---------------------------------------------------------

-------------------------------------------------------------

Alex di GYM

 


Beberapa minggu setelah kejadian di teras itu, gue dan Dino makin nyaman satu sama lain. Dino kayaknya udah mulai paham banget sama gue yang pemalu tapi gampang sange, dan bisa crot berkali-kali tanpa capek. Dia suka banget ngerjain gue, liat reaksi gue yang malu-malu tapi nurut. Setiap hari, dia cari cara buat tease gue, dan gue... ya ampun, gue ketagihan. Meski mulut gue bilang "jangan", badan gue selalu bilang sebaliknya.

Pagi itu, gue lagi kerja di kamar, fokus coding. Dino masuk tanpa ketok, langsung duduk di pangkuan gue. Badannya hangat, bikin gue langsung gelisah. "Kak, hari ini gue pengen ke gym! Lo nemenin ya? Gue mau olahraga biar badan makin kenceng, biar Kakak makin suka sama aku."

Gue langsung salah tingkah, kontol gue mulai bergerak pelan gara-gara bobotnya di pangkuan. Napas gue pendek, tangan gue gemetar di keyboard. "Din, lu gini aja gue udah suka banget kok, gak usah lah yaa ramai males ah."

Dia senyum jahil, tangannya pelan gesek paha gue dari dalam celana pendek yang gue pakai. Jarinya pelan sentuh ujung kontol gue, bikin gue merinding. "Ayolah, Kak. Boseeen bangeett please.” Muka imutnya membuat gue gak bisa nolak.

Akhirnya gue nurut, meski muka gue merah. Dino pilih baju untuk gue ngegym, dia pilih kaos ketat yang nunjukin dada berotot gue, puting gue samar-samar keliatan karena bahan tipis, sama celana pendek olahraga yang longgar di bagian selangkangan, dia larang aku pakai sempak, kan gila banget.

Bahan celananya tipis banget sampe kontol gue gak ngaceng aja ngejiplak di bawah. "Pakai ini, Kak. Biar angin masuk, enak kan? Gue suka liat bulge lo gini, keliatan gede dan menggiurkan."

Gue liat cermin, muka gue panas kayak terbakar. Celana pendeknya bikin kontol gue yang lagi lemas mulai setengah ngaceng gara-gara sentuhannya tadi, keliatan bentuknya. "Din, ini terlalu pendek. Nanti orang liat. Ganti yuk. Malu banget nih."

Dia ketawa pelan, pegang bahu gue dari belakang, tangannya turun ke dada gue, jarinya pelan puter puting gue dari luar tank top. Sensasinya bikin gue desah kecil tanpa sadar. "Gak usah ganti, Kak. Lo kan pacar gue, gue suka kalau lo gini. Santai aja, nanti gue jaga. Lagian, kalau ngaceng, gue yang tanggung jawab. Gue suka liat lo gini, sexy banget kak.”

Uhh, sial. Puting gue sensitif banget, dia mainin gini bikin sange pelan. Gue malu, tapi gue sange membayangkan mata orang-orang di gym melihat selangkangan gue uhh.

Gymnya di pusat kota, ramai orang pagi-pagi. Semua pengunjung cowok, dari yang berotot gede sampe yang biasa aja, lagi latihan dengan serius. Gue gugup banget pas masuk, orang-orang curi-curi pandang ke gue dan Dino. Gue tarik tank top ke bawah, nutupin dada gue yang keliatan samar. Dino langsung daftar sesi, gue duduk di bangku tunggu, kaki gue gelisah.

Gue ikut Dino ke area beban, jantung gue degup kenceng. Dino suruh gue angkat dumbbell ringan dulu. Pas gue angkat, dia berdiri di belakang, tangannya pegang pinggang gue "buat koreksi postur". Gesekannya pelan, bikin gue deg-degan. "Bagus, Kak. Dorong lebih kuat. Gue pegang ya, biar stabil."

Tangannya turun pelan ke pinggul, gesek kontol gue dari luar celana pendek. Jarinya pelan tekan ujungnya, bikin gue merinding seluruh badan. “Anjir, Din. Di sini ramai. Jangan... please.” Dino gak gubris tetap lanjut gesek-gesek, kontol gue mulai keras membentuk tenda dan plott kontol gue keluar dari celah longgar celana pendek ini. Posisi gue yang menghadap tembok masih aman gak keliatan sama orang-orang di belakang yang lagi fokus ngegym.

Gue coba fokus, angkat dumbbell naik turun, tapi mata gue curi-curi liat orang di sekitar. Ada cowok berotot lagi angkat barbel di belakang, fokus ke cermin. Dino bisik di telinga gue, napasnya hangat. "Kak, lo tegang banget. Santai dong. Gue cuma bantu, tapi kontol lo udah ngaceng nih. Hahah, lucu banget."

