BAB 8 Pengalaman Binal Rido: Digilir Erman, 2 bocil Pengamen dan 12 Bocil Futsal
Cerita Bab ini terdiri dari 10 part:
Part 1: Kenangan Binal yang Ingin
Diulang
Part 2: Godaan di Pangkas Rambut
Erman
Part 3: Potong Rambut Bugil di
Lorong Pasar
Part 4: Kebrutalan Erman
Part 5: Kepergok Lagi oleh Bocil
Pengamen
Part 6: Diajak Jalan sebagai
Peliharaan Binal
Part 7: Kepergok Sekelompok Bocil
Pemain Futsal
Part 8: Dientot depan bocah bocah
Part 9: Digilir 12
bocil futsal dan 3 bocil pengamen
Part 10: Perjalanan Pulang yang Memalukan
Part 1: Kenangan Binal yang Ingin
Diulang
Sore
itu, Rido terbangun dengan badan telanjang bulat. Jam di samping tempat tidur
menunjukkan pukul 14:15. Cahaya matahari Jakarta yang sudah terik menyusup
lewat gorden tipis apartemennya, menyinari tubuhnya yang telanjang bulat di
atas kasur.
Dia bangun dan bercermin, menyadari rambutnya sudah mulai panjang
dan berantakan. Sore ini dia berniat untuk potong rambut. Teringat kenangan
saat potong rambut di barbershop berujung digilir oleh orang-orang disana, dan
yang paling berkesan diantara mereka saat itu adalah Erman.
Flashback singkat: malam di ruko barbershop, Erman yang tadinya
“normal” berubah jadi predator brutal. Kontol monster 26 cm itu masuk tanpa
ampun, ronde demi ronde, sampai tiga kali crot tanpa lemes.
Rido ingat betul bagaimana dia menangis kesakitan tapi malah minta
lagi, “Ampun bang… gede banget… entot terus bang…”. Setiap tamparan di pantat,
setiap jambakan rambut, setiap hinaan “dasar lonte homo murahan” malah membuat
lubang boolnya semakin basah dan kontolnya berkedut.
Puncaknya saat Erman crot ketiga kalinya di mulutnya, pejuh yang
banyak banget sampai Rido tersedak dan menumpahkannya ke wajah sendiri. Setelah
itu, Erman memeluknya dari belakang sambil kontolnya masih di dalam lubang
Rido, mereka tidur begitu sampai pagi.
Rido bahkan sempat bangun duluan dan menduduki kontol Erman lagi
sebelum akhirnya pulang.
Rido menggeleng-geleng kepala sambil tertawa kecil. “Gila… gue
kangen banget sama kontolnya. Kayaknya enak tuh dibawa pulang ke apartemen,
bisa main sampai puas ahhh.”
Dia berdiri di depan cermin besar kamar. Rambutnya sudah panjang
lagi, bagian samping mulai acak-acakan, poni menutupi mata.
Badannya masih mulus, putih, susunya besar dengan pentil yang
selalu melenting kalau dia sange, pantatnya montok dan kenyal, paha dalamnya
halus tanpa bulu. Hari ini rambutnya harus dipotong, dan pilihan terbaik ya
Erman.
Rido membuka ponsel, scroll kontak WA. Ada nomor barbershop lama
yang disimpan dengan nama “Jaka Barber”. Dia ketik pesan singkat, anonim tanpa
menyebutkan namanya: “Halo bang, rambut gue panjang lagi nih. Erman masih kerja
di situ gak? Mau potong rambut sama dia.”
Tak sampai dua menit, balasan masuk dari nomor Jaka: “Halo bro!
Erman udah gak di sini lagi nih. Dia buka pangkas rambut sendiri sekarang di
Pasar Baru Blok C lorong 7. Buka pagi sampe sore. Langsung kesana aja, dia
pasti seneng ada langganan yang nyari”
Rido langsung senyum lebar. “Mantap, deket juga. Abis potong, gue
ajak ke apartemen aja. Kasian dia kerja sendirian di pasar gitu.”
