BAB 9 Pengalaman Binal Rido: Di warnet
KEBINALAN DI WARNET
Rido menatap pantulan
dirinya di cermin kamar mandi apartemen mewahnya, yang dibeli dari untung saham
kripto yang meledak beberapa tahun lalu. Usia 28 tahun, tapi wajah imutnya
dengan mata besar dan bibir tipis masih sering disangka mahasiswa baru.
Tubuhnya? Kulit putih
mulus seperti susu, dada yang membusung lembut dengan putting merah muda yang
sensitif, perut rata dari rutinitas gym pagi, dan bokong bulat padat yang
selalu menarik perhatian saat dia jogging siang hari.
Tapi hari ini,
semuanya terasa hambar.
“Sialan, gue butuh
sesuatu yang beda,” gumamnya pelan, jari menyentuh dadanya sendiri, merasakan
getaran kecil yang biasanya cukup buat memicu birahi, tapi sekarang? Kosong.
Ingatannya melayang ke
masa SMA, saat dia diam-diam bergabung dengan klub tari tradisional. Gerakan
lemah gemulai itu, kostum ketat yang memeluk tubuh, tatapan penonton yang lapar
itu dulu bikin dia merasa hidup, meski
dia sembunyikan dari teman-teman dan keluarganya.
Ahhh sialll… bosaan.
Mungkin gue coba kegiatan tari lagi kali ya, pikirnya.
Dengan cepat, dia buka
laptop, cari studio tari Nusantara terdekat. Syarat pendaftaran sederhana: foto
diri, fotokopi KTP, ijazah, dan pas foto 3x4. Semua sudah ada di flashdisk,
kecuali pas foto yang perlu dicetak.
Rido memilih pakaian
santai: hoodie hitam longgar tanpa apa-apa di dalam, celana pendek ketat yang
membentuk garis tubuh bawahnya dengan jelas, dan tentu saja tanpa celana dalam kebiasaan rahasia yang selalu bikin dia
deg-degan.
Dia keluar apartemen,
matahari sore menyinari jalanan ramai. Tak lama, dia temukan warnet kecil di
pinggir jalan, tempat yang tampak usang tapi buka 24 jam. Pintu masuknya gelap,
aroma pengap campur asap rokok menyambut saat dia dorong pintu.
Lorong panjang dengan
bilik-bilik sempit di kanan kiri, masing-masing seperti kotak kecil dengan
kursi usang, meja komputer berdebu, dan pintu setinggi dada yang meninggalkan
celah 30 cm di bawahnya cukup buat liat
kaki orang di bilik seberang, atau mungkin lebih.
Pengunjungnya
kebanyakan pria, beberapa topless karena panas, dada berotot atau berbulu
berkeringat di bawah cahaya neon redup. Bau amis samar menyusup ke hidung Rido,
seperti campuran keringat dan sesuatu yang lebih intim residu hasrat yang tertinggal di kursi atau
dinding.
Tempat ini… kayak
sarang rahasia, bisik hatinya, jantung mulai berdegup lebih cepat, campuran
penasaran dan gelisah yang anehnya bikin darahnya panas.
Dia pilih bilik tengah
yang kosong, duduk, dan colok flashdisk. Sebelum print, mata iseng melirik
browser.
“Cek dulu aksesnya
gimana,” gumamnya. Ternyata mudah: situs dewasa terbuka tanpa blokir, bahkan
ada folder download penuh video berbagai genre, termasuk yang sesuai selera
Rido gay fetish, eksibisionisme, BDSM.
Bau amis itu semakin
kuat sekarang, seperti jejak basah di kursi yang dia duduki.
Seseorang pasti habis
coli… di sini, pikirnya, tubuhnya bereaksi: denyut pelan di selangkangan,
celana pendek mulai terasa ketat.
Dia ragu sejenak, mata
melirik celah pintu bawah kosong di seberang.
“Gue cuma sebentar,”
katanya meyakinkan diri, tapi tangan sudah gerak sendiri, buka video: seorang
pria diikat di tempat umum, dihina sambil digilir, desahan samar keluar dari
headset.
Panas warnet menambah
sensasi, keringat mulai mengucur di lehernya. Rido buka hoodie pelan, dada
mulus terpampang, putting mengeras.
