---------------------------------------------------------

-------------------------------------------------------------

Johan di Bus



Gue lagi dalam mood yg biasa aja hari itu. Cuaca Jakarta lagi panas banget, keringat nempel di kulit, tapi justru bikin gue mulai bergairah. Gue putusin naik bus kota buat pulang ke kosan, Gue pakai Singlet ketat warna hitam yang nunjukin bentuk dada dan perut six-pack gue, bahan tipis yang nempel karena keringat, sampe puting gue agak ngejiplak kalau diliat deket-deket. Celana jeans pendek, potongannya sampe pertengahan paha dan ya, gue sengaja gak pakai sempak hari ini biar lebih bebas, lebih raw, lebih... menantang.

Bus dateng, udah lumayan penuh. gue naik dari pintu belakang, Gak ada kursi kosong, jadi gue berdiri sendiri agak ke pojok belakang, Di depan gue, di pojok kursi belakang, ada cowok umur sekitar 30-an, badannya atletis, pakai kaos polo dan celana kerja biasa. Dia duduk sebelahan dengan pria tua dan sebelah lagi udah pintu dengan penghalang pagar kecil, pria tua itu langsung merem melek begitu bus jalan. Cowok itu lagi main hape.

Bus mulai jalan, getarannya bikin badan gue bergoyang pelan. Gue sengaja geser sedikit lebih deket ke dia, pura-pura nyari keseimbangan. Tonjolan kontol gue yang lagi lemas aja udah keliatan banget di celana jeans pendek ini, melengkung ke kiri karena kebesaran. Gue ngerasa adrenalin mulai naik, bergairah karena tahu mata orang bisa nyasar ke situ.

Halte berikutnya, bus makin penuh. Orang-orang naik desak-desakan, bau keringat campur parfum murah nyebar di udara panas. Gue terdorong lebih deket lagi ke cowok pojok itu, sampe paha gue hampir nempel ke lututnya. Gue liat dari sudut mata, dia angkat muka dari hape, matanya sekilas nyasar ke tonjolan gue. Bukan cuma sekilas dia diem bengong sesaat, tapi gue bisa rasain tatapannya yang penasaran.

Jantung gue mulai berdegup kenceng. Bukannya malu, gue malah tambah bergairah. Kontol gue mulai bergerak pelan, ngaceng sedikit demi sedikit, bikin celana jeans yang udah ketat makin sempit. Bentuknya mulai ngejiplak jelas, melengkung ke samping, Gue ngerasa panas di situ, darah ngalir deras, dan gue harus nahan napas biar gak keliatan terlalu obvious.

Cowok itu balik main hape, tapi gue sadar dia nyuri-nyuri pandang. Bus tiba tiba ngerem mendadak, dan tiba-tiba tangannya nyenggol tonjolan kontol gue, gue rasain jarinya agak lama nempel. Gue diem aja, tapi dalam hati gue senyum. "Dia mulai penasaran,". Bus ngerem lagi gak terlalu kuat sih tapi kepalanya terdorong maju sedikit, sampe hidungnya nyentuh selangkangan gue sekilas, kelihatan banget dia pura pura gitu, matanya jelas berkali kali ngelirik kontol gue, bikin gue tegang lebih keras. Gue ngerasa adrenalin meningkat, bus penuh orang, suara obrolan, klakson di luar, tapi di pojok ini kayak ada dunia sendiri.

Gue sadar gelagatnya, dan bukannya mundur, gue malah ngambil inisiatif. Tangan gue pelan-pelan turun, ngelus-ngelus selangkangan gue sendiri, pura-pura ngebenerin celana yang "gatal" karena keringat. gue turunin resleting sedikit aja dulu, biar bulu gue yang rapih bise sediikit keliatan. Cowok itu langsung makin salting, matanya gak bisa lepas. Dia geser badannya sedikit, pura-pura ngebenerin posisi duduk.

Gue rasain tatapannya kayak laser, bikin kontol gue ngaceng full sekarang, nyampe 29 cm, melengkung ke samping dan ngepress resleting yang setengah terbuka. Hati gue berdegup kenceng, orang-orang sibuk sendiri, dan pria tua di sebelah cowok itu lagi mendengkur pelan, tidur lelap. Bus goyang lagi, dan cowok itu jatuh sedikit ke depan pura-pura hilang keseimbangan, tapi tangannya nyentuh resleting gue dan narik turun sampai full kebuka. Sekarang pangkal kontol gue keliatan jelas, kulitnya yang mulus, urat-urat yang lagi nabrak karena tegang, jembut halus yang rimbun, bentuk konyol yang melengkung ke kiri tanpa daleman yang menahan.

Mata kami saling lirik sekilas—gue lihat matanya penuh nafsu, bibirnya agak terbuka, dan gue cuma angguk pelan, tanpa kata-kata. Gak perlu bicara, kami paham. Posisi pojok ini relatif aman, dinding bus nutupin dari satu sisi, dan orang di belakang lagi pada berdiri saling dorong.

Dia beraniin diri sekarang. Tangan kirinya naik pelan, ngelus batang kontol gue dari luar celana dulu, jarinya geser ke bagian yang terbuka. Gue nahan desah, gigit bibir, sambil pegang tiang lebih erat biar gak goyang. Dia geser lebih dalam, pegang batangnya langsung, kocok pelan-pelan sambil liat-liat sekitar. Hati gue deg-degan parah—kalau pria tua bangun? Kalau ada yang nengok? Tapi justru risiko itu bikin gue tambah bergairah, kontol gue berdenyut di tangannya, precum mulai netes sedikit, bikin licin.

Dia lihat gue, mata kami ketemu lagi, dan dia maju pelan. Mulutnya mendekat, napasnya hangat nyentuh kulit gue. Dia buka kancing celana jeans gue, dan menarik kontol jumbo gue keluar, terpampang lah kontol 29 cm ngaceng full ditengah keramaian bus, wajahnya terlihat syok kaget dan mupeng. Tanpa banyak bicara, dia hisap ujungnya dulu lidahnya muter pelan, hisap pelan biar gak berisik. Gue rasain sensasi basah dan panas, bikin gue pengen mengerang tapi harus nahan. Bus lagi rame, suara orang ngobrol nutupin semuanya. Dia hisap lebih dalam sekarang, kepalanya maju mundur pelan, tangannya bantu kocok bagian bawah. Gue liat ke atas, nahan napas, perasaan takut ketahuan campur puas karena lagi di tempat umum gini.

Gue nggak tahan lama birahi gue udah memuncak dari tadi. Kontol gue berdenyut lebih kenceng, dan rasa takut ketahuan bikin gue crot di mulutnya, Crooooootttt Crooooooottt Crooooootttt, muncrat deras kayak biasa, pejuh gue yang banyak banget, dia telan semua, sisanya netes ke celana, tapi dia cepet ngebenerin. Gue masukin lagi kontol gue, tarik resleting naik pelan, sambil saling lirik terakhir dia senyum tipis sambil ngelap bibirnya yg basah kena pejuh, gue angguk puas. Bus sampe halte, gue turun dengan kepuasan, Sensasi mendebarkan itu... bikin gue ketagihan lagi.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Gangbang Bocil bocil sepak bola (Spin Off Diperbudak Junior)

Diperbudak junior

BAB 11 pengalaman Binal Rido: Kurir Paket, COD sex dulu