Dia buru-buru mandi, tapi sengaja gak pakai celana dalam. Pilih
singlet hitam ketat yang menjiplak susunya dan pentilnya jelas terlihat, celana
pendek olahraga abu-abu super pendek.
Sandal jepit, rambut dibiarkan acak-acakan biar keliatan butuh
cukur banget. Sebelum keluar apartemen, Rido bercermin lagi, angkat singlet
sebentar liat perut rata dan garis V selangkangannya mengintip, pas sekali
pikirnya.
“Siap. Potong rambut dulu, trus ngobrol santai. Kalau dia gak mau
ikut ke apartemen, ya… sudah lah,” gumamnya sambil keluar pintu.
Rido naik ojek online menuju pasar, saat ojol itu datang, dia
memandangi Rido lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Ojol “Mau kemana mas?”
Rido “Ke pasar mau belanja”
Ojol “Waduhh ayokk naik”
Rido “Hehe kenapa mas?” sambil naik di jok belakang
Ojol “Pakaiannya kayak mau renang aja mas sexy banget”
Rido “Hahah baru bangun males mandi mas”
Ojol “Oooh hati-hati mas dipasar takut ada yang khilaf hahhahah”
Rido “Hahahah ada ada aja mas ni”
Ojol itu memandangi paha Rido yang semakin terbuka saat duduk
ngangkang di motor. Sampai di pintu pasar yang ramai, Rido turun dan langsung
jadi pusat perhatian.
Pasar sore mulai sepi, tapi masih tergolong ramai. Masih banyak
ibu-ibu belanja, pedagang teriak-teriak, cowok-cowok angkut barang.
Tatapan mereka langsung nempel ke Rido singlet ketatnya bikin
susunya bergoyang pelan tiap langkah, celana pendeknya bikin paha putih
mulusnya kontras banget sama kulit sawo matang orang-orang di sekitar.
“Eh liat tuh bocah, celananya pendek bener, homo kali ya hahah”
bisik dua cowok pedagang sayur sambil nyengir.
Rido pura-pura gak denger, tapi kontolnya mulai berdenyut. Dia
jalan masuk pasar, melewati lapak ikan, daging, sayur setiap lorong, mata
orang-orang ikut bergerak ngikutin pantat montoknya yang bergoyang.
Seorang bapak-bapak umur 40-an sampe berhenti dorong gerobaknya,
matanya melotot liat pentil Rido yang melenting di singlet. “Anjing, cowok kok
kayak cewek gini putih montok amat dek hahahah,” gumam bapak itu keras-keras
sampe Rido denger.
Rido menuju lorong sempit antar ruko no 7 yang terletak di
belakang. Orang lalu-lalang makin banyak: tukang ojek, buruh bangunan, pengamen
kecil.
Tatapan mereka makin vulgar satu buruh muda sampe senggol
temennya, “Njir pantatnya pulen banget, kayak cewek.” Rido deg-degan campur
sange, tapi tetep jalan santai pura-pura cari alamat.
Akhirnya, dia nemu: sebuah “pangkas rambut” ala kadarnya di tengah
lorong terbuka. Kotak perlengkapan kecil, cermin besar bersandar di dinding
ruko, dua kursi plastik merah tanpa pembatas apa-apa.
Lorongnya sempit, orang lewat bisa liat jelas dari depan-belakang.
Dan di situ, Erman lagi duduk santai ngopi, badannya masih kekar jantan, kulit
sawo matang, wajah garang tapi manis.
Part 2: Godaan di Pangkas Rambut
Erman
Rido berjalan pelan di lorong antar ruko yang agak sempit, tangan
kanannya memegang kantong plastik kecil berisi sayur-sayuran segar yang baru
dibelinya di pasar. Tomat, timun, dan seikat sawi sengaja beli sedikit biar
kelihatan kayak“kebetulan lewat” sambil belanja.
