Ayah Binal: Dominasi Sang Anak
Part 1: Kejutan di Dapur
Jerry mendorong pintu depan dengan bahu yang masih pegal setelah
gym. Biasanya dia langsung mandi, tapi hari ini rumah terasa terlalu sepi.
Sampai suara itu terdengar. Teriakan tertahan, napas tersengal, dan tamparan
keras yang menggema dari dapur.
Jantungnya langsung berdegup kencang. Dia lari. Sepatu ketsnya
berderit di lantai marmer. Lalu berhenti di ambang pintu dapur seperti
ditampar.
Fajar, anak tirinya yang berusia 18 tahun, berdiri di belakang
Mbak Puput. Celana boxer Fajar melorot sampai lutut. Tangan kirinya meremas
dada pembantu itu dengan kasar. Sementara tangan kanannya sibuk mengarahkan
sesuatu yang… besar. Sangat besar.
Urat-urat tebal menonjol di sepanjang batangnya yang gelap.
Panjangnya hampir menyentuh paha Puput yang gemetar. Bahkan dari jarak ini,
Jerry bisa melihat betapa tegang dan berdenyutnya benda itu. Jauh melampaui apa
yang pernah dia bayangkan atau miliki sendiri.
Puput menangis tersedu. Dasternya tersingkap tinggi. Memeknya
sudah merah karena usaha Fajar yang tergesa-gesa.
Puput “Tolong…”
Jerry “FAJAR!!!”
Suara Jerry lebih tinggi dari biasanya. Fajar menoleh cepat.
Wajahnya yang tampan dan sangar itu bergetar ketakutan. Dia tidak menyangka
ayahnya pulang secepat ini. Dan memergokinya sedang memperkosa pembantu.
Fajar buru-buru menarik celana naik. Benda itu masih menonjol
jelas. Membentuk tonjolan tebal di kain boxer yang tipis. Bahkan setelah
tertutup, bentuknya tetap terlihat panjang, tebal, dan… mengancam.
Jerry merasa napasnya tersendat. Lima tahun lalu, dia menikah
dengan Siska hanya karena tekanan orang tua. Dan karena dia butuh “topeng”
sempurna untuk menyembunyikan hasrat aslinya.
Siska, janda cantik yang masih terluka oleh mantan suaminya yang
selingkuh, memilih Jerry karena status. Karena wajah dan tubuhnya yang seperti
model. Tapi di balik kemesraan pura-pura itu, ranjang mereka selalu dingin.
Jerry baik-baik saja dengan itu. Dia tetap menganggap Fajar
sebagai anaknya sendiri. Meski selama ini Jerry tidak terlalu memperhatikan
Fajar. Hubungan pernikahannya dengan Siska memang tidak didasari ketulusan.
Terlebih lagi, ukuran kontol Jerry yang kecil membuat Siska tak
pernah puas. Dan Jerry sendiri tak pernah benar-benar ingin.
Dia lebih sering membayangkan laki-laki kasar yang merendahkannya.
Yang memenuhi lubangnya dengan kekuatan yang dia tak punya. Selama ini, dia
menganggap Fajar seperti anak sendiri. Karena dia pikir masalahnya dengan Siska
tidak ada hubungannya dengan Fajar.
Jerry memang memberi kebebasan. Dan tak pernah benar-benar
memperhatikan bagaimana bocah itu tumbuh jadi pria dewasa. Sampai sekarang dia
melihat anak tirinya sedang berusaha memperkosa pembantu rumah tangganya.
Jerry ‘Anjir… gila… itu tadi
kontol Fajar? Bangsat… gede banget… ahh, gila… gue baru sadar. Selama ini gue
sibuk bisnis, sibuk pura-pura jadi suami baik, sampe gak nyadar kalau anak tiri
gue punya kontol jumbo’
Jerry justru salfok dengan ukuran kontol Fajar dibanding
kelakuannya.
Puput akhirnya berhasil melepaskan diri. Buru-buru merapikan
daster dan lari ke kamar pembantu sambil menangis. Pintu dapur terdengar
dibanting penuh amarah.
Fajar menatap Jerry. Napasnya masih berat. Matanya tajam, tapi ada
sedikit ketakutan di baliknya.
Fajar “Aa… ayah maaf… gue… ini… khilaf yah.”
