---------------------------------------------------------

-------------------------------------------------------------

BAB 10 Pengalaman Binal Rido: Jadi Penari Pemuas Nafsu

 


Cerita ini terdiri dari 10 part:

PART 1: Awal Yg Binal Di Toko Baju

PART 2: Interview dan Teman Baru

PART 3: Menari di Kos Panas

PART 4: Dimas Gak Kuat

PART 5: Latihan Bertiga?

PART 6: Latihan Privat yang Binal

PART 7: Latihan yang Membongkar Semuanya

PART 8: Gangbang Di Pendopo

PART 9: Penari Telanjang

PART 10: Penari Pemuas Nafsu


PART 1: Awal Yg Binal Di Toko Baju

Rido sudah mendaftar salah satu komunitas tari untuk mengisi kegiatanya yg mulai membosankan, agar tidak selalu ngentot pikirnya. Yang aneh, sanggar ini baru berdiri dua bulan lalu, dan ini perekrutan pertama mereka. Yang lebih aneh lagi, mereka hanya mencari 30 penari pria, tanpa satu pun perempuan. Alasan resmi? “Fokus pada tari tari maskulin, Rido mengangkat bahu. Siapa peduli, yang penting ada aktivitas baru.

Syarat pendaftarannya juga tidak biasa. Selain CV singkat dan video demo gerak dasar, mereka minta foto telanjang dari depan dan belakang “untuk penilaian fisik dan proporsi tubuh yang seimbang dengan kostum tradisional”. Privasi dijamin, katanya, foto hanya dilihat oleh tim inti dan akan dihapus setelah seleksi. Bagi Rido, ini bukan masalah besar. Dia sudah terbiasa telanjang di depan orang banyak bahkan kadang dalam situasi yang jauh lebih liar daripada sekadar foto. Jadi, dengan santai dia mengirim foto foto itu dan menunggu.

Tak disangka, seminggu kemudian panggilan interview datang via WhatsApp. Alamatnya di sebuah gang kecil di pinggiran kota, cukup jauh dari pusat keramaian. Instruksi tambahannya jelas, “Datanglah mengenakan pakaian tradisional agar kami bisa menilai jiwa kebudayaan” Rido tersenyum kecil. “Oke, challenge accepted.”

Dia langsung menuju toko pakaian tradisional terdekat yang terkenal murah dan lengkap. Tokohnya bernama “Toko Pak Hari” bangunan tua dengan etalase penuh kain jarik, beskap, surjan, dan aksesoris kepala. Di dalam, aroma kayu cendana dan kain baru bercampur dengan bau minyak kayu putih samar samar. Beberapa pembeli sedang memilih kain, tapi suasananya tenang, tidak terlalu ramai.

Rido berkeliling sebentar, mencari yang simpel. Pakaian tradisional biasanya berlapis lapis, panas, dan ribet tidak cocok untuk wawancara yang mungkin hanya sebentar. Akhirnya matanya tertuju pada set Gatot Kaca versi sederhana, jarik motif polos cokelat tua untuk bagian bawah, dan rompi tipis tanpa lengan dari kain beludru hitam yang ringan. Tidak ada kain kepala rumit atau aksesoris berat lainnya. “Ini saja,” pikirnya. “Cukup gagah, tapi tidak bikin gerah.”

Dia mendekati pemilik toko, seorang pria paruh baya berbadan tegap dengan kumis tebal dan senyum ramah. Namanya Pak Hari, sesuai tulisan di plang toko. “Mau yang ini, Pak. Bisa tolong pasang sekalian? Saya buru buru.”

Pak Hari mengangguk antusias. “Bisa, Mas. Mari ke belakang sebentar, biar lebih leluasa mengukur dan melilit jariknya.”

Mereka berjalan ke ruang belakang toko sebuah area semi tertutup yang dipisahkan oleh tumpukan tinggi kain dan etalase kaca besar berisi aksesoris, blangkon, keris miniatur, gelang gelang perak. Dari luar, orang yang sedang melihat lihat di toko depan hampir tidak bisa melihat ke dalam kecuali benar benar mendekat dan mengintip. Ada juga sebuah cermin besar berdiri di sudut, memantulkan cahaya lampu kuning redup.

