---------------------------------------------------------

-------------------------------------------------------------

Keluarga Dadakan

 


KELUARGA DADAKAN

PART 1: KEPUTUSASAAN

PART 2: TIBA DI TUJUAN

PART 3: GODAAN YANG MULAI TERASA

PART 4: MALAM YANG MENGUBAH SEGALANYA

PART 5: EKSEKUSI DAN KETAGIHAN

PART 6: KEPERGOK REZA

PART 7: PANGGILAN BARU 

PART 8PERAN BARU DAN RUTINITAS PENUH NAFSU

PART 9: ULANG TAHUN REZA KE 18

PART 10: THREESOME DOUBLE FUCK


PART 1: KEPUTUSASAAN

Hujan deras mengguyur kota kecil itu tanpa henti, seolah langit ikut berduka atas nasib Sandi Santoso. Di kontrakan sempit pinggir sungai keruh, atap seng bocor meneteskan air ke lantai semen retak, menciptakan genangan berbau amis yang menusuk hidung. Sandi, pria berusia 40 tahun dengan tubuh super muscle yang terbentuk dari kerja kasar sebagai kuli bangunan, duduk di kursi kayu reyot.

Otot lengan tebalnya menonjol, dada bidang montok seperti hasil latihan berat, dan pantat montok yang kuat untuk angkat beban berat semua itu kini terasa sia-sia. Tangannya yang kasar menutup wajah, sementara angin hujan menyusup lewat jendela tak rapat.

"Lina... kenapa harus begini?" gumam Sandi, suaranya parau bercampur isak tertahan. Istrinya baru saja menceraikannya dua minggu lalu, meninggalkan surat dingin di meja makan. Alasan resminya biasa ketidakcocokan. Tapi Sandi tahu yang sebenarnya Lina lelah dengan hidup sengsara.

Gaji kuli bangunannya tak cukup untuk tagihan, makanan layak, atau impian lebih baik. Malam-malam Lina sering mengeluh, "Sandi, kita begini terus? Aku capek!" Yang paling menyakitkan, hinaan Lina di depan cermin retak: "Badanmu gede, otot muat segalanya, tapi kontolmu kecil banget. Gak puas aku, Sandi."

Kontolnya memang kecil, tak lebih dari 10 cm saat tegang, tak mampu memuaskan Lina yang sering bandingkan dengan pria lain di TV. Akhirnya, Lina pergi dengan sopir truk yang "lebih jantan."

Kini Sandi sendirian dengan Reza, anak angkatnya yg berusia 10 tahun. Reza adalah anak dari teman kerja Sandi di kampung, seorang kuli yang tewas kecelakaan proyek tahun lalu. Orang tua Reza sudah tiada, jadi Sandi, yang polos dan baik hati, ajak Reza tinggal bareng sejak itu. Reza seperti anak sendiri baginya, reza kini memanggilnya ayah.

Pintu kamar berderit, Reza masuk dengan wajah lesu. Tubuhnya ramping, wajah tampan dengan mata penuh kekhawatiran. " yah, hujan makin deras. Atap bocor lagi, aku taruh ember tadi" Ia duduk di sebelah, tangan menyentuh bahu tegang Sandi.

Sandi menghela napas, coba tersenyum. "Terima kasih, Za.  ayah lagi mikirin besok makan apa. Gaji  ayah cuma cukup sewa, itupun nunggak." Suaranya pecah, tapi ia tahan air mata. Tak boleh lemah di depan Reza.

Reza angguk pelan. "Aku tahu yah. bu Lina pergi karena capek. Tapi kita pasti bisa. Aku coba ikut kerja ngamen aja gimana yah?." Matanya berkaca, "Gak usah, Za biar ayah yang cari jalan."

Sandi berdiri, tubuh tingginya menjulang di ruang sempit. Ia pandang sungai meluap lewat jendela. "Besok  ayah ke proyek lagi, mungkin ada lembur."

Keesokan harinya, matahari terik membakar kulit Sandi di lokasi gedung apartemen. Keringat mengucur, basahi kaus lusuh yang menempel di dada montok. Mandornya, Pak Joko, panggil ke tenda. "Sandi, minum dulu."