Jerry tak bisa bicara. Matanya tak bisa lepas dari tonjolan di celana
Fajar. Marah? Ya. Tapi ada sesuatu yang lain. Lebih kuat, lebih panas yang
mulai berdenyut di selangkangannya sendiri.
Jerry membeku. Bingung harus merespons bagaimana. Dia coba
tenangkan diri. Lalu menyuruh Fajar ke kamar dan merenungkan kesalahannya.
Jerry berusaha menenangkan Puput. Dan menyelesaikan masalah ini
agar tidak sampai ke ranah hukum.
Tiga hari kemudian, Jerry masih belum bisa lepas dari bayangan
itu. Dia marah besar pada Fajar. Perilaku memperkosa Mbak Puput benar-benar
membuatnya syok. Apalagi Fajar baru berumur 18 tahun.
Siska tahu kejadian itu. Tapi hanya memarahi sekilas saja, tanpa konsekuensi yang berat, siska memang
sebebas itu dalam pergaulan.
Siska “Fajar sudah dewasa. Yang penting belum ada kejadian fatal.”
Dingin seperti biasa. Jerry akhirnya beri Puput uang pesangon plus
biaya terapi psikolog untuk trauma. Lalu memulangkannya.
Rumah terasa lebih sepi. Tapi pikiran Jerry malah makin panas.
Perusahaan tambangnya kini sudah stabil berkat teknologi dan tim
ahlinya. Jerry jadi sering nganggur. Hari ini, dia memutuskan membersihkan
rumah sendiri.
Sambil menunggu lamaran ART laki-laki baru (dia tak mau risiko
ambil pembantu perempuan lagi), Jerry membuka loker pembantu lalu pergi memilah
cucian di dapur.
Matanya langsung tertarik pada satu sempak hitam bekas Fajar yang
dipakai waktu itu.
Jerry tak bisa menahan diri. Dia mendekatkan kain itu ke
hidungnya. Aroma maskulin pekat menyergap.
Jerry “Uhhh… bau banget…”
Napasnya tersengal. Dia berlutut di depan mesin cuci. Membuka
celananya sendiri.
Tangan kirinya merayap ke belakang. Jari tengah menyusup ke dalam
lubang bool sempit yang sudah lama tak disentuh. Dia colok pelan. Membayangkan
kontol jumbo Fajar memenuhinya.
Jerry “Ahhh… Fajar… ahhh enak banget… entot ayah nak… kontolmu
gede banget… ahh plakkk…”
Jerry menampar pantatnya sendiri sambil mendesah, nungging. Meletakkan sempak fajar di lantai. Tangan kanannya
menggosok kontol kecilnya sendiri.
Jari-jari tangan
kirinya mengobok lubang belakang dengan kasar.
Jerry “Ahhh Fajaar… ahhhh enak banget kontolmu… ayah mau kontolmu…
ahhh sumpah sange…”
Croootttt… croootttt… crooooooooooottt…
Pejuhnya muncrat. Tapi Jerry tak berhenti. Dia jilat sempak itu.
Lap pejuhnya sendiri dengan
sempak itu. Lalu dia simpan
di lemarinya untuk malam bacol.
(Fajar, yang baru pulang sekolah, diam-diam berdiri di ambang
pintu dapur. Matanya melebar. Ayah tirinya pria tinggi atletis yang selama ini
dia hormati sedang nungging sambil coli dan cium sempaknya.)
Fajar ‘Anjing… ayah gue… homo?
Bangsat… sempak bekas gue dijadiin bacol ama dia anjing gak nyangka banget gue
bangsat’
Fajar merasa darahnya mendidih. Bukan marah. Tapi sange. Pantat
Jerry yang semok, putih mulus, bokong montok entotable banget pikirnya.
Dia diam-diam rekam adegan itu dari sudut pintu.
Fajar ‘Gila… selama ini ayah gue
ternyata boti binal… dia bayangin gue ngentotin pantat semoknya ahhh anjing gue
harus gimana cokk…’
Fajar salfok pada pantat itu. Bayangin bisa nampar dan ngentotin
pantat semoknya. Fajar bukan tidak mengerti dunia pelangi. Dia pernah ngentot
banci sekolah karena terlalu sange. Tapi ini beda. Ini ayah tirinya.
Dari hari itu, Fajar kepikiran terus. Pantat Jerry terus
terngiang. Dan dia mulai penasaran. Gimana rasanya kalau dia ngentotin ayahnya
itu?