Siang hari di Pasar Baru mulai sepi, orang-orang sudah pulang
makan siang, lorong ini kebetulan bukan jalan utama, jadi hanya sesekali ada
kuli angkut barang atau pedagang lewat cepat.
Dia berhenti di depan pangkas rambut sederhana itu. Erman duduk
santai di kursi plastik, main hp sambil ngopi, badannya masih kekar kayakyang
Rido ingat baju kaos oblong ketat menempel di dada dan lengan berotot, celana
jeans lusuh tapi gundukan di selangkangannya tetap kelihatan gede.
Rido pura-pura cuek, angkat suara pelan. “Bang… mau rapiin rambut
bisa?”
Erman angkat kepala, mata langsung melotot. Beberapa detik diam,
lalu dia tersadar kalau dia mengenali orang yang ada didepannya ini. “Anjing…
lu Rido kan? Lonte homo yang gue entot sampe muncrat berkali-kali dulu?
Hahahah… ngapain lu sampe sini?”
Rido pura-pura kaget, pipinya merah tapi mata berbinar. “Hehe… iya
bang… aduh kenapa itu yang diinget sih bang… ahh, ini lagi belanja kebetulan
liat pangkas rambut. Ehhh gak taunya bg Erman… hehe udah gak di barbershop Jaka
lagi bg?”
Erman “Nggak gw udah pindah sini buka sendiri lebih bebas hahah,
anjing lu kemana-mana pakaian selalu gitu ya mancing-mancing minta dientot lu
ya hahahah”
Erman tersenyum nakal, matanya langsung turun ke tubuh Rido singlet
ketat yang menjiplak susu besar, celana super pendek yang bikin paha mulusnya
kelihatan sampai pangkal pahanya. “Ya udah duduk sini a’. Kebetulan siang gini
sepi, lorongnya juga gak terlalu rame jadi gak sumpek.”
Rido duduk di kursi plastik, jantungnya berdegup kencang. Dia
niatnya cuma potong rambut dulu, trus ajak Erman ke apartemen abis ini.
Tapi tatapan Erman yang lapar sudah bikin dia gugup. Celana Rido
semakin terangkat, kontolnya yang setengah ngaceng terjiplak jelas, pahanya
benar-benar menggoda untuk diraba.
Erman ambil kain penutup dari kotak perlengkapan, tapi tiba-tiba
Erman ngide buat ngerjain Rido. “Eh, kainnya lagi kotor nih, nanti kena baju lu
ikut kotor. Buka aja dulu bajunya, baru pake kain ini.”
Rido agak gugup, tapi alasan Erman masuk akal. “Kalau banyak orang
lewat gimana? Tapi ya udah lah, ditutup kain juga kan… daripada baju gue
kotor.”
Dia angkat singlet hitamnya pelan-pelan, membukanya, lalu
meletakkannya di samping. Kini Rido setengah telanjang, susunya besar dan putih
menonjol, pentilnya sudah melenting karena udara siang yang gerah dan tatapan
Erman yang tajam.
Celana pendeknya ketat banget, tanpa sempak, kontolnya mulai
bangun dan mengembung di bagian depan, membentuk tenda kecil yang jelas
terlihat.
Erman nyengir lebar, matanya turun ke selangkangan Rido. “Wah…
kontol lu udah ngaceng dari tadi ya? Buka celananya sekalian aja, biar gak
kotor juga. Sempakan aja lu.”
Rido ragu, pipinya merah padam. “Emm… gak ah bang, malu… nanti
orang lewat liat gimana?”
Erman tertawa pelan, suaranya rendah dan garang. “Nanti abang
kasih kontol deh… hahahah. Buka sekarang. Lu kan lonte binal, kok sok malu.”
Kata-kata itu kayaktombol on. Rido takut, tapi birahinya langsung
naik pesat. Dia selalu gini malu-malu saat akalnya masih jalan, takut ketangkep
petugas atau digebuki massa, tapi justru itu yang bikin dia semakin sange.