“Gak ada yang liat,”
gumamnya gugup, tapi adrenalin naik, seperti api kecil yang mulai membesar.
Tangan menyusup ke
celana, gesek pelan, mata terpaku pada layar. Video itu bikin imajinasinya
liar: bagaimana rasanya kalau dia yang di sana? Malu, tapi bebas.
Dia turunkan celana
lebih rendah, telanjang sepenuhnya di kursi lengket itu, kaki melebar sedikit,
tangan bergerak lebih cepat.
Suara keyboard dari
bilik lain seperti irama latar, bikin dia merasa tersembunyi tapi rentan.
Ini gila… kalau ada
yang liat dari bawah gimana? Pikirannya campur, takut, tapi justru bikin hasrat
membuncah.
Tiba-tiba Rido ingat
tugasnya: print pas foto.
“Ah, cepat selesaiin
dulu.”
Tangan gemetar karena
suara langkah di luar bilik, dia klik folder flashdisk, pilih file atau begitu dia kira. Saking deg-degan, dia
salah klik: bukan foto formal, tapi salah satu foto pribadi rahasianya. Pose
nungging menghadap belakang, tangan memegang dada montok seperti model erotis,
kontol mengeras terlihat dari bawah, bokong terbuka menggoda.
Dia gak sadar,
langsung tekan print, 5 lembar, lalu kembali ke video, tangan melanjutkan
ritme.
“Hampir… sebentar
lagi,” desahnya pelan, badan bergetar, keringat mengalir seperti sungai kecil
di punggung.
Di depan, dua penjaga
warnet santai sambil merokok. Andi, 25 tahun, kurus tapi tegas dengan rambut
gondrong dan mata sipit yang selalu curiga, sibuk main ponsel.
Budi, 28 tahun, kekar
seperti preman dengan dada berbulu dan wajah garang, duduk di meja printer.
Printer berdering,
lembar pertama keluar foto Rido
telanjang, pose provokatif terpampang jelas. Mata mereka melebar, campur kaget.
Andi “Anjing siapa nih
ngeprint foto model porno kek gini?”
Budi “Apaan Ndi?”
Melihat lembar print yang dipegang Andi Budi “Bangsatt apaan nih!”
Andi “Perasaan yang ke
warnet cowok semua Bud, lagian ni foto laki-laki telanjang aneh bet bukannya
pamer kontol malah pamer pantat wkwkwkwk.”
Budi “Hmmm ini sih
model homo anjing hahahah.”
Andi “Oalah pantes
aneh gini hahah, anjing berarti yang ngeprint homo cokk.”
Budi “Udah pasti,
masalahnya tolol bgt ni bocah ngeprint foto beginian di sini hahah, sengaja apa
gimana ni orang?”
Andi “Penasaran gw,
kita cek yokk hahah.”
Budi “Ayokk, bilik
nomor brp itu?”
Andi “Nomor 15.”
Budi dan Andi segera
membereskan meja dan memajang tulisan “Sedang ke WC”. Barulah mereka berdua
pergi ke bilik nomor 15 tempat Rido sedang mengulik koleksi bokep di komputer
dengan telanjang bulat.
Rido masih belum sadar
dengan apa yang baru saja dia lakukan, ngeprint foto dirinya berpose pamer
pantat dan tetek montok dengan wajah yang manis dan imut menggoda, benar-benar
pose binal.
Rido terus memindai
bokep-bokep gay yang menurut dia bagus dan dipindahkan ke flashdisk. Dia masih
telanjang bulat dengan kontol ngacengnya yang terus dimainkan, sesekali
menengok bilik seberang dari celah pintu bawah, masih kosong, dia masih
berpikir aman.
Lanjut Rido mulai
memainkan pentil susunya diremas-remas sendiri sambil ngocok dan mendengarkan
suara desahan dari bokep yang ditonton. Sedang asyik-asyiknya Rido ngocok
kontol sambil mainin putting, tiba-tiba pintu terbuka “Bruakkkk”.
Rido terkejut, dan
muncul lah Budi penjaga warnet dan Andi penjaga printer.
Budi “Hayoloh anjing
telanjang cokk ni homo hahahhah ngocok dia nonton bokep homo!”