Tangannya makin nekat, ngocok ujung kontol gue sambil jempolnya gosok kepalanya. Gue gemetar, dumbbell hampir jatuh. "Din, stop. Malu nih. Orang di sebelah liat gimana?" menutup kontol gue di sebelah menghalangi pandangan dari orang-orang di sebelah.

Dia ketawa kecil, tarik tangan pelan. "Hahahah lagian kontol kok baperan amat sih hahaha, kita treadmill yuk kak.”

Alex menutup kontolnya dan diangkat ke atas ditahan dengan tali kolor celananya agar tidak membentuk tenda seperti sebelumnya, kontolnya masih ngaceng.

Gue napas berat, kontol gue mengeluarkan precum, tapi gak terlalu keliatan karena bahan gelap. Di treadmill, gue jalan pelan, Dino di sebelah. Dia atur kecepatan lebih cepet, lalu tangannya dengan nakal menurunkan celana gue sedikit, jadilah kontol gue mengacung tegak 28 cm mengangguk-angguk seiring gue lari-lari kecil,

“ahh jangan gini din, di belakang ramai orang please jangan”

Dino “hahhah santai kak gue jagain kok” Dino berdiri di samping gue menghadap belakang tangannya mengocok kontol gue sambil gue lari kecil sedikit mendesah tertahan, belahan pantat gue mungkin sedikit terlihat dari belakang.

Gue napas ngos-ngosan, gak cuma karena lari. Keringet gue netes, tank top basah nempel di dada, puting gue keliatan lebih jelas. "Din... jangan di sini. Orang banyak. Gue malu, kontol gue udah ngaceng parah." Anehnya gue gak naikin celana gue dan malah tetap berlari membiarkan Dino melakukan hal-hal bejat yang dia inginkan.

Orang di belakang lagi treadmill juga, cowok tinggi lagi jogging, hanya melihat gue dari belakang yang lari kecil gak beraturan. Tapi ada cowok lain lewat di belakang kami, nyapa Dino santai. "Bro, gymnya ramai ya hari ini."

Dino jawab sambil tangannya masih gerak pelan di celana gue, nutupin dengan badannya sendiri. "Iya, bro. Lagi latihan bareng kakak nih." Cowok itu senyum, liat gue sekilas, tapi gak curiga karena Dino pandai nutupin dengan posisi tubuhnya.

Gue panik, hampir ketahuan, tapi sensasi itu bikin sange gila. Ya ampun, gue sange berat. Malu banget, tapi tangannya enak. Jangan crot sekarang... please

Tapi gue gak tahan. Gerakan ngocoknya pelan tapi tepat, ditambah gue lari kecil bikin kocokan makin intens, jarinya tekan bola peler gue, gue gak tahan lagi dan CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT. Pejuh muncrat ke treadmill, sebagian mengenai celana gue. Gue gigit bibir, pura-pura batuk biar gak desah, langkah gue goyang sedikit. "Anjir, Din... gue... crot."

Dia tarik tangan, senyum puas, lap tangan di handuknya. "Wah, Kakak cepet banget. Tapi kontolnya masih keras nih. Lanjut yuk ke matras yoga, di situ lebih sepi."

Gue gugup, celana gue basah jelas sekarang, bau pejuh samar-samar. Di area yoga, sepi sedikit, cuma dua cowok lagi stretching di pojok. Dino suruh gue plank. Tubuh gue tengkurap seperti push up tapi diam di atas, kontol gue ngacung keluar celana yang kependekan ini menyentuh matras.

Dino duduk di samping gue menutup pandangan dari dua pria di ujung sana, kontol gue dikocok lagi sama Dino, kali ini lebih cepat lebih mirip sedang memerah susu sapi.

Dia pegang kontol gue, ngocok pelan sambil jarinya lumuri pejuh sisa tadi ke kepalanya, bikin licin. Sensasinya gila, dingin dari angin AC. Gue gemetar, lengan gue mulai lemes. "Din, please... nanti ketahuan. Gue malu dinn ahh ssshh”

Cowok di sebelah lagi downward dog, punggungnya ke kami, gak liat. Tapi tiba-tiba dia berdiri, liat ke arah kami sekilas. Gue panik, Dino cepet nutupin dengan handuknya, pura-pura bantu gue stretching. Cowok itu senyum, "Latihan plank ya? Bagus tuh buat core."

Dino jawab santai, "Iya, bro. kakak gue lagi belajar." Cowok itu angguk, balik stretching. Gue hampir ketahuan, tapi aman karena handuk Dino nutupin.