“Baik, Mas. Buka bajunya dulu ya, sekalian celananya biar pas melilit jariknya. Supaya tidak kepanasan nanti,” kata Pak Hari sambil mengeluarkan jarik dari rak.

“Oke, Pak,” jawab Rido santai. Dia melepas kausnya, memperlihatkan tubuh atas yang putih mulus, dada montok dengan puting cokelat muda yang sudah sedikit mengeras karena AC toko yang dingin. Pak Hari menatapnya lama, matanya seperti tertarik oleh sesuatu yang tak terucapkan. Ada kilatan aneh di tatapannya bukan sekadar penilaian profesional.

Saat Rido hendak membuka resleting celana jeans panjangnya, dia baru sadar sesuatu. “Eh… maaf, Pak. Saya lupa pakai celana dalam tadi. Gak apa apa, ya?”

Mata Pak Hari langsung melebar, tapi bibirnya malah membentuk senyum lebar yang sulit disembunyikan. “Gak apa apa, Mas. Santai saja. Bapak sudah biasa kok, hehehe. Lagipula, di sini aman. Dari luar juga gak kelihatan kalau gak bener bener ngintip.”

Rido ragu sebentar, tapi akhirnya memberanikan diri. Dia menurunkan celananya, lalu celana dalam yang memang tidak ada. Sekarang dia telanjang bulat di depan cermin dan Pak Hari. Tubuhnya proporsional, kulitnya halus, dan kemaluannya yang sedang lembek tergantung bebas. Rido buru buru menutupinya dengan tangan, wajahnya mulai memanas. “Cepat dipakaikan jariknya aja, Pak. Malu nih.”

Pak Hari tersenyum nakal, mendekat sambil memegang jarik. “Sabar, Mas. Harus pas, biar tidak melorot nanti.” Dia pura pura mengukur dengan tangan, tapi jari jarinya sengaja menyentuh pinggang Rido, lalu turun ke sisi pinggul, bahkan sedikit menyenggol bokong yang kencang. Sentuhan itu ringan, tapi cukup membuat bulu kuduk Rido berdiri. Kontolnya mulai bereaksi perlahan mengeras karena gesekan dan tatapan intens Pak Hari.

Pak Hari jongkok tepat di depan Rido, mulai melilitkan jarik dari pinggang. Tapi seolah olah sengaja, dia “salah ukur” beberapa kali. Jarik ditarik ulang, tangannya menyentuh paha dalam, pinggul, bahkan sesekali menyenggol batang kemaluan Rido yang semakin tegang. Rido menggigit bibir, mencoba menahan desahan. Wajahnya merah padam. Kontolnya sekarang sudah berdiri tegak, kepalanya merah mengkilap, dan setetes precum mulai menetes.

“Loh, kok ngaceng, Mas? Hahaha, baperan banget sih,” goda Pak Hari sambil tertawa kecil.

“Ma maaf, Pak… tadi kena gesek jarik sama tangan Bapak… jadi agak… aneh,” jawab Rido tergagap, matanya menghindari kontak.

“Anak muda sekarang sangean banget ya. Disentuh bapak bapak aja langsung ngaceng. Hahaha,” sahut Pak Hari sambil terus melilit, tapi gerakannya semakin lambat dan sengaja. Jarik sengaja disenggolkan ke batang kemaluan Rido berkali kali, membuat Rido mendesah pelan. “Ahh… Pak…”

“Tahan dong, Mas. Cabul banget sih,” kata Pak Hari sambil menepuk ringan kepala kontol Rido. Plak!

“Ahh! Pak… jangan… uhh,” Rido menggelinjang, tubuhnya gemetar.

“Hahaha, aduh kalau gini terus susah nih lilit jariknya. Biar Bapak bantu lemesin dulu ya, Mas?”

“Hah? Em… terserah aja, Pak,” balas Rido, suaranya hampir bergetar karena gairah yang sudah memuncak.