Budi memegang kamera
hp dan memvideokan aksi penggerebekan ini.
Andi “Anjing Bud ini
orang yang di foto tadi cokk, dia ngeprint fotonya sendiri bangsatt hahahahah.”
Rido terdiam dan
bingung, dadanya berdebar panas, gugup takut dan pasrah, di sisi lain kepergok
telanjang sambil ngocok di warnet malah membuatnya semakin horny.
Perasaannya campur
aduk, syok berat karena kejadian begitu cepat. Beberapa orang di bilik-bilik
sebelah langsung ikut mengerubuni Rido yang lemas terduduk di bangku warnet
dengan kontol masih terus ngaceng.
Rido “Maa… maaf bang…
maaf bgt… tolong bang jangan dilaporin please bang maaf bgt bang…”
Rido minta maaf sambil
menutupi kontolnya dan mencari pakaiannya.
Budi “Anjing lu homo
bangsatt, gw mau tanya ngapain lu print foto binal lu sendiri di sini? Sengaja
lu ya minta di entot?”
Tamu 1 “Anjing cabul
bgt di warnet telanjang, mana ngeprint foto beginian lagi hahah gila ni orang
gak tau malu.”
Tamu 2 “Bangsattt
bener-bener bugil cokk, warnet ini emg sering pada ngocok tapi gak ampe bugil
gini juga anjing hahahah.”
Rido “Hah? Maaaf bang
gak ngerti…”
Rido gugup dan masih
belum bisa mencerna situasi, masih panik Rido berusaha memakai celananya.
Budi “Diem lu anjing!”
Budi menarik celana
dan hoodie Rido.
Andi “Nih ngapain lu
ngeprint foto binal kek gini?”
Rido “HAH?..... maa
maaf bang salah foto bang maaf tdi mau print pas foto bang beneran, astaga.”
Budi “Halaah lu
sengaja kan pamer lubang bool, mancing-mancing minta dientot lu kan? Anjing
lah! Homo sekarang pada gak tau malu.”
Andi “Bener tuh mana
mungkin salah pilih foto, lu pikir kita homo? Bangsatt!! Lu musti kita bawa ke
polisi, ini udh tindakan apa itu namanya aaaaarh pokoknya lu musti dihukum,
tindakan cabul di tempat orang.”
Tamu 1 “Bener tuh kita
bawa ke polisi, biar kapok!”
Budi “Bukti udh jelas
gue videoin dari tadi hahahah.”
Rido “Maaf bang aku
mohon bang aku bener-bener gak sengaja bang maaf tadi salah klik foto pasti
bang bener bang.”
Tamu 3 “Ada apaan si
ramai-ramai weh?”
Tamu 2 “Ini ada laki-laki
homo kayaknya telanjang coli di bilik sampe ngeprint fotonya sendiri telanjang
hahah.”
Tamu 3 “Anjing mantep
bener, hahah salut gw berani bgt tu orang.”
Tamu 2 “Hahahh lebih
ke gila sih dri pada mantep hahah.”
Budi “Sini lu keluar
anjing.”
Budi menyeret tangan
Rido keluar bilik, jadilah tubuh telanjangnya semakin terlihat oleh orang-orang
yang sedang berkumpul.
Rido “Maaf bang sumpah
gak lagi-lagi bang, gw kasi uang aja ya bang please jangan dilaporin.”
Rido berlutut memohon
maaf ke Budi dan orang-orang di situ.
Budi “Anjing lu pikir
gue miskin?”
Dalam hati Anjing ni
laki montok juga bangsatt putih mulus, persis kek di foto tadi, aahh anjinglah
bikin penasaran aja ni homo.
Andi “Bangsatt
bener-bener sama kek di foto cokk, montok bener lu jadi laki hahah.”
Tamu 3 “Anjing mulus
bet tu kulit, montok abis pantes suka pamer hahahah.”
Semua mata memandang
Rido dengan perasaan yang berbeda, bentuk tubuh Rido benar-benar membuat mereka
kagum dan penasaran.
Budi “Okee gue gak
bakal laporin ke polisi tapi ada satu syarat.”
Rido “Iyaa bang
makasih bang apapun syaratnya gue jabanin bang yang penting gak dilaporin
bang.”