Part 2: Godaan yang Mulai Panas
Beberapa hari kemudian, lamaran ART laki-laki mulai berdatangan.
Jerry memilih yang paling cepat dan tampak sopan: Yuda, cowok 25 tahun.
Bertubuh ramping tapi berotot tipis. Kulit sawo matang, dan sikapnya tenang.
Yuda mulai kerja hari itu juga. Membersihkan rumah, masak, dan
mengurus kebutuhan sehari-hari. Jerry merasa lega. Setidaknya risiko kejadian
seperti Puput tak akan terulang.
Tapi di balik ketenangan itu, pikiran Jerry masih dipenuhi Fajar.
Hari Minggu tiba. Siska sudah pergi sejak pagi untuk acara
sosialnya. Seperti biasa. Rumah terasa lebih santai. Hanya ada Jerry, Yuda yang
sibuk di dapur, dan Fajar yang memilih stay di rumah. Sesuatu yang jarang
terjadi.
Fajar keluar dari kamarnya. Mengenakan celana boxer longgar
berwarna hitam tanpa celana dalam sama sekali. Atasannya telanjang dada.
Memperlihatkan perut sixpack dan dada bidang yang mulai berbulu halus.
Celana boxer itu longgar. Tapi kontol panjangnya yang lemas sudah
hampir keluar lewat celah di bagian paha kanan. Terlihat jelas bergoyang setiap
langkah.
Fajar memilih bermalas-malasan di rumah saja. Nonton TV sambil
selonjoran di sofa. Kakinya terbuka lebar. Celana boxer naik sedikit. Dan
kontolnya yang besar sempat keluar sedikit dari celah paha kanan.
Dengan santai, Fajar menarik dan membenarkannya ke tengah. Membuat
bentuknya lebih jelas lagi di balik kain tipis.
Jerry berhenti sejenak di ambang pintu ruang keluarga. Matanya
langsung tertarik ke tonjolan itu. Kali ini bahkan lebih terlihat.
Jerry ‘Anjir… si Fajar kenapa
dirumah sih tumben, trus kenapa harus pake boxer doang anjir kontolnya jelas
banget masih lemes aja gede ahhh’
Napasnya tersendat. Dia mencoba berpaling. Tapi kakinya seperti
terpaku. Wajahnya memanas. Pipinya memerah. Tangan yang memegang gelas air
gemetar sedikit.
Jerry “Fajar… lo… eh, lo nggak ke luar hari ini?”
Suara Jerry agak serak. Berusaha terdengar biasa.
Fajar menoleh. Melihat Jerry yang seperti orang salting dan gugup.
Dia baru ingat ayahnya ini boti. Senyum tipis di bibirnya. Senyum yang selama
ini biasa. Tapi kali ini ada sesuatu yang lain di matanya. Penasaran, dan
sedikit nakal.
Fajar ‘Anjir hahah kalau
diliat-liat ayah ini lucu juga ya salting gitu liat gue boxeran doang gini,
matanya itu loh liatin selangkangan gue kayak cewek puber hahah, lucu juga’
Fajar “Enggak lah yah. Males. Di rumah aja santai mager-mageran
enak juga.”
Dia menggeser posisi sedikit. Sengaja membuat celana boxer-nya
semakin naik lagi. Kontolnya bergerak pelan di balik kain.
Fajar “Ayah kenapa? Keliatan gugup gitu mukanya.”
Jerry menelan ludah.
Jerry “Nggak… nggak apa-apa. Cuma… cuaca panas aja.”
Dia buru-buru berbalik. Tapi langkahnya gugup. Hampir menabrak
meja. Hatinya berdegup kencang. Selangkangannya mulai berdenyut.
Jerry ‘Sial… kontolnya gede banget
kecetak jelas masih tidur padahal ahhh sial gak bisa gini, gue pengen banget, ahh gak peduli
lah mau anak sendiri, toh dia anak tiri, lagian siapa suruh punya kontol gede
banget…’
Fajar memperhatikan reaksi itu dengan mata menyipit. Dia tidak
bimbang lagi seperti tiga hari lalu. Sekarang Fajar malah… gemes sama ayahnya
sendiri.
Fajar ‘Ayah gue… beneran boti
binal rupanya hahah, liat gue gini aja udah salah tingkah…’
Fajar merasa ada sesuatu yang aneh di dadanya. Bukan cuma nafsu.