Sandi duduk, seka keringat. "Ada apa, Pak?"

Pak Joko sodorkan air. "Kau capek banget akhir-akhir ini. Dengar-dengar istrimu pergi ya?"

Sandi menunduk. "Iya, Pak. Tapi saya baik-baik aja kok, ada reza yg bikin saya kuat"

Pak Joko hela napas. "Kau pekerja tangguh, badan kekar, otot pantat dan dada montok kayak atlet. Tapi gaji kuli mana cukup. Bos besar, Pak Wijaya, cari orang buat anaknya di Jakarta.

Pembantu, tukang kebun sekaligus supir. Harus punya badan bagus, kuat angkat berat dan bisa nyetir. Kau cocok, gaji lima juta per bulan dan makan tinggal gratis. Kalau kamu mau, kamu bisa bawa reza juga"

Sandi terkejut. "Jakarta? Jauh ya Pak. Tapi... gajinya lumayan."

"Pikirkan Reza. Dia bisa sekolah lagi di sana dengan gaji segitu."

Sandi pulang sore, hujan turun lagi. Ia ceritakan pada Reza. "Za,  ayah dapat tawaran ke Jakarta. Gaji besar, kita pindah bareng. Mungkin kau bisa sekolah juga disana nanti."

Reza diam, lalu peluk Sandi. "Kalau buat kita lebih baik, aku ikut ayah. Mulai hidup yg baru, terimakasih yah udah selalu mikirin reza, ayah pasti kuat."

Hujan berhenti subuh, tinggalkan udara dingin. Sandi angkat koper sederhana, siap ke stasiun. Jakarta menunggu, dengan janji harapan baru.

PART 2: TIBA DI TUJUAN

Perjalanan ke Jakarta terasa panjang dan melelahkan bagi Sandi. Kereta malam penuh sesak, bau keringat bercampur asap rokok samar membuatnya tak bisa tidur nyenyak. Di sebelahnya, Reza meringkuk di kursi sempit, wajah mungil itu pucat karena kelelahan. Sandi memandang keluar jendela, melihat lampu-lampu kota kecil berlalu seperti bayangan.

Tangan kasarnya menggenggam tas lusuh berisi pakaian sederhana dan barang-barang seadanya. “Apa ini keputusan yang benar, Za?” gumamnya dalam hati. Reza, yang sudah seperti anak sendiri baginya sejak numpang tinggal setelah orang papahya meninggal, ikut pindah demi harapan hidup lebih baik.

Pagi buta, kereta tiba di Stasiun Gambir yang ramai. Udara Jakarta langsung terasa panas lengket bercampur polusi, suara klakson dan pedagang kaki lima memekakkan telinga. Sandi angkat koper mereka berdua, otot lengan tebalnya menonjol di bawah kaus kumal, dada montok menempel basah keringat.

Reza ikut bantu, tapi Sandi tolak halus. “Biar ayah aja, Za. Kamu istirahat.” Mereka naik taksi murah menuju alamat di Menteng, kawasan elit yang kontras tajam dengan kontrakan kumuh mereka di kampung.

Rumah itu seperti istana, gerbang besi tinggi, taman luas dengan rumput hijau rapi, bangunan dua lantai bergaya modern minimalis, dinding putih berkilau di bawah matahari pagi. Sandi tekan bel, jantungnya berdegup kencang. “Ini tempatnya,  yah?” tanya Reza, mata melebar kagum.

Sandi mengangguk, tapi dalam hati gelisah. Pak Joko bilang ini rumah anak bos besar, Bagas Wijaya, yang butuh pembantu kekar berotot untuk kerja berat. “Tubuhmu pas banget sama kriteria bos,” kata Pak Joko dengan senyum aneh yang membuat Sandi tak nyaman.

Pintu terbuka, muncul pemuda tinggi ramping berusia sekitar 23 tahun, rambut hitam rapi, kacamata tipis, wajah tampan tapi dingin. Bagas Wijaya mengenakan kaus longgar dan celana pendek olahraga ketat. Matanya langsung menyapu Sandi dari kepala sampai kaki, berhenti lebih lama di dada bidang montok dan lengan berotot. “Kalian siapa?” tanyanya, suara halus tapi berwibawa.