Budi “Sebagai
hukumannya lu di tengah lorong warnet ini pose kayak di foto tadi sampai kita
puas liatnya hahahah.”
Andi “Hahahah boleh
tuu lumayan juga ni homo badannya bagus montok hahah.”
Rido “Taa… taapiii
bang malu bang, please gue bayar aja ya bang.”
Rido semakin panik dan
malu, pose binalnya harus dipertontonkan live, tapi birahinya justru semakin
tinggi.
Tamu 3 “Hahahah malu
apaan tu kontol ngaceng mulu dari tadi hahah, lu suka kan pamerin badan lu yang
montok ini?”
Tamu 1 “Anjing iya
cokk tu kontol masih ngaceng mulu dari tadi ampe netes-netes precumnya
hahahah.”
Budi “Udah lu pose
atau kita laporin?”
Rido “Iii… iiyaa bang
aku pose aja.”
Rido semakin gugup dan
pelan menggerakkan badannya penuh keraguan dan rasa horny yang makin memuncak.
Rido mulai berlutut
dan ngangkang menghadap belakang memamerkan bokong sekalinya, sedikit nungging,
kepala Rido mulai menoleh ke belakang memamerkan dada montoknya dan pentil pink
yang tegang, wajahnya malu dan takut, namun ekspresi mata yang mupeng terlihat
jelas, kontolnya semakin basah meneteskan precum.
Budi “Bangsat cokk
sexy bgt ni homo anjing tu pantat gede bgt pen gw tampar hahahah.”
Andi “Anjing makin
berani, tu kontol kagak ada malunya malah makin ngaceng merah basah cokk,
kesenengen dia di liatin cowok-cowok hahahah.”
Tamu 3 “Anjiiing sange
gue, bang gue entotin aja lah ya wkwkwk.”
Budi “Anjing lu homo
juga?”
Tamu 3 “Hahah masih
doyan cewek gue bang tapi pernah ngentotin bencong, pantat burik beda bgt ama
ini anjing mulus pink gitu bikin sange ahhh ngaceng gue sumpah.”
Andi “Hahahah lu tanya
lah sama dia mau kagak dientot sama lu hahahah.”
Tamu 3 “Halah ngapain
nanya pose dia aja udh minta dientot wkwkkwwk.”
Ahhhh anjiiing sange
bett guee pamer bool ginii, ada yang mau ngentotin lagi ahhh, mau bangett
anjing gue udh gak peduli lagi please pengen kontol, pikir Rido dalam hati.
Budi “Hahahah tahan
bang gue masih mau kasi hukuman dulu hahah.”
Budi lanjut memberikan
gambar selanjutnya.
Pose ketiga, Rido
melihat gambar itu dan semakin berdebar, sambil menahan rasa sangenya dengan
masih ada sisa rasa malu, Rido bergerak perlahan, keraguannya tidak seperti
tadi, kini Rido bergerak lebih lancar, mengambil posisi nungging dengan pantat
menghadap para pria di depannya, lalu kepalanya menyentuh lantai, kedua
tangannya memegang pantat dan membuka belahan pantatnya memperlihatkan lubang
boolnya semakin jelas di depan mereka.
Tamu 3 “Anjing
bangsattt gue gak tahan bang ini homo bener-bener binal gue yakin kontol mana
aja mau dia hahahah.”
Budi “Hahahah anjing
ni lubang bool mantep bgt emang bangsatt montok lagi pantatnya.”
Tamu 1 “Gila ini
gilaa, gue mau lebih banyak pose, hot bgt cokk.”
Andi “Uhhh sange juga
gue liat bokong semoknya.”
Budi terus memberikan
pose-pose binal sesuai gambar dan Rido mempraktekan pose-pose itu dengan
semakin berani. Tamu-tamu warnet yang tadi masih main game dan fokus mulai satu
persatu berkumpul kembali di lorong warnet menyoraki dan memberi semangat Rido,
tak lupa komentar-komentar pria di sana sangat merendahkan dan melecehkan Rido.
Pe-lecehan pria-pria
di depannya justru membuatnya semakin bersemangat, Rido sampai membuat sedikit
gerakan-gerakan menggoda seperti menggoyangkan pantatnya, mengelus lubang
boolnya, meremas tetek montoknya, bahkan membuat ekspresi menantang para
pejantan di depannya.
