---------------------------------------------------------

-------------------------------------------------------------

BAB 6 Pengalaman Binal Rido: Kebinalan Rido Di Pasar Malam

 


Cerita Bab 6 ini Eksklusif dan terdiri dari 10 Part:

Part 1: Malam yang Membuat Gelisah

Part 2: Dikeroyok di Dalam Tenda

Part 3: Cabul di Keramaian Pasar Malam

Part 4: Di Entot dalam Keramaian

Part 5: Threesome Brutal

Part 6: Jadi anjing binal di pasar malam

Part 7: Binal Total di Tengah Pasar malam

Part 8: Digarap dua bocil sange

Part 9: Digilir Ramai-Ramai

Part 10: Double Fuck sampai pingsan


Part 1: Malam yang Membuat Gelisah

Rido lagi gelisah banget malam itu. Sudah dua hari sejak petualangan liarnya saat jogging kemarin. Apartemen sepi, AC dingin, tapi kontolnya malah tegang terus dari sore. Coli berkali-kali pun sudah tidak terasa nikmat lagi bagi Rido.

Jam 10 malam, Rido berdiri di balkon telanjang bulat sambil rokok. Lampu kota berkelap-kelip, dari kejauhan terlihat kerlap-kerlip pasar malam di pinggir jalan raya. “Ahh... pengen jalan malam nih,” gumam Rido sambil usap-usap kontolnya yang sudah setengah tegang.

Dia masuk kamar, pilih baju yang bikin dia sendiri sange pas ngaca: kaos putih tipis agak transparan yang ketat di dada (puttingnya samar kelihatan), sama celana pendek parasut hitam super ketat yang cuma sampai pangkal paha. Tentu saja tanpa CD biar jendolan kontolnya lebih jelas. Sandal jepit, rambut acak-acakan biar kelihatan lebih imut. “Perfect,” katanya sambil nyengir nakal ke cermin.

Rido keluar apartemen, jalan kaki aja jaraknya cuma 15 menit. Sepanjang jalan, mata-mata orang lewat langsung nempel ke tubuhnya. Motor pelan-pelan, tukang ojek melotot, bahkan ibu-ibu yang lagi belanja malam sampai bisik-bisik. Rido pura-pura gak sadar, tapi dalam hati deg-degan sange. Kontolnya mulai berkedut-kedut di celana ketat.

Sampai di pasar malam, suasana ramai banget. Lampu warna-warni, bau sate, gorengan, jagung bakar. Musik dangdut keras, orang lalu-lalang. Rido jalan pelan, sengaja biar banyak yang notice.

Matanya langsung tertarik ke satu wahana besar di tengah: Ombak Banyu. Bulatan raksasa yang didorong-dorong manual sama lima cowok pekerja tangguh. Mereka berbadan hitam mengkilat keringat, otot lengan dan punggung berurat keras dari dorong seharian, kaos basah menempel di dada bidang. Teriak-teriak “dorong lagi brooo!”

Rido langsung antri sendirian. Di depannya cewek-cewek remaja pada kecentilan, tapi Rido yang paling kelihatan sexy malam itu.

Saat giliran Rido masuk wahana, Bang Dedi ketua timnya, badan paling gede, hitam berotot keras, umur sekitar akhir 20-an langsung nyamperin bantu naikin Rido ke bulatan yang agak tinggi. Tangannya bantu pegang pantat Rido dari bawah, angkat ke atas sambil remas pelan bongkahan kenyal itu.

(Anjing... pantatnya empuk banget njir, mulus putih bening lagi... ini cowok apa cewek sih? Ahh pengen cubit terus nih bokong...) pikir Bang Dedi dalam hati, mata lapar.

Rido duduk di pinggir bulatan, pantat montoknya nongol keluar dari celah besi pembatas tercetak bulat sempurna di celana pendek ketat, bahkan sedikit mengintip kulit putih mulusnya. Lima pekerja itu langsung notice, saling pandang nyengir nakal.

Wahana mulai muter. Kelima pekerja mendorong dengan perkasa. Saat Bang Dedi mendorong tepat di belakang Rido, Dedi memperhatikan pantat yang sempat dipegangnya barusan. Dengan senyum mesum, Dedi memegang pantat Rido, meremasnya sambil mendorong wahana itu.

(Waduhh... kenyal... pantatnya kenyal njir, pengen remes terus... ahhh anjing lah...) suara hati Bang Dedi.

Pekerja kedua dorong dari bawah tempat Rido tangan pegang besi tapi sengaja nepuk pantat Rido pelan, bahkan sempat meremas sebentar.

