesial untuk perjalanan: celana pendek hitam di atas
lutut. Lalu baju putih berjaring transparan tanpa kaos dalam sama sekali.
Bajunya panjang menutupi selangkangannya.
Rido sengaja
mengenakan pakaian yang lebih berani. Siapa tahu ketemu kernet yang dulu pernah
ngentotin dia waktu ke Jakarta. Atau mungkin kernet-kernet lain akan tergoda,
pikirnya.
Jam 9.15 malam,
Rido memesan taksi online. Buru-buru ia keluar apartemen. Tas besar di pundak.
Angin malam membuat putingnya mengeras dan kelihatan jelas di balik baju
berjaringnya.
Di taksi dia
sengaja duduk santai dengan kaki dibuka lebar. Supir taksi sesekali melirik ke
spion. Rido pura-pura tidak sadar.
Sesampainya di
terminal jam 22.00 pas, Rido cepat-cepat bayar taksi. Langsung ia lari. Tas
besar bergoyang di pundak. Baju putih transparannya naik-turun. Keringat mulai
mengalir di leher dan dada.
Celana pendek
ketatnya membuat pantat bulatnya terlihat jelas bergoyang. Rido mengoceh sambil
berlari. “Sialan! Mepet banget waktunya. Ahh si ojol lama banget tadi ihh. Aduh
please tungguin akuu.”
Dia lari
melewati kerumunan orang. Napasnya ngos-ngosan. Bajunya basah keringat jadi
makin transparan. Putingnya kelihatan pink samar. Beberapa cowok di terminal
melirik menatap outfit Rido yang aneh dan nakal.
Bus ke
kampungnya baru saja bergerak pelan keluar. Rido masih lari sambil teriak.
“Tunggu bang! Tunggu!” Tapi supir tidak mendengar. Bus hilang di tikungan
gelap.
Rido berhenti di
tengah terminal. Tangan bertumpu di lutut. Napasnya ngos-ngosan parah. Keringat
mengalir deras. Baju putihnya sekarang lengket di badan.
Dia mengatur
napas, berdiri tegak, lalu berjalan pelan ke bangku tunggu paling ujung yang
agak sepi. Rido duduk dengan kakinya sengaja dibuka lebar.
Dia melihat jam
di HP. Bus berikutnya jam 7 pagi. Rido bimbang antara pulang ke apartemen atau
menunggu di terminal.
Rido menghela
napas. “Ahh siaaall… huuffftt huuufttt… nunggu apa balik yaa ahhh binguung…”
Terminal malam
sudah agak sepi. Beberapa bus masih mengangkut penumpang dan beberapa kios
penjual mulai tutup. Melihat suasana sekitar ini, pikiran nakalnya mulai aktif.
Nafasnya sudah
tenang. Rido meraba pahanya sendiri. Jari telunjuk mengusap pelan pinggir
celana pendek. Bajunya bergeser sedikit. Dia celingak-celinguk sebentar.
Kontolnya mulai
ngaceng, menonjol jelas di celana pendek. Dia bersandar di bangku dengan kaki
makin lebar. Baju berjaringnya jelas menunjukkan semua lekuk tubuhnya yang
seksi.
Dari pada pulang
dan besok telat lagi, Rido memilih tetap di terminal. Ia mencari tempat sepi
untuk memuaskan hasrat yang belum tuntas.
Part 1: Kabar
Pernikahan Sahabat
Part 2: Nakal di
Terminal
Part 3:
Perjalanan Ke Kampung
Part 4: Menikmati Sahabat
Part 5: Ketahuan Pak Trisno
Part 6: Pesta
Pernikahan
Part 7: Malam
Pengantin Untuk Rido
Part 8: Dominasi Joko
Part 9: Melayani Nafsu satu keluarga
Part 10: Anjing Budak Keluarga
part 2 dan seterusnya bisa di akses di Lynk ID klik link: https://lynk.id/sancasado
.png)
Komentar
Posting Komentar