Pose terakhir yang
diminta Budi, kini Rido sedang mengangkang di atas kursi, tapi badan Rido tetap
duduk, tangannya diangkat ke atas, wajahnya menghadap samping, lidahnya
menjulur seolah menjilati keteknya sendiri.
Budi “Bangsattt gue
ikut sange anjing, bener-bener lonte binal lu pose-posenya hot banget cokk.”
Budi mulai mendekati
Rido dan menampar pantat semok Rido cukup keras karena geram dengan ekspresi
Rido yang kini bukan seperti dihukum justru lebih mirip pelacur yang mencari
pelanggan.
Rido yang sedang
mengangkangkan kakinya, dengan tangan di atas dan menjilat keteknya sendiri
semakin sange, kontolnya benar-benar merah dan keras, precum mengalir deras.
Tiba-tiba tamparan Budi mendarat tepat di pantat dan biji kontolnya yang
terpampang, membuat Rido merasakan mules dan nikmat secara bersamaan.
Napsu yang tertahan
selama berpose di depan orang-orang asing, kini mencapai puncaknya. Sentuhan
kasar Budi membuat Rido mendesah.
“Ahhhh bang ahhh”
CRROOOOOOTTTT
CRROOOOOTTT CRROOOOOOTTTT CRROOOOOTTT
Rido memuntahkan
pejuhnya di depan banyak pria, spermanya tercecer di lantai dan paha mulusnya,
mengundang tawa dan rasa kagum dari semua orang.
Budi “Bangsatt baru
ditampar udah crott cokk hahahahah.”
Andi “Anjing udah
nahan sange dari tadi itu homo Bud.”
Semua tamu di sana
tertawa melihat Rido klimaks di tengah rasa malunya.
Dari total 12 pria
yang mengelilingi Rido, sebagian besar mulai sange dan tidak lagi peduli kalau
Rido juga seorang laki-laki. Budi mulai meremas pantat Rido yang baru saja
crot, pejuhnya belepotan di paha dan perut mulus Rido.
Andi dan Tamu 3 mulai
ikut menggerayangi tubuh Rido, Andi meremas susu Rido, memainkan pentil pink
yang tegang sedari tadi, sedangkan Tamu 3 mulai memasukkan jari tengahnya ke
dalam lubang bool Rido, terasa hangat dan lembab di dalam.
Tamu 3 mulai obok-obok
pelan, suara becek plok plok plok terdengar samar di lorong warnet yang pengap,
bikin Rido menggeliat pasrah, desahnya makin menggeliat.
“Ahhh bang… ahh
jarinya dalem… ahhh sssh… malu bett… tapi ahh enak… uhhh…”
Budi “Bajingan pantat
lu empuk bett anjing, gue remes terus nih hahaha… pantat laki kok montok gini
sih, sialan! Sange bett gue!”
Andi “Susu lu kenyal
bett anjing, pentil pink gini minta dicubit hahah Cuittt… hahaha menggeliat lu
kan, horny bett anjing!”
Tamu 3 “Lubang lu
panas njir… gue obok lebih dalem ya… plok plok plok… bajingan binal bett lu,
pasrah aja digrepe gini…”
Anjing… gue digrepe
tiga orang sekaligus… pantat diremes Budi, susu dipilin Andi, lubang diobok
Tamu 3… rame orang nonton… mereka pada liatin gue menggeliat… malu ahhh… takut
ada yang lewat di luar ahh… tapi kok makin sange gini… pengen dientot sekarang…
ahhh pasrah aja gue… horny bett… binal banget gue… pikir Rido dalam hati.
Lorong warnet makin
ramai, tamu-tamu yang tadi sibuk main game pada keluar bilik, sekarang total
sekitar 12 orang lagi mengelilingi Rido yang lagi digrepe. Suara langkah kaki
orang lewat di luar lorong makin sering terdengar warnet di pinggir jalan, celah pintu depan
terbuka, angin malam masuk bawa suara motor & orang jalan.
Rido desah lebih
kencang.
“Ahhh… remes terus
bang… ahh malu bett… tapi ahh sange… uhhh…”
Badannya menggeliat
pasrah, kontol kedut-kedut, precum netes lebih deras ke lantai.