Dino bisik, "Hampir aja, Kak. Tapi lo makin ngaceng nih. Gue suka liat lo gugup gini." Dia lanjut ngocok, kali ini jarinya mainin lubang ujung kontol gue dengan pejuh. Uhhh gila parah udah berapa lama gue gini dikocok dan gak tahan lagi ahhh CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT

Crot kedua dateng cepet, muncrat ke mat yoga. Gue ambruk, pura-pura capek, napas ngos-ngosan. Dino bantu gue bangun, bisik "Bagus, Kak. Lo kuat banget, bisa lagi nih. Celana lo basah banget kena pejuh, hahah."

Gue muka merah, "Din, cukup. Gue capek. Orang tadi hampir liat." Tapi kontol gue masih ngaceng, dan gue tau dia gak bakal berhenti.

Dia ajak ke mesin leg press. Di situ, gue duduk, kaki dorong beban. Dino berdiri di samping, tangannya mainin puting gue pelan, puter dan cubit kecil dari luar tank top "Dorong lebih kuat, Kak. Gue pegang biar semangat"

Sensasi puting gue dicubit bikin gue desah kecil, kontol gue ngaceng lagi untung gue udah kaitin di tali kolor biar gak keluar lewat celah celana lagi. "Din... jangan mainin dada gue. Malu, orang liat puting gue keras gini."

Orang lewat depan kami, cowok berotot nyapa Dino. "Eh, Dino! Lagi latihan ya?" Tangannya Dino masih di tank top gue, nutupin dengan posisi badannya, pura-pura pegang bahu gue.

Dino jawab santai, "Iya, bro. Nemeni kakak gue nih." Cowok itu liat gue, senyum, "hmmm gue liatnya kayak pacar lu din hahahah” Matanya melirik ke celana gue yang basah, kayak sadar sesuatu.

Gue panik, muka gue memerah total. Anjir, dia tau? Malu banget, tapi sensasi dia liat bikin tambah sange.

Dino ketawa pelan, "Hahah, yang tau tau aja lah yaa, hahhah" Cowok itu kaget, tapi senyum, duduk di bangku sebelah, pura-pura angkat beban kecil sambil curi-curi pandang.

Dino lanjut mainin puting gue, cubit lebih keras, sambil tangan satunya gesek kontol gue dari luar celana. "Lihat, Kak? Ada yang nonton. Lo makin sange kan? Dorong beban lebih kuat.”

Gue dorong, tapi fokus hilang. Gugup kontol gue makin ngaceng dan pluuukk kontol gue lepas dari cengkeraman tali kolor langsung membentuk tenda dan keluar lewat celah paha menunjukkan kontol jumbo gue yang ngaceng keras merah basah pejuh.

Cowok itu liat, matanya melebar, tapi gak bilang apa-apa, cuma senyum dan angkat jempol. Gue malu banget, Dino ketawa dan kasih kode sst ke cowok itu, lalu gue lanjutin olahraga, kontol gue naik turun mengikuti gerakan kaki.

Dino mulai iseng lagi ngocok kontol gue kuat dan cepat sampai bunyi plokk plokk plokk, dan gue gak tahan liat cowok di sebelah gue melotot menatap kontol ngaceng gue yang lagi dikocok, dan CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT gue crot lagi di depan Dino dan cowok itu.

Cowok itu geleng-geleng kepala, "Gila, berani banget kalian." Tapi Dino bilang, "hahhaah tipis tipis doang bang ahhahah”

Dino puas, "Hahah, Kakak crot gara-gara ditonton. Seru nih. Istirahat yuk di bench press."

Di bench press, gue telentang, angkat barbel. Kontol gue masih ngaceng tapi seperti tadi gue tahan dengan tali kolor pas telentang tentu kontol gue masih aman, namun dengan sigap Dino langsung pelorotin celana gue sampai mata kaki, gue melotot kaget gila ni anak,

Kondisi emang sepi dan kita di ujung bagian dalam bentuk gedung yang letter L membuat kita seolah ada di ruangan yang berbeda, namun tetap saja ini masih ramai dan orang yang mau main bench press pasti ke arah sini.

Gue pasrah dan segera menyelesaikan hitungan, Dino dengan berani langsung langsung menghisap kontol gue dan dimainkannya lidah di lubang kencing gue terasa benar-benar geli enak sensasi dikulum di tempat umum benar-benar berbeda, ditambah gue telanjang gini uhhh.

Tiba-tiba ada seorang pria datang dari belakang, terlihat dari sana punggung Dino yang berlutut menghadap selangkangan gue, gue panik dan segera menarik celana namun ditahan oleh Dino, semakin panik dan saat cowok itu sampai tepat di belakang Dino gue CRROOOTTTT CRROOOTTTT CRROOOTTTT muncrat lagi, benar-benar sensitif.