Tapi semacam kepuasan melihat Jerry gelisah karenanya. Dia menyeringai kecil.
Lalu bangkit dari sofa mengejar Jerry yang lagi di dapur.
Fajar “Bentar yah, Fajar mau ambil minum.”
Katanya santai sambil berjalan ke dapur. Sengaja lewat belakang
Jerry. Saat melewati, selangkangannya sengaja ia gesek pelan di bokong Jerry.
Senggolan yang terlihat tak sengaja. Tapi cukup membuat Jerry tersentak.
Jerry berdiri membeku.
Jerry ‘Anjing tadi kontol Fajar
nyentuh pantat gue ya? Ahh masa sih ahh gila gak bisa gini gue anjir, Fajar ini
gak bisa malu dikit apa kontolnya ngejiplak gitu PD banget anjir lah…’
Pikirannya kacau. Yuda di dapur hanya melirik sekilas, perhatianya juga tertuju pada jendolan kontol fajar.
Tak tahu apa yang sedang terjadi. Lalu kembali memotong sayur.
Fajar mengambil gelas. Minum sambil menatap Jerry dari belakang.
Senyumnya melebar.
Fajar ‘Ini baru permulaan…’
Dia kembali ke sofa. Tapi kali ini celana boxer-nya sedikit lebih
rendah. Memperlihatkan garis pinggang dan sedikit rambut halus di bawah pusar.
Kontolnya setengah ngaceng. Keluar sedikit lewat celah celana boxernya.
Jerry melotot melihat pemandangan seksi itu. Hampir menyemburkan
minuman yang sedang diteguk. Salah tingkah lalu buru-buru kabur ke kamarnya.
Pintu ditutup pelan.
Di dalam, dia duduk di tepi kasur. Napas terengah.
Jerry ‘Gila… gue gak bisa gini
terus… tapi… anjir, kontolnya… tadi ngintip ahhh sial mau kontol Fajar ahhh…’
Dia menutup mata. Tapi gambar Fajar dengan celana boxer longgar
itu malah semakin jelas.
Hari-hari berikutnya berlalu dengan ketegangan yang semakin
mendebarkan di rumah. Fajar, setelah merekam adegan Jerry di ruang cuci, merasa
seperti punya rahasia besar. Yang membuatnya semakin berani.
Dia mulai memperhatikan setiap gerak-gerik ayah tirinya. Dan
semakin gemes melihat betapa mudah Jerry tergoda.
Pagi itu, Fajar sengaja keluar kamar hanya pakai sempak. Untuk
melihat reaksi ayahnya. Masalahnya sempak Fajar selalu longgar dan kebesaran
untuk menampung kontolnya yang terlalu besar itu. Hingga ukurannya tidak sesuai
dengan pinggangnya. Membuat sempak itu sedikit turun dan memperlihatkan jembut
tebalnya yang rapi di atas pangkal kontolnya.
Tubuh telanjang dadanya berkeringat tipis setelah push-up pagi.
Membuat otot perutnya terlihat lebih tegas.
Jerry sedang minum kopi di ruang TV saat Fajar lewat. Matanya tak
bisa menahan untuk melirik tonjolan yang bergoyang itu.
Jerry ‘Anjir… Fajar kenapa
sempakan doang? Fuck’
Fajar “Pagi yah. Lo udah sarapan?”
Jerry “Udah, Nak. Lo sendiri? Mau ayah buatin?”
Jerry tersenyum paksa. Tapi suaranya agak gemetar. Matanya terus
memperhatikan tonjolan super di sempak Fajar.
Fajar “Gak usah, Pa. Gue bisa sendiri. Panas ya hari ini? Ayah
kenapa keliatan tegang gitu?”
Jerry “Emm gpp nak, kamu kenapa turun sempakan doang sih? Malu tau
ada Yuda juga loh di sini.”
Fajar “Hehehe lupa yah, udah lah laki semua juga kan.”
Jerry dalam hati ‘Masalahnya
kontolmu kegedean bikin ayah makin sange naaak ahhh bisa gak sih jangan
selengean gini’
Beberapa jam kemudian, Jerry merasa ada yang janggal dari sikap
Fajar. Seperti sengaja memamerkan ukuran kontolnya. Tapi buat apa?