Budi, Andi, & Tamu
3 gak berhenti Budi meremes pantat lebih
kasar, jarinya colok lubang bool dari belakang bareng jari Tamu 3.
“Jari gue masuk bareng
ya… binal bett anjing… plok plok plok!”
Suara becek plok plok
plok terdengar lebih kencang, bikin Rido menggeliat lebih liar.
“Ahhh dua jari di
bool… ahh penuh bang… ahhh sssh… malu bett… tapi ahh pasrah gue… uhhh…”
Andi pilin putting
lebih keras, tarik-tarik.
“Cuittt cuittt… pentil
lu pink tegang bett… gue tarik ya… montok bett susu lu anjing… hahaha gue
normal aja sange liat lu gini!”
Tamu-tamu lain mulai
ikut ngerayangi satu tamu meremes susu
Rido bareng Andi “susu montok bett… gue remes ya anjing!” Satu lagi mengelus
paha Rido “paha mulus bett… sialan cabul pamer gini!”
Budi gak tahan lagi,
dia buka celana, kontolnya besar ngaceng keras digiringnya ke mulut Rido.
“Sepong gue anjing…
hisap! slurrpp slurrpp… bangsatt mulut panas bett… lu haus kontol ya?”
Rido mangap pasrah.
“Slurrpp… ahh bang
Budi… slurrpp… uhhh mulut penuh…”
Tamu 3 “Anjiing udah
mulai nih.”
Tamu 3 membuka
celananya dan mengarahkan kontolnya ke lubang bool Rido yang mangap-mangap
minta dientot, dan blesss kontolnya masuk ke dalam bool Rido sampai mentok.
Rido menggeliat
pasrah.
“Hmmppphhh… ahhh bang
yahhh… entot terus bang… ahh malu gue aah… tapi ahh enak… uhhh… plakkk ahh…”
Tamu lain ikut ngentot
bergantian: satu sodok mulut gantian dengan Budi “slurrpp… hisap gue anjing…
crooooot crooooot!” Crot di mulut Rido, netes ke dagu.
Satu lagi ngentot bool
gantian dengan Tamu 3 “blesss! Memek lu pulen abis anjing… plak plak plak… crot
di dalam ya… crooooooot croooooot!”
Rido menggeliat
semakin gila, dan crot berkali-kali, berbagai gaya dicoba oleh Rido dalam
lorong yang sempit pengap itu. Rido digilir berbagai ukuran kontol dari 14 cm
sampai 18 cm, kontol mereka terus menggerayangi dan mengentoti tubuh Rido.
Beberapa hanya numpang crot di tubuhnya.
Dalam hati Rido
Sialan… gue digilir ramai-ramai di lorong warnet… mereka pada ngentot gue
bergantian… orang luar bisa denger desahan gue… malu bett… tapi kok pengen
terus… ahhh pasrah aja gue… horny bett… binal banget gue…
Rido desah gila.
“Ahhh bang… ahh
ngentot terus…”
Rido sudah
berpengalaman dengan gangbang, tubuhnya masih kuat melayani berbagai kontol
yang menjadikan dirinya toilet pejuh.
Andi dari awal hanya
memperhatikan aksi gangbang anak-anak di warnet, memandangi Rido yang penuh
kebinalan melayani kontol berbagai macam bentuk. Sampai saat ini di malam yang
semakin larut, beberapa pria yang sudah puas lanjut memainkan game atau berselancar
di internet meninggalkan Rido dengan beberapa pria di sana, Budi kembali ke
meja kasir.
Andi sebenarnya masih
ragu namun melihat suasana semakin panas, anak yang sedari tadi terlihat
sedikit polos justru menyimpan perasaan yang lebih dalam, melihat Rido berlumur
sperma, Andi malah semakin sange.
Andi “Bangsatt lu
anjing homo, tanggung jawab lu bikin gue yang suka cewe jadi sange gini
plakkk.”
Andi menampar pipi
Rido yang licin dengan pejuh.
Rido “Ahhh maa maaf
bang uhh.”
Rido dan beberapa pria
di sana terkejut dengan aksi Andi yang dari tadi diam tiba-tiba berlaku kasar,
seperti orang yang berbeda.