Gue taruh barbel, duduk pelan. Celana gue basah parah sekarang, bau pejuh kuat. "Din, gue gak tahan lagi. Pulang yuk. Orang-orang udah curiga kayaknya tatapan mereka aneh ke kita"

Dia geleng kepala, mata berbinar. "Belum, Kak. Gue belum selesai olahraga. Ke ruang bilas yuk, mandi dulu biar segar. Lo butuh bersihin nih bau pejuh."

Gue ikut, kaki lemes, jalan pelan nutupin selangkangan dengan handuk. Ruang bilas gym ini semi-privat, ada shower terbuka tapi ada partisi rendah. Ramai sedikit, tiga cowok lagi mandi, semua laki-laki berotot. Dino pilih spot pojok, tarik gue masuk ke bilik semi-tertutup.

"Kak, lepas baju yuk. Biar gue bilas lo." Dia lepas bajunya sendiri, tubuh montoknya keliatan, pantatnya bulat. Gue malu, tapi nurut, lepas tank top dan celana pendek. Kontol gue masih setengah ngaceng, basah pejuh, puting gue merah gara-gara dicubit tadi.

Air mengalir, Dino sabunin badan gue, tangannya gosok dada gue, mainin puting lagi. "Santai, Kak. Di sini aman, partisinya nutupin." Tapi tangannya langsung pegang kontol gue, ngocok pelan di bawah air, jarinya lumuri sabun ke seluruhnya.

Ada suara cowok di sebelah, ngobrol santai. Gue panik. "Din... jangan... ada orang. Malu banget takut din ahh ssshh"

Dia bisik, "Sst, Kak. Gue suka liat lo gugup gini. Tapi lo kan suka juga, kontolnya udah ngaceng lagi. Gue mainin pelan aja."

Anjir, benar. Malu banget, suara air nutupin, tapi kalau desah gimana? Sensasi shower basah bikin tambah enak.

Cowok sebelah pergi, ruangan sepi sementara. Dino nekat, dorong gue ke dinding. "Kak, gue sange banget liat lo crot berkali-kali. Sekarang gantian, gue pengen ngentot."

Gue gemetar, "Din... di sini? Kalau orang masuk gimana?”

Dia senyum jahil, "Makin seru kan? Santai, Kak asal jangan berisik aman kok." Dino mulai nungging menggoda gue semakin sange, gue yang udah kepalang basah langsung memeluknya dari belakang.

Gue dorong pelan, enak banget. Lubangnya ketat, hangat, air bikin licin. "Uhh, Din... enak. Tapi jangan berisik, takut ketahuan."

Dino "Lebih cepet, Kak. Gue suka ngentot sambil deg-degan gini ahhh”

Suara pintu terbuka, dua cowok masuk mandi di bilik sebelah. Gue berhenti, panik. "Din... stop. Mereka deket."

Tapi dia goyang sendiri, bisik "Lanjut, Kak. Gue tahan biar gak desah”

Sensasi hampir ketahuan bikin gue crot lagi di dalamnya. Gue gigit bahu Dino biar diam, tubuh gue bergetar kuat.

Cowok-cowok itu mandi cepet, ngobrol soal latihan, lalu pergi. Dino ketawa pelan. "Wah, Kakak crot lagi. Giliran gue dong." Tanpa sadar Dino juga sudah crot saat gue entot tadi, benar-benar pengalaman yang mendebarkan, gue takut, malu tapi suka banget ahhh sialan Dino bikin gue makin pengen lebih.

Pulang rumah, gue ambruk di sofa, tubuh gue lemes tapi puas. Dino duduk di pangkuan lagi, mainin puting gue pelan. "Seru kan, Kak? Lo crot 5 kali di Gym hahah. Gue suka ngerjain lo gini, liat lo malu tapi sange terus."

Gue nutup muka, malu tapi senyum kecil. "Jangan lagi, Din. Malu banget, orang-orang tadi pasti ada yang liat." Tapi dalam hati gue justru pengen Dino lebih liar mengeksplore tubuh gue bikin gue crot berkali-kali, seperti saat ini gue ngaceng lagi, benar-benar stok pejuh yang gak ada habis-habisnya.

Dino hanya tertawa dan geleng kepala “kakak cukup nurut dan Dino bakal bikin kakak puas dan semakin cabul hahhah” gue pasrah dan memeluknya lagi dan mengentoti Dino lagi sebagai bayaran atas kejahilannya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Gangbang Bocil bocil sepak bola (Spin Off Diperbudak Junior)

Diperbudak junior

BAB 11 pengalaman Binal Rido: Kurir Paket, COD sex dulu