Tanpa basa basi lagi, Pak Hari berdiri, memeluk Rido dari belakang, tangan kanannya langsung menggenggam batang kemaluan Rido yang keras. Dia mengocok perlahan tapi ritmis, sementara tangan kirinya meremas dada Rido, memilin puting yang sudah melenting. Rido mendesah keras, kepalanya terdongak ke belakang. “Ahhh… Pak… jangan gini… ahh… sshh… malu, Pak… ahh…”

“Malu malu tapi ngaceng. Dasar cabul,” bisik Pak Hari di telinga Rido sambil mempercepat kocokan.

“Ahhh… Pak… mau crot… ahh… sshh…” Rido menggeliat, pinggulnya maju mundur mengikuti irama tangan.

Tiba tiba tangan Pak Hari lepas begitu saja. Rido terkejut, tubuhnya gemetar karena diambang klimaks tapi ditahan. “Nanggung banget,” keluhnya dalam hati, malah semakin horny.

Pak Hari mundur sedikit, membuka celananya sendiri. Kontolnya tidak terlalu besar, tapi keras dan tegang. Dia mencengkeram pinggang Rido, meludahi telapak tangannya, lalu mengolesi lubang belakang Rido. Tanpa peringatan, dia mendorong masuk. Bless!

“Ahhh! Pak… kenapa… dientot… ahh… sshh!” Rido menjerit pelan, tapi tubuhnya justru menyambut.

“Hahaha, dasar cabul. Lu sendiri yang bikin gue sange, anjing,” geram Pak Hari sambil mulai menggenjot. Gerakannya cepat dan dalam, tangan kanannya kembali mengocok kontol Rido.

Rido tidak tahan lagi. Tubuhnya menegang, lalu menyemprotkan cairan putih tebal ke lantai. Tak lama kemudian, Pak Hari mengerang keras dan menyemprotkan di dalam Rido. Panas, penuh, dan lengket.

Kontol Rido tetap keras, belum puas sepenuhnya. Seperti biasa dia memang hypersexual. Pak Hari, yang sepertinya sudah paham tipe seperti Rido, hanya tersenyum. “Masih kuat ya? Sabar dulu.” Dia menekan kontol Rido ke atas agar menempel di perut, lalu melilitkan jarik dengan cepat tapi rapi. Jarik hanya satu lapis, tanpa celana dalam sama sekali. Setiap gerakan akan membuat kain itu bergesekan langsung dengan kulit sensitif Rido.

Sekarang Rido sudah “siap”, rompi tipis yang memperlihatkan bentuk dada montok dan puting yang masih tegang, jarik cokelat tua yang menutupi tapi jelas sekali benjolan di depan jika dilihat teliti. Napasnya masih terengah engah, precum masih menetes samar samar di balik kain.

“Sudah selesai, Mas. Silakan ke kasir untuk bayar. Mau dilepas atau langsung pakai begini?” tanya Pak Hari sambil mengedip.

“Langsung pakai aja, Pak. Biar tidak ribet pasang lagi nanti,” jawab Rido, suaranya masih serak.

“Hahaha, siap! Enak banget lubang bolomu, Mas. Kapan kapan mampir lagi ya,” kata Pak Hari sambil menepuk bokong Rido pelan.

“Hah? Em… iya, Pak. Saya pamit dulu,” balas Rido cepat, wajahnya panas.

Dia membayar di kasir depan tangan sedikit gemetar lalu berjalan ke mobil. Baru saat duduk di kursi pengemudi, dia sadar sepenuhnya, dia tidak memakai celana dalam sama sekali di bawah jarik. Setiap hembus angin atau gesekan kain akan terasa langsung. Dan dia harus pergi ke tempat interview dengan kondisi begini.

Rido menyalakan mesin mobil, menarik napas dalam. “Bukankah ini terlalu cabul?” gumamnya pada cermin spion, tapi senyum kecil muncul di bibirnya. Entah kenapa, sensasi itu justru membuat darahnya kembali berdesir. Dia menginjak gas, menuju alamat sanggar dengan tubuh yang masih panas dan kontol yang belum sepenuhnya tenang di balik jarik tipis itu. 

*** Akses Cerita lengkapnya di LYNK ID, klik link: https://lynk.id/sancasado

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Gangbang Bocil bocil sepak bola (Spin Off Diperbudak Junior)

Diperbudak junior

BAB 11 pengalaman Binal Rido: Kurir Paket, COD sex dulu