Andi “Sini lu hisap
selangkangan gue anjing.”
Plakk Andi menampar
pipi Rido lagi.
Rido mulai
mengendus-endus selangkangan Andi, dibukanya resleting celananya dan terlihat
kontol jumbo yang ngaceng keras dibalik celana dalamnya. Rido menarik celana
dalam Andi.
Andi “Plakk bangsatt
siapa yang nyuruh buka sempak gue? Hisap sempak gue anjing homo.”
Rido “Ahhh ii iiyaa
bang.”
Rido masih syok dengan
perubahan sikap Andi yang tadi masih ketawa-ketawa jahil sekarang jadi bringas.
Andi “Bashain sempak
gue bangsatt, lu anjing homo bangsatt.”
Andi benar-benar geram
dengan Rido, seperti dilema antara menjaga kewarasan dan sange dengan pria,
emosi yang gak ke kontrol membuat Andi geram dan marah tapi sange.
Rido menjilati sempak
putih Andi yang kini benar-benar basah oleh precum dan ludah Rido. Andi
menggerang keenakan dengan mulut Rido yang menempel di batang kontolnya.
Beberapa tamu di situ melihat aksi Andi justru kagum, mereka merasa Andi begitu
jantan mendominasi permainan ini.
Dalam hati Rido
Anjiing bang Andi kenapa jadi serem gini ahhh makin sange gue ama yang jantan
gini, please pengen banget dientot pake kontolnya, uhh gede banget sumpah
kontolnya, beda ama kontol-kontol tadi ahhh gue pengen bangett kontol Andiii.
Andi “Buka celana sama
sempak gue njing, pake mulut homo lu yang haus kontol itu bangsatt!”
Rido mulai melepas
sempak Andi dan celananya menggunakan mulutnya sampai terlepas semuanya.
Tamu 1 “Bangsattt
makin hot lu Ndi gila keren banget anjing hahahah.”
Teman-teman lain di
situ mulai antusias, beberapa bahkan mulai keluar dan kembali menonton Rido.
Andi “Mangap lu
anjing.”
Rido berlutut di depan
kontol Andi yang jumbo mengacung keras berukuran 26 cm itu dan menadahkan
mulutnya. Dan currrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr “Minum sampai habis anjing.”
Rido yang mendapatkan
kucuran air kencing Andi makin sange, alih-alih mangap dan menadah Rido
langsung melahap kontol Andi dan kencing itu langsung mengucur di
tenggorokannya.
Andi “Hahahhah
bangsattt lu anjing homo kencing gue lu minum sampe lahap bener bangsattt.”
Suara Andi semakin
keras dan kasar membuat tamu yang masih main game sedikit penasaran dengan
kondisi saat ini dan mengintip sesekali.
Dalam hati Rido Glukkk
glukkk glukkk ahhh seger banget air kencing Andi ahhhh enak banget dikencingin
di depan orang-orang kayak gini, gilaaa sange banget please entot aku Ndi
ahhhh.
Andi “Nungging lu homo
bajingan!!”
Rido langsung nungging
memamerkan boolnya di depan kontol Andi.
Rido “Ahhh ayok bang
ahhh entot aku bang ahhh ssshhh.”
Andi “Bangsatt binal
banget ni homo anjing plakkk plakkk plakkk.”
Blesss kontol Andi
langsung melesak masuk dan mentok di bool Rido.
Rido “Ahhhh bang
ampuuun pelan-pelan bang ahhhh.”
Andi “Gak peduli gue
bangsattt lu cuman alat sex di sini anjing.”
Andi langsung
menjambak Rido dan menggenjot boolnya dengan cepat.
Rido “Ahh ahh ahh
ampuun bang ahhh enak ahh udah ahh gak tahan bang ahh.”
CROOOOOOTTTT CROOOOTTT
CROOOOOOTTTT CROOOOTTT CROOOOOOTTTT
Andi “Bangsatt
ngecrott lu anjing!!”
Rido “Ahhh enak banget
kontolmu bang ahh yahhh ampunn udah aaahh.”
Suara Rido semakin
kencang desahan dan teriakan kenikmatan Rido mengundang pria-pria yang tadi
menggilirnya berkumpul lagi melihat aksi Andi mengagahi Rido dengan bringas.