Tangan gemetar, dia tarik pinggiran celana pendek ke bawah. Tapi
baru sadar… “Ehh emm bang… aku lupa pakai sempak. Kalau dibuka… telanjang bulat
nih bang. Gini aja lah ya gpp kotor dari pada bugil”
Erman malah semakin garang, matanya menyipit. “Anjing emang lonte
lu ya, gak pernah sempakan. Hmm… justru makin seru. Buka sekarang, bangsat!”
Nada perintah itu bikin Rido gemetar. Dia tarik celananya sampai
ke bawah, melepaskannya ke lantai.
Kini telanjang bulat di lorong jalan pasar yang masih cukup ramai,
kontolnya sudah ngaceng keras, kepalanya memerah dan meneteskan precum
tipis-tipis. Pantat montoknya menempel di kursi plastik yang dingin, paha
mulusnya merapat malu.
Erman ketawa ngakak, suaranya bergema di lorong sepi. “Hahahah…
gak usah sok-sok malu, lu itu lonte binal murahan! Liat nih kontol lu ngaceng
tanpa disentuh, dasar cabul!”
Rido menutup
wajahnya dengan kedua tangan, pipinya panas banget. “Sialan, telanjang di tempat
terbuka gini bikin jantung gue berdegup gila, kontol gue langsung mengeras
sensasi takut ketahuan malah bikin gue basah, pengen buru-buru bawa Erman
pulang dan minta dihajar habis-habisan, gak tahan lagi nih nafsu terkutuk ini…”
Belum sempat Erman kasih kain penutup, ada bapak-bapak kuli
panggul lewat. Dia berhenti sejenak, mata melotot liat Rido telanjang bulat
dengan kontol ngaceng.
“Anjing… nerima cukur jembut juga lu man? Hahahah!”
Erman langsung balas santai sambil nyengir. “Hahah iya pak, ini
lagi cukur jembutnya malah ngaceng hahahah!”
Bapak itu ketawa ngakak. “Lu kocok kali makanya ngaceng! Hahahah…
jangan keterlaluan man hahah!” Dia angkat gerobaknya lagi dan pergi, masih
ketawa-ketawa.
Erman ketawa ngakak sampe pundaknya bergoyang, lalu liat Rido yang
masih nutup muka. “Hahahah anjing… yang bikin malu kontol ngaceng lu, kok muka
lu yang ditutup? Lucu banget sih lu anjing!”
Rido canggung, tapi kontolnya malah berkedut lebih keras. Erman
akhirnya ambil kain penutup, tapi kainnya kekecilan yang biasanya sampai ke
lutut, kain ini hanya menutupi bagian atas saja sampai ke pangkal paha, kain
itu berwarna putih tipis, mencetak jelas bentuk kontol Rido yang lumayan besar,
precumnya jelas membasahi kain diujung kontolnya, biji kontol Rido sedikit
mengintip di tepi kain bagian bawah, siapapun yang melihat akan sadar bahwa
Rido telanjang bulat didalam kain itu.
Rido “Aduh bang ini kainnya kecil banget kontol Rido keliatan
ngejiplak gini nanti ada yang liat gimana bang?”
Erman “Hahhah ya biarin, bodo amat, orang liat lu begini juga lu
malah seneng hahahah, uda gw potong rambut lu dulu, lu diem jgn banyak gerak
ntar makin nongol kontol lu njing hahahah”
Erman mulai ambil gunting dan sisir, sambil tertawa kecil. Rido
duduk diam, tapi badannya panas, napasnya mulai cepat.
Dia tahu ini baru permulaan… dan niatnya ajak Erman ke apartemen
sepertinya akan sulit, Rido berpikir mungkin dia bisa bermain dengan Erman di
wc pasar saja, karena sudah tidak tahan.

Komentar
Posting Komentar