“Saya Sandi Santoso, Mas. Dikirim Pak Joko dari kampung. Ini Reza, anak angkat saya” jawab Sandi tegas tapi hormat, tubuhnya tegak menunjukkan kekuatan fisiknya.

Bagas mengangguk, mata masih mengamati. “Oh, pembantu baru. Masuklah.” Ia melangkah mundur, membiarkan mereka masuk. Di dalam, rumah mewah: lantai marmer mengkilap, sofa kulit empuk.

Bagas memperhatikan Sandi lagi, kali ini lebih intens pada otot dada yang menonjol di kaus basah keringat, dan pantat montok yang terlihat saat Sandi angkat koper. Dalam hati Bagas “Ini dia muscle daddy idamanku. Badan kekar, motok, hmmm gue harus taklukan ini laki laki.”

Sebagai gay, Bagas suka pria lebih tua, lebih kuat secara fisik, tapi bisa dibuat patuh di ranjang. Kontolnya bergerak sedikit di celana pendek, tapi ia tahan.

Bagas tunjuk kamar pembantu di belakang rumah ruangan sederhana tapi bersih dengan dua tempat tidur. Mulai kerja sekarang, bersihkan taman belakang, lalu siapkan mobil buat aku ke kampus ya

Sandi langsung bergerak. Di taman belakang luas, matahari siang membakar kulitnya. Ia potong rumput, angkat pot bunga berat, keringat mengucur deras. Kausnya basah kuyup, menempel ketat di tubuh, menonjolkan otot dada besar yang seperti payudara montok, lengan berurat, dan punggung lebar.

Saat jongkok angkat batu taman, pantat montoknya menonjol, celana jeans ketat membentuk lekuk sempurna. Bagas amati dari jendela kamar atas, tangan di celana, kontolnya mengeras. “Lihat itu… badan kekar, pantat sekal berotot. Aku harus taklukkan dia pelan-pelan.”

Sore itu, Sandi nyupirin mobil Bagas ke mall. Di mobil mewah ber-AC dingin, Bagas duduk di belakang, kaki terbuka lebar. Celana pendek tipisnya menonjolkan bulge kontol besar panjang dan tebal. Sandi lihat dari kaca spion, hatinya iri. “Kok bisa punya dia segede itu? Punyaku kecil banget, Lina aja gak puas, huuuuft ” Rasa minder menyelinap, ingat hinaan istrinya dulu.

Bagas sadar kalau sandi melirik selangkanganya, sengaja geser posisi agar bulge lebih jelas. “Sandi, badanmu kekar ya bagus banget? Pasti banyak cewek yg suka.” Sandi gelagapan, “Ah, gak juga Mas. Saya biasa aja.”

Bagas tersenyum tipis. “Biasa? Otot dadamu besar banget… montok gitu. Pasti enak digenggam dipeluk” Sandi kaget, tapi di meanggapnya bercanda, wajahnya merah.

Malam pertama, Sandi masak nasi goreng kampung sederhana. Bagas makan sambil melihat Sandi di dapur, tubuh basah setelah mandi, handuk tipis melilit pinggang, otot perut six-pack berkilat. Reza makan lahap, “Enak,  yah!” Bagas bilang, “Reza, kamu besok aku daftarin sekolah aja ya, dengan syarat kamu harus nurut selama tinggal disini.” Reza kegirangan, “Terima kasih, Mas Bagas!”

Saat sandi sedang cuci piring, Bagas mendekat dari belakang, napasnya hangat di telinga Sandi: “Kau kerja bagus hari ini. Tubuhmu… bikin rumah ini lebih hidup.” Sandi mundur pelan, “Terima kasih, Mas.” Tapi dalam hati: “Kenapa deket banget ngomongnya gitu? Bikin merinding ih

Hari-hari berikutnya, ketertarikan Bagas semakin jelas.saat Sandi sedang berkebun tanpa kaus karena panas, tubuh berkeringat seperti patung dewa yunani, dada montok bergoyang saat angkat sekop, pantat montok menonjol saat membungkuk. Bagas foto diam-diam dari balkon, kontolnya mengeras. Sandi mulai merasakan tatapan itu, tapi polosnya membuatnya tak mengerti sepenuhnya hanya merasa risih.