Jerry gak mau ambil pusing. Dia mulai berpikir kalau Fajar di usia
18 tahun udah sampai mau perkosa pembantu, pasti Fajar orangnya hyper parah.
Jerry ‘Apa aku coba
pancing-pancing kali ya, siapa tau dia bisa sange juga sama pantat montoku,
hahah untuk apa aku latihan gym rutin kalau bukan buat godain pria straight
kayak Fajar ini?’
Jerry tidak lagi peduli kalau Fajar itu anak tirinya. Dia
memutuskan untuk memancing Fajar dengan tubuhnya dulu. Melihat reaksinya
seperti apa.
Jerry yang biasanya selalu berpakaian rapi dan tertutup meski di
dalam rumah. Mulai menggatal.
Sore hari Jerry sengaja menghampiri Yuda di bawah untuk memberi
pengarahan kerja lebih lanjut. Dengan mengenakan celana pendek jauh di atas
lutut. Sedikit lebih ketat. Memamerkan bentuk pantat yang benar-benar montok.
Mengenakan singlet seolah-olah baru bangun dari tidur siang.
Jerry ‘Lihat ini, Nak… pantat ayah
lebih montok dari Puput, sini sama ayah aja nak ahhh gila gue binal banget
ngincar anak sendiri ahh sialan bodo amat lah…’
Fajar melotot. Salfok pada bokong yang montok itu sedikit nungging
di meja dapur. Ayah sedang ngobrol dengan Yuda sambil tangannya bersandar di
meja dapur.
Fajar ‘Anjing… ayah kenapa jadi
pake celana pendek sexy gitu, bangsat mau pamer pantat depan
gue apa gimana nih anjing lah gue entot baru tau rasa lu yah…’
Fajar “Ayah lagi olahraga ya? Kok pake baju celana ketat pendek
gini, sexy banget yah hahhah.”
Jerry berbalik. Wajahnya memerah tapi tersenyum.
Jerry “Iya, Nak. Ayah abis olahraga ringan aja di kamar tadi, lu
gak ngaca? Dari kemarin lu boxeran doang lebih parah dari ayah.”
Fajar “Yeeee Fajar mah beda yahh, badan Fajar kan gak montok kayak
ayah hahahah, hati-hati yah, takut ada laki-laki sange liat badan ayah montok
putih mulus gitu, iya gak Yud? Hahah.”
Jerry tersipu malu. Berdebar dan syok. Kata-kata Fajar seperti
memberi kode kalau dia tahu kalau Jerry seorang homo. Jerry berusaha santai
menanggapi candaan anak tirinya itu.
Yuda “Hahah iya sih pak, bapak terlalu sexy nih, tapi sama aja sih
bapak sama anak hahhah.”
Jerry “Tuhh Yuda juga tau, lu yang lebih parah mana itu konn ehh
gak ituu emm ahh udah lah ayah balik dulu.”
Jerry salah tingkah. Hampir keceplosan bahas kontol Fajar yang
bergelantung jelas terjiplak di balik boxer longgarnya.
Fajar “Hahahh ayah ini kenapa sih ngomong gak jelas kayak
malu-malu gitu.”
Yuda “Lagian mas Fajar agak vulgar banget ngomong sama bapak tadi
pasti malu dia mas.”
Fajar “Yeee emang bener kan badan ayah itu terlalu mulus, bahaya
diliat orang hahahah.”
Yuda merasa kedua orang ini sedikit aneh. Dalam hati Yuda
menyutujui apa yang mereka berdua katakan. Yuda juga beberapa kali melirik
tonjolan kontol Fajar. Ukurannya benar-benar besar. Di sisi lain Yuda merasa
tergoda dengan tubuh majikannya, Jerry
yang benar-benar sexy.
Godaan berlanjut sepanjang hari. Sore itu, Fajar pakai boxer ketat
saat duduk di taman belakang. Memakan cemilan, ngopi, sebat. Melihat Jerry yang
sedang merapikan bunga dan tanaman sayur-sayuran yang ia tanam sebagai hobi.
Jerry berlutut sedikit nungging. Membersihkan tanaman dari rumput
liar. Pantatnya mengarah ke Fajar yang sedang duduk ngangkang di kursi taman.
Tonjolannya semakin keras. Malah kini Fajar ngaceng memandangi pantat montok
ayahnya.

Komentar
Posting Komentar