(Anjir pantatnya montok bener, pulen... ini mah minta digrepe kali... anjiing anjiing...) pikir pekerja kedua.

Pekerja ketiga dorong dari samping tangan “bantu” pegang pinggang ramping Rido, tangannya naik ke susu montok yang menjiplak di kaos tipis, bahkan sempat elus putting yang mulai mengeras.

(Susu gede njir... puttingnya keliatan tegang... ini cowok kok kayak gini sih, bikin sange aja... pengen kenyot nih...)

Pekerja keempat dorong dari belakang tangan masuk ke dalam bangku memegang paha Rido, jari hampir nyentuh selangkangan.

(Paha mulus banget cokk... anjing pengen gw jilat bangsatt...)

Pekerja kelima dari bawah tangan pegang kaki Rido, usap betis mulus sampai paha, diremasnya paha Rido sambil mendorong wahana.

(Anjing... ini cowok apa cewek, mulus banget kulitnya anjing, bening putih ahhh...)

Rido cuma mendesah kecil, kontolnya berkedut-kedut lebih kuat, setengah tegang bikin celana pendeknya mengembung sedikit. Dia merasa aneh dengan pekerja di situ yang seolah sengaja menyentuh tubuhnya.

Wahana selesai, Rido mau turun. Tapi kaos tipisnya nyangkut kuat di besi tajam criiittt! Reflek Rido berpegangan dengan bangku yang tadi dia duduki, kakinya tidak sampai ke tanah.

Rido “ahh!” teriak kecil kaget, tangannya bergelantungan panik.

Lima pekerja itu langsung reflek nyamperin Rido yang masih seorang belum turun. Mereka berlima mengelilingi Rido dan memegangi tubuh Rido agar tidak jatuh.

Bang Dedi pegang pinggang sambil remas pantat lagi, “hati-hati mas, sini abang pegang!”

Pekerja kedua pegang paha dalam, jari usap selangkangan yang sudah mengembung setengah ngaceng.

Pekerja ketiga pegang kaki dan betis, usap-usap kaki mulusnya.

Pekerja keempat dan kelima satu pegang dada dan satu lagi megangi kaos yang sedang tersangkut.

(Anjing... susu montok banget... pengen kenyot sekarang...) pikir yang pegang dada.

(Paha sama pantat ini pulen abis... malam ini harus digarap nih...) pikir yang lain.

Akhirnya Rido turun aman, tapi kaosnya robek lebar banget susu kanan kiri kebuka hampir full, putting melenting, jendolan kontol setengah ngaceng jelas banget di celana pendek ketat.

Rido berdiri bingung, napas agak ngos-ngosan. Dia sadar lima pekerja itu pada ngeliatin dia dengan mata lapar banget, gak berkedip, nyengir-nyengir nakal. Mereka saling pandang, seperti lagi bisik-bisik dalam hati.

(Gilaaa... susu montok pink gini... putting tegang njir, kayak cewek haus dientot...) pikir Bang Dedi.

(Badan mulus bening... pengen grepe semua bagiannya...) pikir yang lain-lain.

Rido baru sadar pas liat ke bawah kaosnya robek lebar banget, susu kanan kiri kebuka hampir full, puttingnya tegang keliatan jelas. Wajahnya merah, reflek tutup dada dengan tangan, tapi kontolnya malah kedut lebih kuat.

Bang Dedi nyengir lebar. “Maaf ya mas, kaosnya robek parah itu sampai keluar-keluar susunya hahahah.”

Rido “ahhh ii...”

Dedi “ayok mas ke belakang aja, sy ada sarung buat nutupin susu montoknya hahahah.”

Rido sange, kontolnya ngaceng mendapat komentar vulgar dari Dedi bersamaan tatapan dari para pekerja yang kelaparan melihat susu montoknya.

Dedi “ayok mas, udah kalian lanjutin wahananya, gw nolongin mas-mas ini dulu.”

Pekerja kedua “nolongin apa nolongin bos hahahah.” Mereka berempat tertawa sama-sama memahami maksud si bos. Bagi mereka sudah biasa mengentoti homo atau waria, yang penting lubang.

*** part 2 sampai 10 bisa di akses di LYNK ID, klik Link: https://lynk.id/sancasado

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Gangbang Bocil bocil sepak bola (Spin Off Diperbudak Junior)

Diperbudak junior

BAB 11 pengalaman Binal Rido: Kurir Paket, COD sex dulu