Budi “Anjing Ndi lu
bringas banget ngentotin homo anjing lu gak nyangka gue.”
Andi “Arghhh bangsattt
gue sange banget bang ahhh anjing ni homo lubangnya enak banget cokk arghhhh.”
CROOOOOOTTTT CROOOOTTT
CROOOOOOTTTT CROOOOTTT CROOOOOOTTTT CROOOOTTT
Andi memuntahkan
pejuhnya cukup banyak di bool Rido.
Andi terus mengentoti
Rido sampai 3 ronde tanpa henti, membuat para penonton di sana geleng-geleng
kagum dengan kejantanan Andi, juga kebinalan Rido yang tak ada habisnya, bahkan
mereka ada yang mulai sange lagi dan menggilir Rido di sisa-sisa tenaga Rido
yang masih menggeliat berlumur pejuh di sana.
Hingga pukul 1 malam
Rido tertidur di dalam warnet, beberapa kontol baru masih menggentotinya. Rido
terbangun dan mendapati seorang pria remaja yang menggenjot kontolnya di bool
Rido.
Rido “Ahhhh kamu siapa
ahhh.”
Anak remaja “Uhh gue
Jason bang tadi liat abang dientot rame-rame dapat giliran terakhir gua hahah.”
Rido “Uhhh becek
banget udh berapa kontol ahhh enak ahhh.”
Jason “Hahah gak tau
bang banyak banget, gue dateng abang udh pingsan dientot trus hahahah.”
Rido “Ahhh ahhh udah
jam 1 malam rupanya, uhh gue lupa harus ngeprint pas foto, bentar yahh.”
Jason “Ahhh aku
temenin bang ahh gue gak mau cabut dulu.”
Rido “Ya udah di dalam
aja sambil entot abang trus, ahh kontolmu gede juga ahhh.”
Jason “Ahahahah ya
udah ayok mana bilik abang tadi?”
Rido menuju biliknya
dengan Jason di belakang Rido terus menggenjot boolnya. Setelah ngeprint pas
fotonya, Rido mematikan komputer dan mencabut flashdisknya, lalu berjalan ke
depan.
Budi dan Andi tertidur
di depan, dan Rido menuju meja mereka, dengan kontol Jason masih terus
menggenjot, Rido membangunkan mereka berdua untuk mengambil pas foto dan membayar
biliknya.
Rido “Ahhh bang ahh
bang Budi ahh bang Andii.”
Budi “Haaa aaahh
anjing lu homo masih dientot juga lu anjing hahahah.”
Andi “Ahahahah anjing
dientot bocil cokk.”
Jason “Hahaha sabar
bang bentar lagi crot nih ahhh anjing enak banget bool lu anget becek plakkk.”
Rido “Ahhhhh yahhh
enak bgt ahh, jadii ahh berapa bang ahh.”
Budi “Hahahah najing
binal banget ni homo bayar warnet sambil dientot, untung dah sepi kalau kagak
digilir lagi lu anjing hahahah.”
Andi “Ahahahhah itu
yang dia pengen pasti hahahah, total jadi 56 ribu.”
Rido merogoh kocek
celana yang dia bawa di tangannya dan membayar segera.
“Nih bang ahhh uhhh
makin kenceng ahhh.”
Jason “Bangsatt gue
mau crot anjing dasar homo binal ahhh.”
CROOOOOOTTTT CROOOOTTT
CROOOOOOTTTT CROOOOTTT
Rido “Ahhhh yahhh enak
ahhh.”
CROOOOOOTTTT CROOOOTTT
CROOOOOOTTTT CROOOOTTT
Keduanya crot di depan
meja kasir warnet, Andi dan Budi sampai tertawa geleng-geleng dengan kelakuan
Rido yang benar-benar binal dan kuat melayani banyak kontol dalam semalam. Setelah
Jason mencabut kontolnya, Rido pun berkemas dan pulang, tak lupa kedipan Budi
dan Andi yang menyuruhnya datang saja kapanpun ke warnet khusus Rido begitu
masuk pintu warnet semua pakaiannya harus dititipkan di kasir. Rido hanya
tersenyum penuh kepuasan lalu pulang

Komentar
Posting Komentar