Satu malam, Bagas panggil Sandi ke ruang tamu. Bagas pakai boxer ketat, bulge menonjol jelas saat duduk kakinya terbuka. “Sandi, duduk sini. Ceritain tentang hidupmu.” Sandi cerita perceraiannya, suaranya bergetar. Bagas menjadi pendengar yg baik, tapi matanya ke tubuh Sandi, terutama dadanya .

Bagas geser lebih dekat, bulge hampir menyentuh paha Sandi. Mata Sandi juga terus beberapakali mencuri curi pandang bulge milik bagas yg terlihat sangat besar, dadanya berdebar canggung.

sandi hanya menceritakan masalah ekonominya, tanpa memberitahu soal kontol kecilnya yg membuat lina tidak puas. Selesai cerita, sandi langsung pulang ke kamar, hati campur aduk. Rasa minder makin dalam, membahas perceraian, terlebih melihat gundukan selangkangan bagas, pria yg lebih muda darinya, memiliki kontol besar yg tidak dia miliki.


 

PART 3: GODAAN YANG MULAI TERASA

Hari-hari di rumah mewah Menteng berlalu dengan ritme baru yang membuat Sandi merasa campur aduk. Pagi-pagi ia sudah bangun membersihkan taman, menyiram tanaman, menyapu daun kering.

Reza sendiri mulai beradaptasi, Dia udah mulai sekolah.  Tapi Sandi mulai merasakan sesuatu yang aneh dari Bagas. Tatapan pemuda itu terlalu sering tertuju padanya, terutama saat ia bekerja tanpa kaus karena panas. Bagas sering berdiri di balkon atas, pura-pura baca buku atau main ponsel, tapi matanya tak lepas dari Sandi.

Suatu siang, saat Sandi sedang membersihkan kolam ikan kecil di taman belakang, Bagas turun dengan handuk kecil di bahu, baru selesai mandi. Tubuh rampingnya basah, hanya pakai celana pendek ketat yang menonjolkan bulge dengan jelas. “Sandi, panas banget ya hari ini. Kamu gak capek?” tanyanya sambil duduk di pinggir kolam, kaki terbuka lebar.

Sandi angkat kepala, seka keringat dengan lengan tebal. “Biasa aja, Mas. Kerja kasar gini dari dulu.” Ia coba fokus ke pekerjaan, tapi matanya tak sengaja melirik bulge itu lagi. Besar sekali, bentuknya jelas terlihat di balik kain tipis. Sandi buru-buru alihkan pandang, wajahnya memanas. “Duh, kenapa aku mikirin gitu? Aku kan laki-laki normal, akui hanya iri dengan ukuranya, bukan tertarikgumamnya dalam hati, ingat hinaan Lina yang masih terngiang sampai saat ini.

Bagas tersenyum tipis, seolah tahu apa yang dipikirkan Sandi. “Badanmu keren, Sandi. Otot dada mu besar banget, montok gitu. Kayak… susu cewek aja. Pasti enak disentuh dimainin ya hahhah.” Kata-katanya ringan, seperti bercanda, tapi nada suaranya dalam, penuh maksud.

Sandi gelagapan, hampir jatuhkan selang air. “Ah, Mas bercanda. Saya biasa aja kok.” Ia buru-buru balik badan, pura-pura sibuk membersihkan filter kolam, tapi pantat montoknya malah menonjol lebih jelas saat membungkuk. Bagas menggigit bibir bawah, kontolnya berdenyut di dalam celana. Dalam hati: “Dia polos banget. Tapi badanya itu uhh mantep bangett… aku harus taklukan sandi bagaimanapun caranya.”


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Gangbang Bocil bocil sepak bola (Spin Off Diperbudak Junior)

Diperbudak junior

BAB 11 pengalaman Binal Rido: Kurir Paket, COD sex dulu